Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, August 14, 2016

[Nusantara] Chapter 7 - Langkah Pertama

Chapter 7 – Langkah Pertama






[3rd Person Point of View]


<Naaa~ Tuan…>


“Hmmm…”


<Apa Tuan yakin ingin meninggalkan “Itu” begitu saja ?>


“’Itu’ tuh apaan ? gua ga tau…”


Selagi berjalan menyusuri lautan bunga merah dan putih, mereka----Rio dan Nusa yang berada disebelah kiri Rio atau lebih tepatnya melayang disampingnya mencoba untuk memastikan sesuatu… sesuatu yang bahkan mereka berdua coba untuk abaikan…


 <“Itu” yang saya maksud adalah—>

“Aaaaaaaaaa~ ga denger… gua ga dengeee~r… lu ngomong apaaaaa~ Ah !?”


Tanpa melihat kearah “Itu” berada maupun berhenti hanya untuk memastikan, mereka berdua lebih memilih untuk melanjutkan perjalanannya tanpa tergesa-gesa. Selain itu, Rio yang mencoba melupakan fakta  bahwa ia baru saja melihat seorang pengembara tua memakan “Hasil Setor”-an miliknya selagi menangis terharu, namun setelah itu memuntahkannya begitu saja selagi sesuatu layaknya sebuah efek mosaik menghalangi isi perutnya yang keluar bagaikan sebuah sensor yang pada saat itu tepat berada dihadapannya.


Rio tanpa berpikir panjang berpura-pura tidak mendengar apa yang dimaksud dengan kata “Itu” dan dengan sepenuh hatinya menolak untuk mengetahui hal tersebut—


 “oh iya… Oi  ! gua masih punya [Mana] apa ngga ?”


<[Mana] ? tentu saja Tuan masih punya dan jumlahnya bukanlah sebuah hal untuk ditertawakan>


“Maksud lu ?”


<Singkatnya saat ini [Mana] yang Tuan miliki setara dengan 13/4 dari ke-11 hewan suci yang kekuatannya Tuan serap sebelum tiba ditempat ini…>


“Seriusan lu ? banyak amat !?”


Tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Nusa, Rio hanya bisa membuka mulutnya selagi berpikir “Ini sih gua seriusan jadi Cheater”…


<hanya saja…>


“Hmm ?”


Nusa terdiam beberapa saat dan beberapa detik kemudian melanjutkan ucapanya…


<Kapanpun dan dimanapun Tuan berada, tidak aneh jika ke-11 makhluk suci yang Tuan serap kekuatannya akan mencari Tuan untuk mengambil kekuatan mereka yang sudah Tuan serap…>


“…” Mendengar ucapan Nusa, Rio hanya bisa mendengarkan tanpa berbicara sepatah katapun…


“Tapi… bukannya makhluk suci yang dipanggil itu sama saja dengan [Familiar] atau hewan yang sudah terikat kontrak dengan majikannya--[Summoner]… jadi bukannya kalo ga dipanggil mereka ga akan bisa keluar seenaknya, kan ?”


<Walaupun saya tidak tahu dari mana Tuan mempelajari hal seperti itu, bahkan jika Tuan menggunakan [Furia’s Knowledge] sekalipun, hal tersebut tidak terdapat dalam pengetahuan yang berada pada kemampuan itu… namun apa yang Tuan katakan tadi tidak sepenuhnya salah hanya saja kebalikannya…>


“kebalikannya ?”


<dengan kata lain… [Summoner]-nya lah yang terikat kontrak secara sepihak dengan makhluk suci tersebut dan kekuatan yang diberikan oleh makhluk suci sebagai ganti dari harga kontrak itu sendiri adalah ¼ dari kekuatan asli makhluk suci tersebut… beruntungnya, saat Tuan menyerap kekuatan dari ke-11 makhluk suci, Tuan mendapat ½ dari kekuatan asli [Kraken] dan ½ dari kekuatan asli [Sura] dan [Baya]…>


Disaat Rio mulai menemukan kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut, ia pun mendapat sebuah kesimpulan disaat ia sedang memikirkan hal ini… kesimpulan sederhana yang bisa ia tarik begitu saja, dengan kata lain…


“Mampus gua !”


<Maaaa~ tapi untuk saat ini Tuan tenang saja, selama Tuan bisa menyembunyikan kekuatan Tuan dengan benar, mereka semua tidak akan menemukan dimana lokasi Tuan>


“Ah !” mendengar ucapan Nusa, Rio baru saja menyadari sebuah hal sederhana… bahkan karena terlalu sederhana sampai-sampai ia bisa melupakan fakta ini… “Bener juga… asalkan gua ga make [Mana], mereka semua ga akan tau dimana lokasi gua…” selagi tersenyum, Rio terus berjalan tanpa henti menyusuri padang bunga merah dan putih ini.


<ngomong-ngomong Tuan…>


“Hmm ?”


<sebenarnya… tadi Tuan ingin melakukan apa dengan [Mana] Tuan yang masih tersisa…>


Tanpa panjang lebar, Nusa pun segera menanyakan alasan utama mengapa Rio menanyakan soal [Mana] yang ia miliki saat ini—


“kalau gitu…”


Tanpa berpikir panjang, Rio segera berlari kembali menuju sungai yang berada sekitar 40 meter dari tempatnya berada saat ini—


“[Create] !


Sambungan, Air, Regulasi, bersih, berulang


Setelah melapalkan mantra [Create], Rio membayangkan 5 buah kata untuk mendeskripsikan apa yang ingin dia buat lalu tidak lama setelah itu…


Frink (Sambungan) à Waz (Air) à Regour (Regulasi) à Cren (Bersih) à Roop (Berulang) = Roop Waz Fred Magic (Lingkaran sihir Air berulang)


Sama seperti sebelumnya, walaupun ia tidak tahu apa dan bahasa apa yang ia ucapkan, Rio tetap melafalkan tulisan demi tulisan yang muncul begitu saja didepan matanya dan yang anehnya adalah fakta bahwa ia mengerti setiap kata yang ia lafalkan.


Sesaat setelah Rio selesai melafalkan mantra yang dimunculkan oleh [Create], ia melihat sebuah lingkaran sihir terbentuk di samping kanan aliran sungai atau lebih tepatnya berada tepat disebelah kanan aliran sungai yang berada dibawah jembatan tempat ia berdiri saat ini.


seketika ia melihat tangannya yang masih bersinar, ia pun mengambil kembali jamban atau bilik toilet yang telah ia kecilkan menggunakan mantra [Resize] dari dalam Shoulder Bag miliknya dan meletakkan jarinya di bawah jamban yang saat ini berukuran layaknya sebuah miniature berukuran 3 – 5 cm dan setelah itu ia juga meletakkan jarinya pada Sprinkle Toilet atau alat penyemprot air yang khusus digunakan dalam toilet—


Frua (Selesai)


Setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut, Rio sekali lagi menggunakan mantra [Resize] pada jamban ditangan kanannya dan sesaat jamban tersebut kembali keukurannya yang semula, hal pertama yang Rio lakukan adalah… menekan tombol pada Jamban lalu menarik pelatuk pada Sprinkle Toilet dan hal yang terjadi berikutnya adalah—


“berhasil… gua berhasil… akhirnya… gua bisa bilas di jamban tanpa perlu takut kekuarangan air…”


<Tuan…>


Selagi Rio mengepalkan kedua tangannya dan melakukan gerakan refleks yang menunjukkan suatu keberhasilan, Nusa hanya bisa memanggil Tuannya dengan nada mengasihani. Tentu saja Rio mengabaikan hal tersebut.


Setelah mengecilkan kembali ukuran jamban kebentuk miniatur—


<karena saat ini Tuan kembali lagi ke tempat ini, apa mungkin Tuan berubah pikiran tentang membawa “Itu” bersama Tuan ?>


“ap-!?”


Rio yang hampir saja benar-benar melupakan keberadaan “Itu” beberapa saat lalu, dipaksa untuk mengingatnya kembali oleh pertanyaan Nusa…


“…”


<>


Melihat kearah dimana “Itu” berada—


“Hooooeeeeeek… haaaa~… haaaa~… haaaa~…”


Apa yang mereka dapatkan hanyalah sebuah pemandangan dimana “Itu”, yang beberapa saat lalu kehilangan kesadarannya, kembali mengulangi hal yang ia lakukan sejak tadi. Hanya saja, jika dibandingkan dengan kelakuannya beberapa saat lalu, apa yang dilakukan oleh “Itu” saat ini bagaikan seorang masokis atau orang yang senang saat disiksa… terlebih lagi desahan napasnya benar-benar membuat mereka berdua kehabisa kata-kata… “kenapa harus mendesah ?” setidaknya itulah apa yang ingin mereka berdua pertanyakan…


“Oiiiiii !!! ini kakek satu udah ga waras apa emang semua orang yang ada di tempat ini ga waras semuanya !”


<Tuan sabar… ini Cuma imajinasi Tuan saja…>


Menolak pemandangan yang dilihat oleh mereka berdua, tanpa pikir panjang—


“Ogah gua ngajak ini orang !”


<>


Tanpa bisa membantah lagi apa yang Rio katakan, Nusa hanya bisa terdiam membisu…


Walaupun tidak menunjukkan dalam kata-katanya, Nusa yang awalnya mulai mempertanyakan sisi kemanusiaan Rio saat ini mulai berubah pikiran menjadi <apakah ‘Itu’ sendiri memerlukan kehangatan seorang manusia ?>… dan tanpa sadar sejak awal Nusa sendiri sudah menolak keberadaan “Itu” sebagai seorang manusia…


“Akhirnya… haaaa~… haaaa~ …lagi… berikan lagi… haaaa~… haaaa~… wahai pohon Arg Gruf… haaaa~… haaaa~…”


<!>


Mendengar perkataan dari “Itu” yang menyebutkan nama dari pohon legendaris [Arg Gruf], Nusa pun tanpa sadar merasa bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan dan akhirnya mencoba kembali untuk mengajak Rio untuk membawanya kembali ke desa. Sedangkan Rio sendiri yang mendengarnya… hanya mengabaikannya dan mulai merasa bahwa semakin lama ia melihatnya, semakin mesum pula orang tua itu bertindak… walaupun mesum yang ia pikirkan adalah sesuatu yang tidak berbau seksual melainkan seperti ada sesuatu yang salah diotak milik “Itu” sendiri.


<Tuan Gawat !>


“Hmm ? Apanya yang Gawat ? diliat juga gua udah tau kalo otak tuh orang udah gawat ! jangan bilang lu juga mau ikutan, gitu !?”


<Bukan begitu Tuan… walaupun saya bingung bagaimana menjelaskannya, tapi sepertinya yang membuat “Itu” salah paham sehingga menyebabkannya berada pada kondisi Seperti ini adalah…………………………………………………………………… Kita, Tuan !>


“Oi ! Oi ! Oi ! apa maksud lu !? kenapa dia yang mesum, gua yang harus bertanggung jawab !? terus apa-apaan sama jeda omongan lu barusan, Ha !? sama sekali ga meyakinkan !!!”


<Lupakan soal jeda, intinya yang ngebuat “Itu” salah paham itu kita Tuan !>


“Dari tadi salah paham ! salah paham ! apanya yang salah paham !? otak lu kali salah pasang !”


<Bukan begitu Tuan… soalnya…>


“Soalnya apa ha !?”


Karena sudah tidak sabar lagi, Rio mulai mendesak Nusa untuk memberitahunya mengapa ia yang harus bertanggung jawab soal kemesuman yang “Itu” lakukan. Nusa yang kebingunganpun mulai terbatah-batah tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya…


<Kalau Itu…>


“…” Rio terdiam melihat tingkah laku dari Nusa yang sepertinya mulai mencari-cari alasan selagi memasang pandangan yang menunjukkan bahwa ia mencurigai Nusa.


“jangan bilang… lu yang salah terus lu lagi nyari alasan buat nyalahin gua sekalian, gitu ? biar lu ga disalahin sendirian, gitu ?”


<!>


<Gawat…> itulah satu-satunya hal yang bisa Nusa pikirkan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Rio. Layaknya sebuah Darts yang dilemparkan lalu mengenai titik tengah… Nusa pun mulai terdiam mencari alasan untuk membantah apa yang Rio katakan—


<Ah Benar Juga !............................................................ Tuan ! Sebenarnya kesalah pahaman yang terjadi disini adalah karena…>


“…”


Mendengar ucapan Nusa yang bahkan sama sekali tidak meyakinkan, Rio hanya bisa terdiam mencurigai Nusa selagi menunggu kata selanjutnya dari Nusa—


< Pohon [Arg Gruf] yang dia maksud bukanlah pohon yang ini, Tuan !>


“…”


Suara air sungai yang mengalir dan saling bersimfoni dengan tarian daun yang saling bersentuhan satu sama lain mengisi keheningan yang terjadi diantara mereka berdua… 

Sunday, August 7, 2016

[Nusantara] Chapter 6 - Penjelasan

Chapter 6 – Penjelasan






[3rd Person Point of View]


“Jadi… Sekarang gua harus apa ?”


<Pertama…>


Memecah keheningan akibat pemandangan “Baru” yang mereka berdua lihat beberapa saat lalu, Rio menanyakan arah tujuan mereka selanjutnya. Baginya yang menjadi korban pemaksaan Nusa, ia memiliki hak untuk menanyakan hal ini.


<…Kita harus menuju ke wilayah [Kekaisaran Mangaka Sinanoide]>


“[Kekaisaran Mangaka Sinanoide] ?”

Sedikit kebingungan, Rio pun akhirnya hanya bisa mengulang kembali nama wilayah yang akan mereka tuju saat ini. Melihat reaksi Rio, akhirnya Nusa pun melanjutkan kembali omongannya...


<Tuan ini sebenernya bodoh ya ?>


“Oi ! Apa maksud lu sialan bilang gua bodoh !? Ha !”


<Tuan masih belum Sadar juga ?>


“Ha !?”


Kebingungan oleh ucapan Nusa, Rio hanya dapat bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.


<Haaa~ biar saya kasih tahu Tuan… coba perhatikan kata [Sinanoide] pada nama wilayah yang akan kita tuju, Seandainya Tuan masih kebingungan, silakan Tuan coba tulis ditanah menggunakan ranting kecil yang berada didekat kaki Tuan>


Karena Rio masih kebingungan akan ucapan Nusa, ia pun akhirnya mengikuti saran dari Nusa dan mengambil ranting kecil yang berada di sebelah kanan kakinya. Saat ini Rio sedang duduk tepat dibawah pohon berdaun biru dan ungu. Setelah itu, ia mencoba untuk menulis ulang kata [Sinanoide] pada permukaan tanah.


<Sekarang coba Tuan Tulis huruf alphabet itu satu persatu dan setiap alphabet yang Tuan tulis hapuslah alphabet yang berada didalam kata [Sinanoide]>


Mendengar perkataan Nusa, Rio hanya bisa mengangguk patuh dan mengikuti perintah Nusa tahap demi tahap.


“…[I],[A]… ini kan !”


<Apakah sekarang Tuan Sudah paham apa yang akan kita lakukan saat ini ?>


“iya… tapi… ini kan ? Serius lu ?”


Disaat kebingungan karena ia menemukan fakta mengejutkan mengenai hal yang akan ia lakukan, Rio hanya bisa membuka lalu menutup kembali mulutnya layaknya seekor ikan tanpa air.


<Jika Tuan masih tidak percaya, silahkan Semtuh saya lalu katakan—>


“[Open Map] !”


Diikutinya saran Nusa, ia pun melapalkan mantra [Open Map]. Seperti namanya, kemampuan ini membuat sebuah peta wilayah berbentuk 3 dimensi. Namun, apa yang muncul dihadapannya adalah—


“Pan…gea ?”


<Seperti yang diharapkan dari mahasiswa Jurusan sejarah tingkat 2>


“…”


“Kok si Sialan tau jurusan gua sih ?” itulah yang sebenarnya ingin ia ucapkan namun ia merubah pikirannya. Menurutnya hal yang lebih penting saat ini adalah kenapa ia bisa kembali hingga ke masa dimana benua pertama didunia----[Pangea] ini pernah berada. Selain itu, hal yang membuatnya tidak habis pikir adalah bagaimana bisa nama tempat yang sangat penting baginya bisa terhubung dengan [Pangea].


“Tung-tunggu sebentar, kalau begitu… se-sebelum lebih jauh lagi, pertama coba tolong jelasin mengapa gua bisa ngegunain Sihir atau [Magic]”


<Kalau soal itu…>


Nusa mulai menjelaskan alasan mengapa Rio bisa menggunakan [Magic]. Semuanya bermula dari “Kontrak Jiwa” yang telah dilakukan olehnya. Singkatnya, saat ini Rio bisa menggunakan ke Sembilan elemen sihir dan ke Sembilan elemen tersebut bisa ia gunakan jika ia memiliki [Mana] yang cukup. Selain itu, saat ia menggunakan [Magic] atau sihir, ia akan merasakan panas diseluruh tubuhnya.


<… Oleh karena itu, saat ini [Mana] milik Tuan hanya tinggal tersisa setengahnya karena biarpun Tuan sudah melakukan “Kontrak Jiwa” pada dasarnya Tuan Tetap saja bukanlah penghuni asli dari Zaman ini sehingga [Mana] milik Tuan tidak akan terisi kembali dengan sendirinya>


“la-lalu gimana caranya gua ngisi [Mana] kalo udah abis ?”


Mendengar penjelasan layaknya sebuah Game, Rio hanya bisa tercengang namun disisi lain baginya hal ini lebih mudah dipahimi dibandingkan dengan penjelasan dengan cara yang lebih normal.


<Kalau Soal itu, Apakah Tuan ingat mengenai kemampuan [Absorb] yang saat itu tuan gunakan untuk menghentikan serangan [Magic] milik musuh ?>


“Ah !”


Nusa menjelaskan dengan cara yang sangat mudah untuk dipahami oleh Rio.


<Itu adalah salah satu kekuatan yang Saya miliki namun saat ini Tuan juga bisa menggunakannya karena Tuan sudah melakukan “Kontrak Jiwa” selain itu kemampuan ini juga tidak memerlukan [Mana] sama sekali… sebaliknya, Tuan akan mendapatkan [Mana] dengan cara menyerap kemampuan musuh dan serangan [Magic] musuh akan dikonversikan oleh kemampuan itu untuk menjadikannya [Mana] milik Tuan>


Mendengar penjelasan dari Nusa, Rio pun mulai berpikir bahwa saat ini ia benar-benar melakukan sebuah Cheat dalam kehidupan nyata, mungkin lebih tepatnya didunia yang bahkan bisa dikatakan jauh berada dimasa lalu.


<Namun…>


Disaat ia berpikir mengenai dirinya yang layaknya seorang Cheater ini, Nusa melanjutkan omongannya dengan nada yang semakin berat.


<…Layaknya pedang bermata dua, kemampuan Tuan yang didapatkan dari “Kontrak Jiwa” ini hanyalah sebatas berguna untuk menghadapi serangan dari sesama [Magic User], Dengan kata lain—>


“—gua ga berdaya ngelawan orang yang ngegunain serangan tipe fisik, gitu ?”


<Seperti itulah, namun tenang saja… selama Tuan memiliki [Mana] yang cukup tuan bisa menggunakan kemampuan dari jenis dan tipe apapun itu untuk melawan [Physical User]>


“Dengan kata lain, gua bisa aja ngegunain [Create] selama gua punya persediaan [Mana] yang cukup, gitu ?”


<Benar, Selain itu juga Tuan masih memiliki kemampuan lain seperti…>


Nusa pun kembali menjelaskan kemampuan lainnya yang bisa digunakan oleh Rio tanpa memerlukan [Mana] sekalipun. Kemampuan yang bisa Rio gunakan secara Cuma-Cuma atau ia menyebutnya dengan [Free Skill] antara lain [Absorb], [Create], [Nature’s Eyes], [Open Map], [Copy], [Cut], [Paste], [Upgrade], [Magic Barier], [Direct Talk], [Resize], [Magic’ Cancel], [Magic’s Erase], [Aura Setting], dan [Furia’s Knowledge].


“Oi ! dari semua yang lu sebutin, rata-rata gua tau gunanya semua, Cuma [Furia Knowledge] tuh apaan ?”


<Ah ! kalau soal itu, kata [Furia] sendiri berasal dari bahasa [Harya] dari kata [Furiakorufra] artinya Tanah Megah atau Daratan Induk,  singkatnya benua yang selama ini kalian sebut dengan [Pangea] dulu mempunyai nama asli yaitu—>


“[Furia], terus artinya gua secara ga langsung punya semua pengetahuan yang berada di [Furia] ini gara-gara kemampuan [Furia’s Knowledge], gitu maksud lu?”


<Kurang lebihnya apa yang Tuan katakan itu benar… namun, lebih tepatnya kemampuan yang Tuan dapatkan dari [Furia’s Knowledge] sendiri hanyalah pengetahuan umum saja… singkatnya pengetahuan yang bahkan anak SMP saja tahu>


Setelah memastikan beberapa hal yang menurutnya penting, Rio pun memastikan hal yang sejak tadi mengganjal di hatinya sejak pertama kali ia tiba di tempat yang mereka sebut dengan [Furia] ini.


“Naaa~ jujur aja dari kemaren gua penasaran, kenapa dari semua nama sama kata yang gua denger kebanyakan pake bahasa inggris ?”


<Aaaa~ kalau soal itu, sebenarnya hanya untuk memudahkan Tuan untuk mengerti saja soalnya kalau pakai bahasa Indonesia sedikit gimana~ gitu>


“Oiiiii~ sekarang juga lu minta maaf ke semua orang di Indonesia !!!”


Setelah rasa ingin tahunya hilang, Rio pun melanjutkan pertanyaannya—


“Terus kalo gitu, gimana caranya gua bisa ngerubah sejarah itu sendiri ?”


<Kalau Soal itu… jujur saja saya juga tidak terlalu paham karena Tugas yang saya terima sejak saya diciptakan hanyalah untuk mencari orang dari masa depan untuk merubah masa depan itu sendiri>


“Gimana bilangnya ya… orang yang nyiptain lu itu kayanya gak tau diri ya ?”


<>


“Kalo gitu berarti kurang lebih gua bebas ngelakuin apa aja selama sejarahnya bisa berubah, gitu kali ya ?”


Selagi Rio mulai bersiap-siap memasukkan semua barang-barangnya kedalam Shoulder Bag miliknya, Nusa pun melanjutkan ucapannya—


<Tapi satu hal yang saya tahu, Tuan juga memiliki batasan untuk melakukan suatu tindakan dalam merubah sejarah>


“Batasan ?”


<Iya, Pertama… karena Tuan telah melakukan “Kontrak Jiwa” maka dengan kata lain jika Saya hancur maka Tuan juga akan hancur namun Jika Tuan mati maka saya akan kembali ke masa Tuan untuk mencari kandidat lainnya. Kedua… saat ini Jiwa Tuan terhubung dengan dua hal, hal pertama adalah “Kontrak Jiwa” dengan saya dan yang kedua adalah tempat yang menghubungkan Tuan dengan Dunia ini dengan kata lain—>


Sebelum Nusa menyelesaikan kalimatnya, Rio memotong selagi mengalihkan matanya kearah sungai dimana hal kedua tersebut berada—


“—Jamban !”


<…benar dengan kata lain hal kedua yang menghubungkan Tuan dengan dunia ini adalah Bilik Toilet tempat Tuan berada sebelum pergi menuju tempat ini, oleh karena itu jika Tuan kehilangan ataupun Bilik Toilet tersebut hancur maka biarpun Tuan telah selesai mengubah masa depan, Tuan tidak akan pernah bisa kembali ke masa Tuan berada saat ini>


“Serius lu !?” selagi memikirkan hal ini, keringat mengalir deras dari sekujur tubuh Rio, namun setelah ia pikirkan beberapa kali akhirnya ia pun mencapai sebuah kesimpulan—


“Aaaarrrrrgggghhh ! haaaa~… entah kenapa kayanya gua udah ga peduli lagi, lanjutin !”


<Dan yang Terakhir… apapun keadaannya, Tuan tidak boleh memberi tahu misi Tuan ini kepada siapapun karena jika Tuan mengatakannya sekali saja maka saat itu juga “Kontrak Jiwa” yang berada didada Tuan akan mengaktifkan mantra untuk meledakkan Jantung Tuan seketika… setidaknya itu semua larangan yang diberikan kepada Tuan>


“Hmmm~ kalo dipikir-pikir larangannya udah ga aneh juga ya… kalo di inget-inget setiap Film yang temanya ngerubah masa lalu juga pasti larangannya Cuma fokus di yang terakhir itu aja”


Setelah selesai memasukkan seluruh barang bawaannya kedalam Shoulder Bag, Rio pun berdiri dan bersiap untuk berangkat menuju ke [Kekaisaran Mangaka Sinanoide] selagi berkata—


“Kalo udah gini sih sekalian aja…”


<Sekalian ? Apanya yang Sekalian Tuan ?>


“Lu Bodoh ya ? bukannya udah jelas—”


Selagi tersenyum dengan penuh provokasi, Rio pun mendeklarasikan hal ini tanpa rasa ragu sedikit pun dan malah sebaliknya, pandangannya lurus menatap kearah langit—


“—Biar gua rubah semua Sejarah tentang [Kekaisaran Mangaka Sinanoide] ini jadi sebuah Kekaisaran yang akan jadi Pusat dari [Furia]… pusat dari awal peradaban saat ini dan…”


Terdiam sesaat selagi ia----Rio melangkahkan langkah pertamanya dalam merubah sejarah, ia pun melanjutkan ucapannya “…yang pasti Udah jelas Suka-suka gua ngerubahnya 8P”

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close