Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, July 17, 2016

[Nusantara] Chapter 3 - Kontrak Jiwa

                                       Chapter 3 – Kontrak Jiwa



Setelah menjelaskan semuanya secara singkat, dengan tenangnya… atau mungkin aku bisa membayangkan muka tanpa dosa dari si buku dengan suara Om-om Sialan (Nusa) melanjutkan ucapannya tanda ia mengakhiri penjelasannya beberapa saat yang lalu…

<Setidaknya itulah ke-12 makhluk Suci yang hanya bisa saya sebutkan saat ini Tuan>

“Muka lu makhluk Suci ! Apanya yang suci, AH !? AH ! Coba liat ! jelas-jelas yang tadi lu sebutin ada Grim Reaper segala !!! Mau Diliat dari mana juga Grim Reaper aja udah Ga suci !!! Liat !!! itu aura nya aja udah gelap kaya begitu ! ditambah lagi Nyengir tuh mulutnya !!! Nyengir !!! apanya yang “…Bertukar kasih sayang dengan saling menggigit ekor…” diliat darimana juga itu sih udah berantem kaya suami yang selingkuh terus ketawan sama istrinya !!! yang lebih penting lagi itu hewan yang ngebuat nama kota Surabaya kan ya !?...”


Selesai mendengar penjelasan dari Buku dengan suara Om-om Sialan (Nusa), hanya membuatku bertambah kesal… dan tanpa kusadari sekali lagi aku berbicara menimpah omongannya seperti senapan mesin yang sudah terisi penuh oleh peluru…


“…Terus yang terakhir diliat Dari Mana Juga Ayam Kate !!! Jelas-jelas spesies ayam paling beke !!! Tau Ga Beke… Pendek !!! apanya yang “… Mahkota Tanda Kekuasaan yang Mutlak…” Jelas-Jelas Ngeplek Kaya Begitu !!! Ga ada Aura Kekuasaannya sama sekali !!! Ditambah Lagi apanya yang “… Primadona bagi mereka yang sengsara…” bukannya primadona !!! itu sih sama aja kaya lu ngasih anak Ayam buat ikutan ngadu Sabung Ayam !!! Ngerti ga Lu AH !!! Ngeplek dia !!! Pias… Matanya Berkaca-kaca !!! Pengen Kabur !!! Diliat dari mana juga jelas-jelas yang terakhir beda klasemennya !!!  haaa~… haaa~…”




Saat kusadari aku sudah hampir kehabisan napas setelah mengeluarkan seluruh perasaanku yang bahkan aku sendiri sudah tidak mengerti dengan suara keras yang sekali lagi aku yakin bahwa itu sudah melewati level dimana War Cry berada…  apakah aku masih waras atau tidak… itulah pertanyaan yang bahkan saat ini aku ingin ketahui jawabannya…


Sebelum aku menyadarinya… seluruh mata ke-12 Makhluk (yang katanya) suci itu melihat kearahku dan karena kebingungan akhirnya aku bertanya dengan suaraku sedikit bergetar cemas kepada suara yang sejak tadi setia membuatku kesal…


“Oi… buku sialan !”


<Ada apa Tuan ?>


“gua Cuma pengen mastiin doang… kenapa mereka semua ngeliat kesini ?”


<Maksud Tuan Ke-12 Makhluk Suci itu ?>


“Iya… Cepetan ! firasat gua ga enak nih”


<Memangnya saya lupa bilang ya ? ke-12 makhluk Suci itu biarpun mereka dipanggil dengan sihir tingkat tinggi, mereka tetap memiliki pikirannya sendiri, malah saya sedikit merubah pikiran saya terhadap tuan>


“merubah pikiran ? Apa maksud lu merubah pikiran tentang gua?”


Selagi bingung aku kembali bertanya dan setelah itulah aku sadar bahwa apa yang beberapa saat lalu aku tanyakan adalah apa yang akan aku sesali hingga nanti aku bisa keluar dari dunia sialan ini… walaupun itu masih sebuah cerita yang jauh dimasa depan…


<Saya tidak menyangka bahwa Tuan Berani dengan lantang menantang ke-12 makhluk Suci disaat mereka semua sedang berkumpul seperti itu… Saya Akui bahwa Tuan adalah orang paling berani yang pernah saya temui selain orang itu>


Orang itu ? orang itu siapa ? tunggu dulu… ini bukan saatnya mikirin hal yang lain dulu sekarang masalahnya ke-12 makhluk (yang katanya) suci mau nyerang Toilet gua sekarang ? kalo itu beneran terjadi…


Selagi memikirkan hal tersebut aku akhirnya menyadari satu hal… sebuah fakta yang hampir saja aku lupakan… fakta dimana bahwa aku, Rio Reynaldi berumur 19 tahun Seorang Mahasiswa Jones (dibaca : Jomblo Ngenes), saat ini sedang berada di sebuah tempat yang bahkan aku sendiri tidak tahu dimana… sebuah tempat yang sepertinya akan mengalami sebuah krisis besar… dan juga sebuah tempat dimana… sihir itu ada…


“Mati Gua !!!”


Setelah aku menyadari kesalahan yang telah kuperbuat, aku bingung harus melakukan apalagi… jujur saja saat ini saking paniknya aku tidak bisa memikirkan hal apapun. Aku merasa bahwa kerja saraf otakku mulai terhambat oleh beberapa pikiran yang selalu menghasut aku untuk mengatakan… “Tamat Sudah Riwayatku didalam Toilet ini tanpa bisa cebok sekalipun T.T”


<Tuan, Bukannya ini saat yang bagus untuk lari>


“Lari ? apa maksud lu “…untuk lari” ? apa lu ga liat… ah sudah lupakan ! Pusing gua ngurusinnya”


<tenang saja tuan, biarpun saya tidak bisa melihat apa yang tuan lihat… setidaknya saya masih bisa untuk merasakan apa yang tuan rasakan>


“kenapa lu tiba-tiba ngomong begitu ? udah nyerah bukan lu ? biar gua kasih tau lu satu hal, kalo gua disuruh buat mati atau kabur dari sini udah jelas jawaban gua…”


<Jawaban tuan ? bukankah itu sudah pasti kabur ?>


“Dasar naïf lu ! bukannya udah jelas jawabannya… gua lebih milih mati disini sekalian ! lagi pula udah ga punya harga diri gua Boker ditengah medan perang kaya gini ! gua sendiri aja udah ga yakin kalo gua masih waras apa ngga…”


Selagi tersenyum pahit menanggapi pertanyaan Si buku Sialan, aku merasakan tatapan dengan penuh niat membunuh. Walaupun aku hanya mengetahui hal seperti ini dari komik ataupun novel yang pernah kubaca biasanya aku hanya menanggapinya dengan “mana bisa ngerasain tatapan kaya gitu” namun mulai detik ini… saat ini… di momen paling krusial dalam hidupku ini, aku merasakan tatapan yang mungkin bisa aku artikan mempunyai niat membunuh didalamnya.


Tatapan yang aku yakini bahkan dapat membuat orang pingsan sekalipun… tatapan dimana aku merasakan seluruh tenagaku terkuras seketika… tatapan dimana aku merasa tidak berdaya… tatapan dimana… aku mulai bertanya-tanya “Apa ini sudah waktunya ? bahkan Grim Reaper saja sudah siap ditempat ? T.T” dan tentu saja tatapan dengan penuh niat membunuh ini aku rasakan langsung tepat dari atasku… mungkin lebih tepatnya adalah tempat dimana ke-12 makhluk suci itu berasal. namun disaat aku sudah putus asa suara sialan yang sejak tadi terus menghinggapi pikiranku tiba-tiba saja mengeluarkan beberapa kata layaknya seorang dewa penyelamat… walaupun tetap saja masih terdengar seperti suara om-om genit…


<Kalau Begitu apakah tuan ingin mati sebelum bisa melakukan apa-apa ?>


“…”


“Jangan Bodoh ! lu pikir gua mau mati kaya gitu !”… setidaknya itulah yang ingin aku katakan namun sayangnya… tubuh dan pikiranku saat ini saling berkontradiksi satu sama lain. Dan disaat itulah… sekali lagi dengan suara yang berbeda dari sebelumnya, Nusa, Si buku dengan suara om-om Sialan itu menawarkan sesuatu yang benar-benar tidak terbayangkan olehku…


<Kalau seandainya tuan, tidak ingin mati sebelum melakukan apa-apa, Saya mempunyai penawaran untuk Tuan saat ini>


“Penawaran ? Mati ? Jangan Bodoh ! bukannya gua udah bilang kalo gua ga mau mati sebelum gua bisa Nikah !”


<Kalau begitu pertanyaan terakhir dari saya…>


[Auman dari arah langit]


Selagi dia mencoba untuk melanjutkan kalimatnya tanpa memikirkan keadaan disekitarku, tiba-tiba saja ke-12 makhluk suci yang sejak tadi memperhatikanku seperti sebuah mangsa akhirnya mulai hilang kesabarannya dan mulai bersiap untuk menyerangku kecuali… Ayam Kate yang sepertinya hanya memperhatikanku saja tanpa melakukan sedikitpun pergerakan… dan disaat itulah Suara sialan itu melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus…


<… Apakah Tuan Bersedia untuk merubah Sejarah ?>


Mendengar pertanyaan itu untuk ketiga kalinya benar-benar membuatku kesal… namun dari nada suara yang ia berikan tidak terasa sedikitpun getaran atau keraguan didalamnya… oleh karena itu aku, Rio Reynaldi, memutuskan pilihan terbesarku saat ini… pilihan dimana tidak ada jalan untuk kembali… pilihan dimana yang akan membuatku mengalami berbagai macam pertemuan dan perpisahan… pilihan yang akan membuatku berusaha sekuat tenaga untuk berjuang… pilihan yang membuatku… selamat dari keadaan genting yang akan aku hadapi mulai dari saat ini…


Setidaknya itulah yang aku pikirkan selagi melihat langit dengan tubuh terduduk lemas di atas kursi toilet ini selagi isi perutku keluar tanpa henti sejak beberapa saat yang lalu melihat pemandangan dimana setiap makhluk suci terkecuali si bungsu, Ayam Kate, mencoba untuk menyerangku dengan serangan berskala besar… setidaknya cukup besar untuk menghancurkan sebuah benua ditempatku berasal…


“Oi… Buku Sialan ! jujur aja gua udah lumayan kesel sama lu tapi kayanya gua udah gapunya pilihan lagi… kalo begitu jawaban gua buat pertanyaan terakhir lu…”


Selagi aku menyaksikan pemandangan indah yang terasa bagaikan sebuah pemandangan terakhir yang akan aku lihat dimana seluruh sihir berskala besar dengan berbagai bentuk, warna, dan bahkan mungkin aura intimidasi yang sejak sekitar 5 menit yang lalu membuat medan pertempuran disekitarku terdiam sunyi. Kuambil napas dalam-dalam dan memantapkan senyuman penuh provokasi dan disaat seluruh area benar-benar sunyi kuteriakkan jawabanku… jawaban yang bahkan membuatku ragu apakah aku yakin untuk menjawabnya atau tidak…


“… GUA SIH YEEEEAAAAAAHHHHHHH !!!


Disaat suaraku menggema, untuk ketiga kalinya aku merasa telah berhasil untuk menggetarkan seluruh medan pertempuran bahkan aku sendiri sempat tidak yakin bahwa akulah yang meneriakkan hal itu dengan lantangnya didalam situasi antara hidup dan mati ini. Dan disaat yang bersamaan dengan dengan ucapan selanjutnya dari si buku sialan, Nusa, ke-11 makhluk suci selain Ayam Kate, secara serentak mengarahkan serangan berskala besar tepat kearah dimana aku berada dan menurut perkiraan kasarku seluruh serangan itu akan mengenaiku dalam hitungan kurang dari 20 detik...


<Kalau Tuan sudah setuju, silahkan letakkan tangan Tuan diatas tubuh saya dan katakan kontrak sesuai yang saya ucapakan tentu saja dengan darah Tuan, setelah itu Tuan cukup mengikuti apa yang saya katakan saja… apa Tuan mengerti ?>


“Udah cepetan! Jangan Banyak Omong !”


Dan selagi aku berkejar-kejaran melawan waktu, tanpa basa-basi aku mengikuti apa yang dikatakan oleh Si buku Sialan, Nusa…


[19… 18…]


“Oh Tanah yang menjadi dasar segala kehidupan…”


Permukaan tanah disekitar tempatku berada sedikit demi sedikit terasa bergetar


[17… 16…]


“Hancurkan Belenggu , Ciptakan Raga…”


Aku merasa mendengar suara seperti rantai yang baru saja dilepaskan 


[15… 14…]


“Air yang membasuhi segala Katulistiwa…”


Langit disekitar medan pertempuran berubah menjadi hikam pekat


[13…]


“Hilangkan Derita, Tuangkan Harapan…”


Hujan mulai turun secara perlahan-lahan dan sepertinya air yang mengenai luka tanganku membuat lukanya kembali tertutup


[12…]


Semakin lama firasatku semakin buruk…


“Api sang simbol Kekuatan…”


Aku merasa sesuatu yang panas mengalir didalam darahku


[11…]


“Hancurkan Realita, Ciptakan Ilusi…”


Pemandangan disekitarku terlihat berguncang. Tanah yang sudah kering sejak awal aku melihat kearah luar seketika berubah menjadi sebuah padang bunga berwarna biru emerald yang sangat luas


[10…]


Tanpa melihat kearah asalnya perasaan buruk ini datang, aku mencoba untuk mengabaikannya…


“wahai Angin yang menunjukkan jalan ditengah kekosongan…”


Angin kencang secara tiba-tiba menghembuskan senjata dan pakaian besi yang dipakai oleh para prajurit tanpa membuat prajurit ikut terbawa oleh hembusan angin sejuk yang sangat kencang ini


[9…]


“Hembuskan Dosa, Para Penguasa Tirani”


Satu persatu orang berjatuhan  tanpa sebab… dan mereka yang tetap berdiri adalah mereka yang sepertinya mempunyai raut muka sedih setelah membunuh untuk bertahan hidup


[8…]


“Sesuai Perjanjian dimasa lampau…”


Sebuah sinar kebiruan indah muncul dari arah tangan kiriku


[7…]


Apapun yang terjadi… apapun taruhannya… aku harus bisa keluar dari situasi ini


“Kuberikan Tubuh Ini Sebagai Wadah…”


Aku merasakan rasa sakit pada seluruh anggota badanku… entah apa yang sebenarnya terjadi aku sendiri tidak mengerti namun aku tetap menahan rasa sakit ini selagi menggernyitkan gigiku


[6…]


“Untuk Mengubah Sejarah…”


Darah… kulit… mata… rambut… bahkan dagingku serasa mendidih seketika. Entah apa penyebabnya… secara kasar aku sendiri sudah mempunyai dugaan akan datangnya rasa sakit ini


[5…]


Selesai…


“Kontrak Jiwa !!!”


Dan disaat yang bersamaan sebuah cahaya berwarna biru memasuki aliran darahku dan saat kusadari apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah bentuk bagaikan lingkaran dengan symbol bintang 9 dimana setiap sudutnya terdapat sebuah bintang kecil tertanam di dadaku… tepatnya dijantungku dan disaat itulah aku merasa sesuatu mengalir didalam darahku dan perintah selanjutnya tanpa ragu aku mengikuti arahan yang diberikan oleh Si Sialan itu yang menyuruhku untuk mengatakan Kalimat yang bisa membalikkan keadaanku saat ini…


<Angkatlah Tangan Kanan Tuan Setinggi Mungkin dan Ucapkan Sekeras Mungkin Kalimat...>


[4…]


GUA KEREEE~N !!!


Dan disaat itulah keadaan yang terjadi disekitarku tiba-tiba berbalik dan aku merasakan cahaya harapan semakin lama semakin menjauh selagi gema yang berbunyi… [GUA Keree~n…. Kere~n… Keren… re~n…] terus menggaung tanpa henti disekitar medan pertempuran…

Sunday, July 10, 2016

[Nusantara] Chapter 2 - Nusa

Chapter 2 – Nusa






[Suara panah menembus Bilik Kayu]


“Ap- !? oi… oi… ini Bo…hong kan ?”


[Suara Benda tajam saling beradu]


[Suara Teriakan dan Jeritan Keras Dari Segala Arah]


Oi… oi… oi… ini pasti teknologi 4 dimensi terbaru kan !? atau mungkin… 5 dimensi !? siapa saja tolong katakan “iya, benar!” dong Oi… !

Jujur saja saat ini aku tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat tepat didepan mataku ini. Ribuan… tidak mungkin lebih tepatnya ratusan ribu orang disekelilingku saat ini sedang memegang berbagai macam benda tajam. Pedang… tombak… sabit… bahkan kapak diayunkan kepada prajurit lainnya. Bagaimanapun aku melihatnya ini adalah situasi perang yang seharusnya tidak akan terjadi di zaman ku.


“Oooo~iiii… lu !!! lu yang nyuruh gua kesini cepet balikin lagi gua ke Perpustakaan !!!”


Perlahan tapi pasti, keringat dingin mengalir deras dari sekujur pori-pori tubuhku. Mataku hanya bisa terbelalak melihat situasi didepanku ini. Berbagai macam benda tajam yang diayunkan kepada prajurit lain mengeluarkan cairan merah setelah mengenai targetnya bagaikan sebuah tomat berwarna merah yang saat kita kepal dengan tenaga akan menyebabkan cairan buahnya menyembur keluar… setidaknya pemandangan seperti itulah yang saat ini tersaji tepat didepan mataku ini. Disaat aku kebingungan sebuah suara keras memasuki pendengaranku…


[Incenerate Flame]


Seketika aku mengalihkan pandanganku menuju arah suara, sebuah pemandangan yang lebih mengejutkan terekam jelas oleh mataku… pemandangan dimana sebuah api besar muncul membelah langit layaknya sebuah naga yang mengusir siapapun yang menghalangi jalannya.


Seriusan nih ? kenapa gua bisa sampe di tengah-tengah perang begini ?


Selagi aku terus bertanya-tanya mengenai situasi aneh yang saat ini menimpaku, aku mendengar sebuah suara yang aku sendiri bahkan tidak tahu dari mana arah datangnya… tapi yang jelas suara yang aku dengar saat ini adalah… suara om-om genit…


<Bagaimana Bukankah Ini Keren ?>


“Lu, Lu siapa !? Keren !? Kumis lu Baplang Keren…! Cepet balikin gua ke perpustakaan sekarang juga !”


Mendengar suara yang entah dari mana asalnya dan tiba-tiba menanyakan hal yang tidak jelas… jujur saja hal ini membuatku bertambah kesal. Bagaimana tidak, suara yang entah dari mana datangnya itu menanyakan hal seperti “Bukankah ini keren ?” dengan suara om-om layaknya sedang menggoda gadis SMA ditengah situasi perang.


<Siapa ? Kalau Kau Bertanya Seperti Itu… Saya Juga Bingung Bagaimana Harus Menjawabnya, Tapi Untuk Saat Ini Silahkan Panggil Saya Dengan Sebutan… Nusa>


Suara yang mencoba memperkenalkan diri selagi mencoba bertingkah layaknya orang yang misterius itu menyebut dirinya “Nusa”. Mendengar ia berbicara seperti itu semakin membuatku naik darah hingga rasanya aku bisa merasakan bahwa darahku sudah mencapai suhu 100oC.


“Oi ! gua ga peduli siapa lu ! yang penting cepet balikin gua keperpustakaan sekarang juga !”


<Maaf… Tapi Hal Itu Tidak Bisa Saya Lakukan>


Mendengar jawaban tersebut, membuat mataku terbuka lebar… rasa tidak percaya… Cemas… Kesal… bercampur menjadi satu…


Tch ! tiba-tiba gua ada disini… sekarang ga bisa balik maksudnya apa coba ! Sial !


[Suara panah menembus pintu dan berhenti tepat disamping Telinga]


“Ap- Seriusan eh ! Cepetan ! Cepetan Balikin Gua Ke perpustakaan sekarang juga ! lagi pula lu ngomong dari tadi lewat mana !? Gua Bisa Mati Nih Oi !!!”


Merasa kehidupanku akan segera berakhir setelah melihat panah yang beberapa saat lalu berhenti dan menembus kayu tepat disampingku, aku hanya bisa panic dan berterimakasih akan keberuntunganku selagi menunggu jawaban dari Arah Suara itu datang.


<Saya Berbicara Lewat Mana ? Saya berbicara Kepada Tuan Lewat Telepati…>


“Telepati ! Jangan Bercanda ! Hidup Gua Dipertaruhkan nih ! Tuan… Siapa yang lu Sebut Tuan AH !? AH !?”


<Tuan ya Tuan… Jika Tuan Penasaran, Saya Adalah Buku yang Sejak Tadi Tuan Pegang…>


Mendengar hal itu, membuatku semakin terkejut dan langsung mengalihkan pandanganku menuju buku berwarna Biru Donker yang sejak tadi aku pegang. Dilihat dari manapun ini hanyalah buku dengan Cover berwarna biru donker biasa… itulah yang aku pikirkan sebelumnya namun saat aku melihatnya kembali…


Emangnya dibuku ini tadi ada lambang aneh berbentuk bintang delapan ya ? selain itu                       disampingnya bisa tiba-tiba ada lingkaran ditambah lagi… bukannya garisnya itu terbuat                   dari…Darah ?


Melihat hal itu membuatku pasti bahwa semua keanehan yang aku alami saat ini disebabkan oleh buku sialan ini. Selagi aku tersenyum pahit, mencoba melanjutkan pembicaraan dengan buku… Nusa selagi mencoba bersikap tenang


“Jujur Aja, Gua Penasaran Kalo misalnya Buku Biru Sialan ini gua sobek gimana ya ?”


<Tu-Tunggu Sebentar… Kenapa arah pembicaraan kita jadi berbahaya seperti itu Tuan ?>


“Berbahaya ? Gua pikir Ngga bahaya ko… malah gua tambah penasaran apa jadinya kalo buku Biru Sialan ini gua Robek terus gua bakar…”


<Tuan… Kenapa Saya Merasa Ada Penekanan aneh Dalam Ucapan Tuan, ya ? atau mungkin itu hanyalah perasan saya saja… Saya Pikir Le-lebih baik ki-ki-kita su-sudahi saja Topic mengerikan tentang ini… Bagaimana ?>


SU~DA~HI~… Enak aja Lu ngomong begitu, Biar gua kasih tau satu hal sama lu ya ! dengerin baik-baik ga akan gua ulangi lagi…”


Mendengarnya berbicara untuk mengakhiri pembicaraan mengenai Topik ini, semakin membuatku ingin tertawa keras dan membakar sumber semua masalah yang kualami saat ini… Nusa sang buku dengan cover biru donker yang saat ini sedang kugenggam ditangan kiriku. Sayangnya… aku merasa jika aku melakukan hal itu saat ini… aku akan kehilangan sesuatu yang berharga… hal itu adalah… kewarasan dan harga diriku…


“…Seandainya gua harus Mati… seengganya gua ga mau mati sebelum gua nikah terus punya anak… terlebih lagi… TERLEBIH LAGI…”


Selagi aku berbicara seperti itu, aku mencoba mengingat semua cerita… film… komik… novel… bahkan sejarah para pahlawan sehingga membuat emosiku sulit untuk kubendung dan akhirnya tanpa sadar aku berteriak… aku berteriak sekeras mungkin mengungkapkan apa yang kupikirkan… mengungkapkan perasaan terpendam yang kusimpan dari saat aku tiba disini hingga sekarang… layaknya sebuah senapan mesin aku berbicara tanpa henti selagi berterak sekeras mungkin hingga aku yakin bahwa suaraku menggema keseluruh medan pertempuran… menggema hingga dapat mengalahkan suara yang mungkin bisa kusebut dengan War Cry… menggema hingga… aku tak tahu lagi apa yang aku Teriakkan…


“…MANA SUDI GUA MATI DITENGAH MEDAN PERANG SELAGI YANG LAINNYA MATI SAMBIL MEGANG SENJATA SEDANGKAN GUA MATI SELAGI BOKER !!! AH! DITAMBAH LAGI… DITAMBAH LAGI GUA BAHKAN BELOM SEMPET CEBOK !!! DITENGAH MEDAN PERANG MAU DITARUH DIMANA HARGA DIRI GUA !!! ASALKAN LU TAU AJA DARI SEMUA CERITA YANG ADA GUA BELUM DENGER SATUPUN CERITA DIMANA BOKER MENJADI AJANG PERTARUHAN HIDUP ATAU MATI SIALAN !!! SETIDAKNYA… GUA PENGEN MATI ABIS NIKAH TERUS PUNYA ANAK DASAR SIALAN !!! haa~…haa~…”


Setelah aku selesai berbicara, napasku terengah-engah. Aku merasa semua beban pikiranku telah hilang dan akhirnya aku kembali tenang… setidaknya itulah yang kupikirkan pada awalnya namun… saat kusadari dari lubang dimana anak panah menembus, semua mata prajurit yang berada didepan melihat kearahku… melihat kearahku dengan memasang muka seperti ingin berkata “Don’t Mind” atau “I Know Your Feeling Bro”. jujur saja tatapan seperti ini membuat hatiku merasa sakit mungkin lebih sakit dibandingkan ketika aku dikatai oleh pacarku (calon) bahwa “Semua laki-laki sama saja” hanya karena ia baru saja ditolak oleh laki-laki yang dia suka dan tentu saja saat itu akupun… ditolak bahkan sebelum aku menghampirinya dan dia berkata “maaf lu siapa ya ?”…


<Tuan… Yang sabar ya>


 Anjrit ! perasaan apaan nih ? kenapa rasanya malah jadi tambah ngeselin ya ? ditambah lagi           kenapa si Om-om sialan (Nusa) ini nyoba ngehibur gua ?


Diserang oleh sebuah perasaan tidak karuan didalam hatiku ku, aku merasa bahwa sekarang aku bisa berkata “Sudahlah mati juga tak apa…” walaupun aku berpikir seperti itu tetap saja jauh didalam lubuk hatiku yang paling suci aku masih berharap “Ingin punya pacar dulu”…


[Suara Gemuruh Besar Berasal Tepat Diarah Langit]


Disaat aku mendengar suara tersebut, akhirnya aku kembali kepada kenyataan setelah menerima serangan psikologi yang cukup berat beberapa saat yang lalu. Suara bagaikan auman langit yang mengamuk diatas kayangan membuat seluruh bulu kudukku berdiri. Rasa takut… gelisah… bingung… bersatu sehingga membuat perutku bertambah mulas. Apa yang kulihat saat ini adalah…


***


<Api merah bercampur dengan warna hitam, biru, putih, bahkan emas membentuk wujud  burung, [Eternal Emperor], ˹Phoenix˼>


<Halilintar yang membentuk harimau dengan bulu putih, [Beast Emperor],  ˹Byakko˼>


<Tanah yang bahkan membuat sebuah bentuk menyerupai kura-kura bagaikan legenda cina, [Ruler of the Land], ˹Genbu˼>


<Air membentuk naga berkepala tiga, [Ruler of the Seven Seas], ˹Hydra˼>


<Angin membentuk tiga buah makhluk seperti musang yang membawa sabit namun menyatu dengan ekornya, [Wind Ruler], ˹Kamaitachi˼>


<Bayangan hitam pekat yang membentuk ular berkepala delapan, [Overlord], ˹Orochi˼>


<Tumbuhan yang saling bergabung hingga membentuk sebuah makhluk menyeramkan, [Forest Emperor], ˹Ancient Treant˼>


<Bola-bola yang sepertinya menyerupai arwah para prajurit yang sudah gugur bersatu dan menjadi persembahan untuk sang penguasa kematian, [Soul Emperor],  ˹Grim Reaper˼>


<Air yang menyembur keluar memunculkan monster laut yang awalnya kupikir hanyalah sebuah legenda semata, [Emperor of the Deep Ocean], ˹Kraken˼>


<Seekor Hiu Putih dan Seekor buaya yang besarnya melebihi sang legenda Meganodon yang sedang bertukar kasih sayang selagi menggigit kedua ekor masing-masing, [Absolute Duo], ˹Sura dan Baya˼>


<Dari sebuah lingkaran menyala berbentuk Bintang 9 diatas langit keluar sekelompok Kadal yang tidak kalah besar dari yang lainnya dengan sisik abu-abu hanya saja dengan corak seperti batik dimukanya, [Ancient Emperor Hunter],  ˹Komodo˼>


<Suara yang memekakan telinga, sayap berbulu hitam layaknya gagak, postur tegap jantan yang tidak salah lagi merupakan primadona bagi mereka yang sedang sengsara, mahkota merah tanda kekuasaan yang mutlak dialah sang raja dari kaumnya, [Strongest Emperor], ˹Ayam Kate˼>


***

Sunday, July 3, 2016

[Nusantara] Chapter 1 - Prolog

Chapter 1 – Prolog




[Suara panah menembus Bilik Kayu]


“Ap- !? oi… oi… ini Bo…hong kan ?”


[Suara Benda tajam saling beradu]


[Suara Teriakan dan Jeritan Keras Dari Segala Arah]


Oi… oi… oi… ini pasti teknologi 4 dimensi terbaru kan !? atau mungkin… 5 dimensi !? siapa saja tolong katakan “iya, benar!” dong Oi… !

Jujur saja saat ini aku tidak percaya dengan pemandangan yang kulihat tepat didepan mataku ini. Ribuan… tidak mungkin lebih tepatnya ratusan ribu orang disekelilingku saat ini sedang memegang berbagai macam benda tajam. Pedang… tombak… sabit… bahkan kapak diayunkan kepada prajurit lainnya. Bagaimanapun aku melihatnya ini adalah situasi perang yang seharusnya tidak akan terjadi di zaman ku.


Perlahan tapi pasti, keringat dingin mengalir deras dari sekujur pori-pori tubuhku. Mataku hanya bisa terbelalak melihat situasi didepanku ini. Berbagai macam benda tajam yang diayunkan kepada prajurit lain mengeluarkan cairan merah setelah mengenai targetnya bagaikan sebuah tomat berwarna merah yang saat kita kepal dengan tenaga akan menyebabkan cairan buahnya menyembur keluar… setidaknya pemandangan seperti itulah yang saat ini tersaji tepat didepan mataku. Disaat aku kebingungan, sebuah suara keras memasuki pendengaranku…


[Incenerate Flame]


Seketika aku mengalihkan pandanganku menuju arah suara, sebuah pemandangan yang lebih mengejutkan terekam jelas oleh mataku… pemandangan dimana sebuah api besar muncul membelah langit layaknya sebuah naga yang mengusir siapapun yang menghalangi jalannya. Dan saat itulah aku mulai bertanya-tanya bagaimana bisa aku berada ditempat seperti ini…



***


[1 Jam sebelum kejadian]


“Haa~ kenapa dari semua buku sejarah Nusantara yang ada disini… ga ada yang lengkap ya ? kalo gitu ngapain gua harus jauh-jauh pergi ke perpustakaan nasional di Jakarta ? lagi pula kenapa dari semua undian yang ada malah gua yang dapet tugas harus nyari sejarah Nusantara yang lengkap ?”


Selagi aku, Rio Reynaldi, menelusuri berbagai rak buku yang ada diperpustakaan Nasional terbesar di Indonesia ini, hal yang bisa kulakukan hanyalah menggerutu dan menghela napas. Bagaimana tidak, pasalnya sudah lebih dari 30 menit sejak aku tiba disini, aku belum menemukan petunjuk mengenai buku seperti apa yang harus aku cari. Petunjuk yang aku punya hanyalah “Sejarah Lengkap Nusantara”… lagi pula kalau aku pikir-pikir… bukankah tidak akan ada orang yang mau menuliskan sejarah lengkap secara terkronologi… bukankah itu merepotkan, iya kan ?


[Suara getaran Handphone dari kantung celana bahan]


Mmm…? Dari nenek ?


***


[From : Nenek]


[Aldi hati-hati ya, tadi Nenek liat diberita ada gempa didekat gunung Merapi, 7,8 SR katanya… kamu kalo misalnya ada gempa langsung lari ya Aldi]

***



“Uu~a… lagi-lagi gempa ? udah berapa kali ya di bulan ini ? oh iya… bales dulu aja biar nenek ga khawatir…”

*** 


 [Send to : Nenek]


[iya nek, Aldi pasti langsung ngumpet dibawah meja kok nek :D]



*** 


Selagi menelusuri rak buku sepanjang kurang lebih 5 meter, akhirnya aku menemukan rak dengan tulisan “Bagian Sejarah”. Kuperiksa buku yang berada disitu satu per satu dengan teliti. Selagi aku mencari, aku mengeluarkan sebungkus permen dari saku rompi berwarna biru yang sedang kupakai saat ini.


[Suara membuka bungkus permen ditempat sepi]


Kubuka bungkus permen itu dan segera kumasukan ke dalam mulutku. Rasa asam dari permen ini benar-benar membuatku kembali segar.


“ah !”


Selagi aku memeriksa satu per satu judul buku sejarah yang ada di rak, aku menemukan sebuah buku dengan judul “History of the Lost Kingdom”. karena penasaran, kuambil buku itu. Hal yang membuatku penasaran bukanlah karena judul buku yang menggunakan bahasa asing melainkan karena tulisan “Put Your Blood in the Cover Before You Read !”. buku dengan Cover berwarna biru donker yang penuh dengan debu ini saja sudah membuatku penasaran ditambah lagi dengan petunjuk aneh itu.


Apaan ini ? “Put The Blood”… taruh… tidak… mungkin maksudnya teteskan darah         kali ya ? ada-ada aja…


Selagi aku berpikir seperti itu, aku pun mencoba mengelupas kulit kering disekitar ibu jariku karena penasaran. Bagiku hal ini lebih mudah dibandingkan dengan menggigit ibu jarimu seperti berbagai tokoh utama yang sering muncul di dalam komik… lagi pula ini tidak terlalu menyakitkan dan hanya nyeri sesaat saja.


Sesaat aku berhasil membuat sedikit darah dari samping ibu jariku keluar, ku oleskan darah tersebut di depan Cover buku setelah aku membersihkan debu yang berada disitu dan disaat itulah…


[Suara perut berbunyi]


Aku merasakan rasa sakit didalam perutku. Rasa sakit yang bukan main ini seolah-olah dapat membuat kehidupanku berakhir begitu saja. Tidak salah lagi ini pasti gara-gara…


“Permen… A-A-Asem… ta-ta…di… ugh!”


Tanpa berpikir panjang kusilangkan kakiku segera dan secara reflek ku masukan buku yang kupegang tadi kedalam “Shoulder Bag” yang sejak tadi ada dipunggungku. Untung saja toilet diperpustakaan nasional ini ada di dekat lantai satu jadi aku tidak harus jauh-jauh pergi keluar untuk mencari toilet. Walaupun jaraknya dekat tapi dengan perutku yang semakin lama semakin menghisap tenagaku jarak sekitar 15 meter ini terasa sangat jauh.


Sekitar 3 menit kemudian akhirnya aku sampai didalam toilet dengan dinding berwarna putih dan 3 buah tempat cuci tangan yang ditaruh secara Linear serta 3 buah bilik toilet yang tepat berada disebelah kanannya dengan warna biru muda. Tanpa berpikir panjang aku segera masuk ketoilet paling kanan yang merupakan toilet duduk. Kubuka semua celanaku dan kugantungkan disebelah kiriku bersamaan dengan tas yang sejak tadi ku pakai.


“aaa~h… nikmatnya…”


Setelah aku merasa sedikit lega, kuambil kembali buku yang tadi secara reflek ku masukan kedalam tas.


 Lagi pula siapa sih yang ngebuat buku pake Cover warna biru segala ? bukannya malah terlalu mencolok ya ? ditambah lagi tulisan iseng di Cover-nya… maksudnya apa coba ?


Selagi kuperhatikan Cover buku itu, tidak terjadi hal apapun setelah aku mengoleskan sedikit darahku ke bagian Cover-nya. Ternyata memang Cuma iseng doang ya ?... setidaknya itulah yang kupikirkan.


[Suara getaran dari seluruh arah ruangan]


“ge-gempa ! seriusan nih !”


Namun saat aku mengedipkan mataku, didepan pengelihatanku ada sebuah tulisan dengan kotak berwarna biru layaknya dalam sebuah Game Online saat kita akan melihat pesan pemberitahuan ataupun hasil isi percakapan hanya saja kotak Dialog berwarna biru muda ini sedikit transparan sehingga aku dapat melihat pintu melaluinya…


<Apakah Kamu Ingin Mencoba Mengubah Sejarah ?>


<Iya/Tidak>


“hah ? apaan nih ?”


Selagi aku kebingungan dengan tulisan tersebut, kuayunkan tangan ku beberapa kali dan hasilnya… aku memang tidak bisa menyentuh kotak tersebut dengan tanganku. Karena penasaran akhirnya aku katakan…


“Tidak terima kasih…”


Hal yang membuatku penasaran bukanlah apa yang berada dibalik kata “Iya” melainkan bagaimana reaksinya saat mendengar jawabanku… setidaknya aku yakin dia akan merasa sangat malu.


Tak lama setelah itu… tulisan tersebut menghilang dan berganti dengan yang baru.


<Apakah Kau Yakin Dengan Pilihanmu ?>


<Iya/Tidak>


“Iya… yakin”


Dan setelah itu sama seperti sebelumnya, tulisan itu silih berganti setelah aku memilihnya…


<Apakah Kau Serius ?>


“Iya Serius”


<Tidak Ingin Mencoba Untuk Berubah Pikiran ?>


“Tidak”


<Ini Kesempatan Sekali Seumur Hidup, Apa Kau Yakin ?>


“Iya Yakin”


Semakin lama aku menolak semakin menyebalkan pula pertanyaan yang diajukan. Bagiku semua pertanyaan ini hanyalah terlihat bagaikan seorang Salesman yang sedang menawarkan barang dagangannya.


<Ayolah Tolong Katakan “IYA” Gitu Sekali Saja, “IYA”, Ayo Bilang “IYA”>


“Emangnya lu Pikir Gua Anak TK apa HA!? Mau lu melas-melas sampe guling-guling juga jawaban gua tetep “TIDAK”… ngerti ?”


<Jangan Begitulah… Tolong Sekali Saja Bilang “IYA”, yah… Nanti Dikasih Uang deh>


Uwaaa~ ini yang nanya aja jujur gua gatau siapa ? malah mau nyogok segala lagi…


“Siapa lu !? mau ngasih gua uang !? kayanya kok… lu makin lama makin ngeselin sih !?”


<Makanya Bilang “IYA” sekali aja ya… T.T>


“Ngapain Lu pake emoticon sedih segala Hah !? ga ada efeknya ke gua !?”


Jujur saja… semakin lama pertanyaan yang dibuat semakin memohon. Walaupun maksudnya cukup bilang “IYA”, tapi “IYA” disini adalah “IYA” kalau aku setuju ingin merubah sejarah. Karena terdengar sangat merepotkan makanya lebih baik aku tolak saja…


“Haaaa~… ok gua bilang “IYA” puas lu hah !”


<Nah Gitu Dong… Kalo Begitu… Apakah Kamu->


“Ah ! Kelamaan lu ! udah cepetan… intinya Gua  mah Iya aja !”


Dan disaat aku berkata begitu tiba-tiba tuliskan pada kotak berwarna biru seperti dalam Game tersebut menghilang dan disaat itulah… ketenanganku kembali…


“Sial… apa-apan coba tadi maksudnya… haaa~… lagi pula kenapa bisa ada tulisan kaya gitu ?”


Sama seperti sebelumnya seketika aku mengedipkan mata, akupun menyadari satu hal… walaupun aku masih terduduk di toilet ini, suara sunyi yang berada disekitar bilik toiletku berada beberapa detik yang lalu tiba-tiba menjadi ramai dan seketika itu pula sebuah panah melesat tepat menembus pintu depan bilikku dan sebuah lubang terbentuk tepat dijalur panah itu berasal. Sebuah lubang yang cukup besar untukku dapat melihat kearah luar. Dan begitulah alasan kenapa aku bisa berada pada situasi seperti sekarang ini… situasi dimana aku, Rio Reynaldi, terjebak ditengah-tengah perang kedua belas Negara dan hanya bisa terduduk diatas Toilet tanpa bisa bergerak selagi berharap…


"Semoga Bisa Bilas Dengan Selamat T.T”  

----------------
Note  :

gimana nih Chapter 1 - Prolog-nya [Nusantara] ??

mungkin agak telat Updatenya karena kesalahan Link dalam membaca GMT wkwkwk :P

Tapi diusahakan minggu depan tidak akan salah Updatenya oleh karena itu.... tetap tunggu dan ikuti terus kisah tokoh utama kita, Rio, ya... :D

Salam World2Link...

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close