Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, October 9, 2016

[Nusantara] Chapter 15 – Defeat All The Bandit Underlings

Chapter 15 – Defeat All The Bandit Underlings



            [3rd Person Point of View]

            “…”

            []

            Hutan [Skyp], sebuah hutan yang berada didaerah perbatasan antara [Kekaisaran Mangaka Sinanoide] dan [Kerajaan Lotoregna]. Hutan ini juga dikenal sebagai surga yang menjadi sebuah daerah netral diantara kedua belah pihak. Hutan ini sangat dikenal karena kesuburan tanah dan juga komoditi buah yang sangat beragam. Dan dihutan ini juga, kegaduhan yang terjadi beberapa saat lalu, kini menjadi sangat sunyi.

Tu-tu-tung-tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu ! I-i-ini kan ?! Eh… ta-tapi, eh ?! Kok bisa ?!

            “*Glup*”

[]

            Keadaan ini sunyi ini terjadi karena pemandangan yang terjadi sebelumnya. Pemandangan dimana seorang bandit terlempar sangat jauh dan juga kedua bilah pisau yang ia pegang hancur seketika oleh benda yang diayunkan oleh tangan kanan Rio. Namun, bukan hal ini yang menjadi sumber masalah keadaan ini, melainkan benda yang Rio peganglah yang menjadi masalah saat ini.

            Diliriknya buku yang selalu melayang disampingnya sejak beberapa saat yang lalu. walaupun Rio tidak berbicara sepatah katapun, seakan mengetahui apa yang Rio pikirkan, buku itu, Nusa menjawab tatapan Rio…

            [Sa-saya juga tidak tahu tuan, sejujurnya saya juga terkejut melihatnya]

            Setidaknya itulah yang diucapkan Nusa kepada Rio.

            Tidak hanya Rio, bahkan kedua bandit yang memegang panah dibelakangnya menunjukkan tatapan penuh rasa kebingungan. Bahkan mata mereka berdua membentuk “O.O” karena sangat tidak mengerti dengan apa yang mereka lihat. Selain itu, mulut mereka berdua… tidak, bahkan mulut Rio pun menganga selagi melihat “Sesuatu” yang berada ditangan kanannya.

Tu-tunggu ! Sabar ! Co-co-coba tenang ! Mu-mungkin saja i-ini… E-e-ex… ca-ca-calibur… da-dari dunia ini, be-benar mungkin karena be-bentuknya yang berbeda, ti-tidak ada yang dapat menemukannya… hmm… pa-pasti seperti itu… mungkin…

            Selagi Rio menganalisis “Sesuatu” yang ia pegang ditangan kanannya, keringat mengalir dari sekujur tubuhnya. Kakinya gemetar. Dan ia hanya bisa tersenyum pahit karenanya.

            “Apa mungkin… ini…”

[Walaupun saya tidak tahu apa yang tuan coba pikirkan, mungkin jawabannya… bukan, tuan]

“…”

Ha… haha… hahahahaha… be-benar juga… ka-kalo dipikirkan lagi, ti-ti-tidak mungkin pedang legendaris mempunyai bentuk seperti ini, kan ? ha… hahahahaha…

            Bahkan disaat Rio ingin memastikannya, Nusa langsung menyangkalnya tanpa berpikir lama. Mendengar jawaban Nusa, Sekali lagi Rio memperlihatkan senyuman pahitnya.

            “Naaa~”

            [Hmm ?]

            “Bukankah yang bisa melakukan hal seperti ini… hanya [Magic Tools] saja, kan ?”

            [Sejauh yang saya tahu sih… begitu]

            “…”

            []

            Sekali lagi mereka terdiam. Tidak sepatah katapun terdengar selama beberapa menit. Situasi ini semakin lama semakin terlihat statis. Namun, hanya seorang yang berhasil memecahkan situasi ini.

            “Apa yang kalian lakukan ?! Cepat serang ! Ini kesempatan emas kita !”

            “Eh ?”

            “A-ah, i-iya !”

            Mendengar suara dari arah samping kirinya, Rio mengalihkan pandangan kearah sumber suara tersebut. Disana ia melihat seorang bandit yang sedang memegang sebilah pisau dengan muka benyut dan penuh memar disekujur tubuhnya yang terekspos karena baju yang ia kenakan telah robek dibeberapa bagian karena terhantam oleh serpihan batu yang Rio lakukan beberapa saat lalu tengah memberikan perintah kepada kedua bandit pemanah yang sedang berada didahan pohon. Melihat muka bandit tersebut, “Ah ! Itu kan…”, seakan-akan ia baru mengingatnya, bandit tersebut tanpa membuang kesempatan tersebut segera mengarahkan pisaunya kepada Rio—

            [Suara Seseorang Terlempar Jauh]

            [Suara Pisau terlempar lalu tertancap di batang pohon]

            “Ah !”

            —Namun, karena Rio lupa, ia mengayunkan “Itu” kearah bandit tersebut. Dan hasilnya, bandit itu terlempar sangat jauh. Bahkan pisau yang ia pegang dengan erat beberapa saat lalu terlempar sangat kencang dan berhenti setelah menancap salah satu batang pohon yang berada didaerah hutan ini.

            Melihat hal ini, kedua bandit yang sudah bersiap untuk melepaskan anak panah ditangan mereka terdiam dengan mulut membuka lebar seakan-akan apa yang mereka lihat bukan mimpi karena…

            Ternyata benar ! Si Kakek ini bisa gua jadiin senjata !

            Benar, apa yang saat ini Rio pegang dan ia gunakan sebagai senjata adalah “Itu” atau seorang kakek yang ia bawa dari daerah pohon yang terkena dampak dari kemampuan [Teleport] yang ia gunakan, sehingga kakek tersebut mengira bahwa pohon itu adalah pohon [Arg Gruf].

            Melihat raut muka Rio yang tersenyum licik dan terkesan… tidak berperasaan, Nusa hanya bisa mengatakan.

            [Apa tuan baik-baik saja ?], namun tentu saja ia tidak mengatakannya secara jelas kepada Rio dan memendam jauh perkataan tersebut kedalam pikirannya.

“Sepertinya ini sudah bukan waktunya untuk termenung kebingungan karena hal kecil”

[]

[Serius, ini bukan hal kecil tapi entah kenapa… apa yang tuan tunjukkan oleh raut muka tuan saat ini terlihat sangat kejam ?!], sekali lagi Nusa menyanggah perkataan Rio yang sudah terlihat tidak mempedulikan “Itu” dan mulai menganggapnya sebagai senjatanya. Tapi seperti sebelumnya, Nusa hanya menyimpan kalimat tersebut jauh-jauh didalam hatinya. Walaupun banyak yang ingin ia sanggah, tapi memang benar seperti perkataan Rio, saat ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukannya.

Pandangan Rio saat ini mulai terkunci kepada kedua bandit yang berada di atas dahan pohon. Difokuskan tenaga Rio kepada kedua kakinya, dan dengan suara yang cukup kuat untuk meretakkan permukaan tanah, ia segera berlari kearah bandit yang berada sebelah kanannya. Jika diumpamakan, ia lebih terlihat sebagai penjahatnya dibandingkan dengan bandit yang ia lawan.

“Haa !”

“Kyaa !”

[Suara Wanita Jatuh Dari Pohon Setinggi 2 Meter]

Disaat Rio menendang batang pohon tersebut hingga hancur, ia mendengar suara teriakan bandit wanita itu. Namun, tentu saja Rio mengabaikan teriakan wanita yang terjatuh dengan muka menghadap ketanah itu dan langsung menuju kearah batang pohon yang berada sedikit jauh diarah kanannya untuk menyerang bandit wanita satu lagi.

Sama seperti sebelumnya, bandit tersebut terjatuh karena kehilangan keseimbangannya setelah Rio menghancurkan batang pohon tempat bandit itu berada. Namun jika ditanya apa yang berbeda, hal itu adalah fakta bahwa bandit wanita itu tidak langsung pingsan karena ia tidak terjatuh dengan muka menghadap ketanah.

Melihat Rio yang menatapnya dengan sangat intens, wanita itu mulai gemetar ketakutan. Keringatnya mulai mengalir sangat deras bahkan lebih deras dari sebelumnya. Tubuhnya lemas karena telah dikuasai oleh rasa teror yang diperlihatkan oleh Rio.

            [Tuan, apa tuan juga akan memukul wanita ini hingga pingsan ?]

            “Ha ?! Apa yang lu bicarakan ?”

            “Hii—!”

            “Ha ?!”

            Mendengar Rio menaikkan nada bicaranya, wanita tersebut  mengeluarkan suara aneh sehingga membuat Rio menaikkan nadanya sekali lagi. Melihat Rio bertingkah seperti itu, bandit itu mengunci mulutnya rapat-rapat dan memejamkan matanya.

            “Bukannya sudah jelas—”

            [—Tuan akan membebaskannya, kan ?]

            “—Gua bilang lu ngomong apa sih ? Mana mungkin gua lepasin begitu saja ?!”

            Mendengar hal ini, Nusa terdiam karena ia tidak dapat berkata-kata mendengar jawaban Rio. Bandit wanita yang mendengar ucapan Rio, hanya bisa terdiam selagi mulai mengeluarkan air matanya karena sangat ketakutan dengan Rio.

            [Maksud tuan ?]

“Maksud ? Walaupun gua kurang mengerti apa yang mau lu bicarakan, tapi… maaf saja ya, gua itu orang yang menghormati R.A Kartini yang sudah susah payah membawa persamaan derajat kezaman gua sekarang…”

            [Persamaan Derajat ?]

            “Iya, persamaan derajat…”

            Mendengar ucapan Rio, Nusa dan bandit wanita itu tidak dapat berkata apa-apa dan hanya bisa memperlihatkan raut muka kebingungan. Namun tentu saja bandit wanita yang jatuh terduduk dihadapan Rio hanya bisa menangis histeris selagi menutupi mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh Rio.

            [Dengan kata lain ?]

“Dengan kata lain, gua tidak akan membedakan laki-laki dan perempuan, kalo mereka sudah berniat membunuh gua, gua juga harus memperlakukan mereka dengan hal yang sama, maaaa~ gimana bilangnya ya, gua ini orang yang suka keadilan sih…”

[Tuan, walaupun apa yang tuan katakan terasa sangat benar bagi saya, namun entah kenapa disisi lain terasa sangat salah dan menyeramkan saat tuan yang mengatakannya…]

Walaupun itu yang Rio ucapkan, ia sama sekali tidak mempunyai niat untuk membunuh orang. Tapi apa yang ia katakan, adalah prinsip hidupnya sehingga ia tidak dapat mengubah hal tersebut seenaknya. Persamaan derajat tanpa adanya perbedaan dan juga rasa keadilan yang berbeda dari pahlawan keadilan, dengan kata lain rasa keadilan akan kesamaan tanpa perbedaan… setidaknya itulah yang Rio maksud.

“Hiii—!”

Mendengar ucapan Rio, bandit wanita dihadapannya mengeluarkan jeritannya sekali lagi sebelum kesadarannya menghilang dihadapan Rio.

Melihat hal ini, Rio memutuskan untuk meninggalkan bandit tersebut dan kembali mengaktifkan kemampuan [Open Map – Direct Location], dengan kata lain kemampuan layaknya GPS yang dapat memunculkan arah panah berwarna biru menuju ketempat tasnya berada.

Dikuatkan kakinya sekali lagi, Rio segera berlari dengan sangat cepat menuju arah yang ditunjukkan oleh arah panah berwarna biru. Tidak lupa, ditangan kanannya ia tetap menggenggam kaki kiri dari “Itu” dan benar-benar menganggapnya sebagai senjata.

[Tuan, itu !]

“Hmm ?”

Melihat kearah yang ditunjukkan oleh Nusa dengan arah panah berwarna merah kecil dihadapan Rio, ia melihat seorang pria yang menjadi pemimpin dari kelima bandit yang ia lawan beberapa saat yang lalu. melihat hal ini, urat muncul dikeningnya menandakan Rio sangat kesal karena perintahnya, ia harus menghabiskan banyak waktu untuk melawan bandit tersebut.

Sudah lama gua pengen mencoba hal seperti ini…

Diarahkan “Itu” kearah pemimpin bandit dengan bandana berwarna coklat dihadapannya. Lalu diayunkannya “Itu” pelan dengan kepala berada di belakang kepala Rio, ia mengambil ancang-ancang layaknya seorang pemukul clean up dalam permainan baseball tanpa berhenti sedikitpun. Dan dengan kecepatannya saat ini—

[Suara Orang Dipukul Bagian Perutnya Dengan Sangat Keras]

HOME RUN !


—Dipukulnya badan bandit yang menggunakan bandana berwarna coklat itu menggunakan “Itu” dengan kedua tangannya selagi meneriakkan kata tersebut disaat badannya tetap melayang diudara karena kecepatan berlarinya yang menggunakan seluruh tenaganya.

Saturday, October 8, 2016

[FanArt] Natsuki Subaru & Emilia - Re:Zero ゼロから始める異世界生活 (Step by Step with Mouse)

Yo... :D

Ketemu lagi sama RF :D


 Sama seperti sebelumnya, RF kali ini akan Men-share tutorial menggunakan mouse, kali ini berasal dari Anime yang sempet Hype 2 musim lalu : Re:Zero ゼロから始める異世界生活

jujur saja, RF sendiri sangat suka sama grafik dan ceritanya, langsung saja Oke, ini dia tutorialnya :

1.  Seperti biasa tahap pertama adalah siapkan sketch kasar kalian sebelum memasuki tahap Line Art



2. Selanjutnya lakukanlah LineArt menggunakan Pen Tool atau Curve pada SAI kalian


3. Setelah selesai melakukan LineArt, berikanlah Base Color menggunakan Pen tool atau Bucket/Fill tool jika ingin lebih mudah


4. Setelah selesai memberikan warna dasar, sekarang kalian dapat menambahkan detail awal, disini RF memberikan warna pada kulit dan mata serta menyelesaikan mata pertama kali (sebenarnya ini hanya kebiasaan sih wkwkwk)


5. setelah memberikan detail awal, berikanlah efek cahaya atau Lightning pada bagian yang dibutuhkan, disin RF menggunakan teknik Simple Style atau memberikan warna dasar dengan penambahan sedikit detail.


6. Last but not Least, kurangi opacity pada Character Emilia dan tambahkan efek cahaya menggunakan Air Brush agar memberikan efek tembus pandang. dan jika kalian sudah selesai tambahkanlah Background seperti berikut agar lebih memberikan kesan tersendiri...


Pixiv : 

DeviantArt :
http://rftaurus.deviantart.com/art/Re-Zero-603798126

Yah... bagaimana tutorial kali ini ? Simple kan seperti namanya 

jika masih ada pertanyaan silahkan beri komentar agar lebih semangat lagi...


Sunday, October 2, 2016

[Nusantara] Chapter 14 - Serangan Balasan

Chapter 14 – Serangan Balasan



[3rd Person Point of View]

            “Menghindar !”

            “Eh ?”

            “Ap—!”

        Tidak mengerti dengan apa yang terjadi dihadapan mereka, ketiga bandit yang memegang senjata jarak dekat itu terdiam kebingungan. Namun diantara mereka bertiga, Hanya satu orang yang dapat mengerti keadaan saat ini.

            Coba saja kalau lu bisa menghindar, bandit pedang sialan !

            [Suara Hantaman Keras menghancur retakan batu berukuran 100 M]

            Namun, tentu saja ia terlambat beberapa detik sehingga ia tidak luput dari serpihan batu besar yang sengaja diarahkan Rio kearah ketiga bandit tersebut. Tidak hanya itu, bandit yang menggunakan sebilah pisau terkena serangan telak diseluruh tubuhnya oleh serpihan batu yang dihancurkan oleh Rio sehingga membuatnya terpental sangat jauh dan langsung kehilangan kesadarannya.

            “Rudolf ! Sekarang bagaimana ?”

            “Aku juga tidak tahu !”

Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa serpihan batu disekitar bocah sialan itu menjadi besar secara tiba-tiba ?

Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Bandit yang menggunakan pedang, Rudolf mulai mempertanyakan apa yang sebenranya terjadi. Namun, bagaimanapun ia memikirkannya, ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun kecuali…

“Kalau bocah itu seorang… [Magic User]. Terlebih lagi, aku belum pernah melihat kemampuan yang dapat membuat benda berubah ukuran seperti itu…”

Mengamati keadaan selagi menghindari serangan dari Rio, Rudolf mulai menyusun kembali rencana.

Seandainya aku membuat Roy menyerangnya dari samping dan aku dari depan… tidak, itu tidak bisa ! Selama bocah itu dapat melakukan gerakan seperti tadi hal itu percuma… tapi… jika seandainya aku membuat para pemanah memanah dirinya… itu juga tidak bisa mengingat dia dapat menghindari serangan panah saat melompat dengan mudahnya…

“Tch !”

Menjentikkan lidahnya, Rudolf pada akhirnya tidak dapat memikirkan rencana apapun. Disisi lain, Rio yang melihat Rudolf sedang kebingungan melihat ini sebagai celah dan terus menyerangnya tanpa henti.

“Haaaa !”

“Ei ! *Srat*… *Slash*… *Hup*…”

Memukul tanah sekali lagi, Rio menggunakan [Resize] dan membuat serpihan batu tersebut berukuran sama besar dengan sebelumnya. Sekali lagi Rudolf terbelalak melihat kemampuan aneh dari Rio. Namun, ia tetap tidak mengerti kemampuan seperti apa yang sebenarnya Rio miliki karena sejak tadi ia hanya menggunakan satu jenis kemampuan tersebut.

Tidak melewatkan kesempatan ini, Rio memukul bongkahan batu yang telah berubah menjadi berukuran raksasa. Melihat Rio melakukan trik yang sama membuat Rudolf menjadi kesal dan menghindari serpihan batu tersebut selagi bergerak maju dengan niat untuk menyerang Rio. Namun apa yang ia lihat selanjutnya membuat ia lebih kaget lagi.

“Hilang !? Kemana bocah itu ?”

Melihat kearah disekelilingnya dengan panik, Rudolf menaikkan tingkat kewaspadaannya. Baginya, tidak lebih dari 5 detik setelah ia menghindari serangan dari Rio dan memutuskan untuk menyerang maju namun, saat ia sampai ditempat seharusnya Rio berada, ia tidak melihat seorangpun disana.

Waktu disekitar Rudolf berjalan seakan-akan sangat pelan. Bahkan jika ada butiran air hujan yang sejajar dengan mata kakinya, butiran air ini dapat tiba ditanah selama 5 menit, setidaknya sepelan itulah waktu disekitar Rudolf saat ini.

Matanya melirik kearah disekelilingnya mencari keberadaan Rio. Namun apa yang ia temukan hanyalah bongkahan batu berukuran besar yang terpental keseluruh arah.

Seluruh arah…? Hah !? Jangan bilang !?

[Sebuah Hantaman Keras Kearah Perut Seseorang]

Namun sayang, disaat Rudolf menyadari hal tersebut, ia sudah terlambat untuk menghindar. Perut bagian kirinya… lebih tepatnya didekat daerah ginjalnya berada, ia merasakan sebuah hantaman keras dari sebuah bayangan hitam yang tiba-tiba saja menyerangnya dari arah kiri atasnya.

“Haaaaaa~!”

“Guha—!”

[Suara Orang Terpental Dengan Sangat Keras dan Kencang Sehingga Menghancurkan Pohon yang Dilaluinya]

Sial ! Kenapa bocah itu bisa berada ditempat seperti itu !?

Sebelum kehilangan kesadarannya, Rudolf melihat seorang bocah laki-laki tersenyum jahat dan juga licik kepadanya, dan tentu saja Rio lah sosok asli dari bayangan hitam yang menghajar perut Rudolf dengan sangat keras.

Just Die !”

Selagi membuat gestur dengan ibu jari tangan kanannya berada dibawah, ia mengucapkan hal tersebut kearah Rudolf selagi tersenyum puas.

Rencana Rio yang sudah ia buat sejak tadi akhirnya membuahkan hasil. Rio sejak awal sudah berencana untuk memisahkan mereka bertiga dengan serangannya yang membabi buta seperti ini. Menggunakan [Resize] kepada serpihan batu yang ia buat dengan maksud untuk membuat keberadaannya sulit untuk ditemukan sehingga ia dapat melakukan serangan dadakan. Namun ada satu hal yang berada diluar rencananya yaitu fakta bahwa seorang bandit pingsan terlebih dahulu setelah serpihan batu yang sudah ia ubah sehingga menjadi berukuran 100 M mengenai telak dirinya layaknya sebuah peluru dari sebuah senjata api. Bahkan hal ini sempat membuat dirinya berpikir… Lemat banget ini orang !

Melihat dua dari kelima lawannya tumbang dengan Rencananya, Rio mulai melakukan serangannya lagi kepada bandit yang menggunakan dua bilah pisau dikeduatangannya. Seperti sebelumnya, Rio memukul tanah dan menggunakan [Resize] lalu memukul serpihan batu yang berukuran besar tersebut sehingga memberikannya kesempatan untuk menyerang lawan yang berada didepannya. Tidak lupa, Rio juga menghindari serangan dari setiap anak panah yang dilepaskan kepadanya dari kedua arah sesuai dengan petunjuk yang Nusa berikan.

“Ha !”

“*Set*… *Hup*… Ha !”

“Urgh ! *Sreeeet*…”

Namun, hal yang tidak ia perkirakan terjadi. Musuhnya kali ini sangat berbeda dengan bandit berpedang yang ia hadapi sebelumnya. Kali ini, ia harus melawan bandit yang memiliki kemampuan yang sangat lincah dan mata Rio sulit untuk mengikuti pergerakannya.

Sial ! Cepat ! Terlalu cepat !

“Haaaaa !”

“*Set*… *Hup*… Urgh !”

Sekali lagi Rio gagal untuk menghindari serangan bandit tersebut sehingga sebuah tendangan bersarang telak diperut Rio. Hal ini membuatnya merintih kesakitan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bandit itu segera bergegas menuju kearahnya dan bersiap untuk menebas kepala Rio.

Rio yang segera mengambil kuda-kuda langsung menghindari tebasan kedua bilah pisau bandit tersebut tanpa kehilangan keseimbangannya sedikitpun. Skill up yang Nusa masukkan kepada technique sesuai perintah Rio sangat membantunya saat ini sehingga membuat Rio bersyukur karenanya. Walaupun pada akhirnya setiap kali ia mengingat ini, ia menjadi sedikit kesal.

[Suara Kaki Tersandung Sesuatu]

“Ap—”

[Suara Seseorang Terjatuh Kebelakang]

“Mati kau !”

Gawat !

Disaat Rio kehilangan keseimbangannya dan terjatuh akibat kakinya tersandung akar pohon saat akan melompat mundur untuk menghindari serangan kombinasi bandit dihadapannya, ia pun jatuh terduduk. Panik karena ia berpikir akan kehilangan nyawanya, tangannya meraba-raba sesuatu disamping kanannya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

Hmm !? Apa ini !?

Sebelum pisau bandit itu menyentuh leher Rio, ia segera mengayunkan sebuah benda yang dipegang oleh tangan kanannya. Hanya satu hal yang ia harapkan, semoga benda yang ia pegang cukup kuat untuk menahan ketajaman kedua bilah pisau bandit itu.

[Suara Pecahan Sebuah Benda]

[Suara Ayunan Keras Secara Menyamping]

[Suara Seseorang Terpental Keras dan Jauh]

“Goha—!”

“Eh !?”

Hal yang Rio lihat selanjutnya sangat membuat dirinya terkejut. Benda yang ia ayunkan dengan tangan kanannya sekuat tenaga bukan hanya menahan kedua bilah pisau bandit tersebut… melainkan menghancurkan keduanya sekaligus dan disaat yang bersamaan membuat bandit itu terpental jauh tak berdaya.

Disaat ia mengalihkan arah pandangannya ketangan kanannya, yang ia lihat adalah… sebuah benda menyerupai manusia dimana tangan kanan Rio memegang kaki kiri benda tersebut… atau mungkin lebih tepatnya memang seorang manusia yang bahkan Rio sendiri tidak ingin mengakui kalau dia adalah seorang manusia dan menyebutnya dengan julukan… “Itu”.


I-ini !?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close