Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, November 20, 2016

[Nusantara] Chapter 21 – Gamble



Chapter 21 – Gamble

            [3rd Person Point of View – Rio As Center Point]

Gawat ! Gawat ! Gawat ! Mati gua kalau begini ceritanya !

            “…”    

Ditengah wilayah hutan yang hanya diiringi oleh lantunan suara hewan yang menyerupai jangkrik serta gesekan merdu dari setiap dedaunan yang diajak untuk menari oleh sang angin, suasana saat ini bagaikan sebuah harmoni yang dapat menenangkan hati seseorang yang sedang mencari ketenangan. Setidaknya itulah kesan yang akan diterima oleh seseorang jika mereka hanya kebetulan melewati suasana hutan yang seperti ini. Namun, hal ini tidak dirasakan oleh Rio yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya bersembunyi dibalik semak-semak yang berada disekitar wilayah hutan tempatnya berada, [Skyp].

Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh Rio sejak beberapa saat yang lalu. tubuhnya gemetar karena bandit yang mengincar nyawanya berada tepat dibelakang semak-semak tempat ia bersembunyi saat ini. Seandainya Rio tidak meminta untuk melakukan reset skill, mungkin ia tidak akan berada pada kondisi seperti ini. Kondisi dimana bernapas saja, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.

[Suara Gerakan Disemak-Semak Yang Berada Dihadapannya]

Gawat ! Tanpa sadar gua malah bersandar ! Sial ! Tolong… jangan sadar ! Jangan sadar !

Menyadari kesalahannya, Rio menutup matanya selagi berharap agar bandit itu tidak menyadarinya. Berulang kali ia mengucapkan kalimat tersebut jauh didalam hatinya.

“Keluar kau bocah sialan ! Aku tahu kau berada disemak-semak !”

“…”

Ap—!

Mendengar ucapan Rey, sekali lagi muka Rio menjadi kaku. Tanpa sadar ia menahan napasnya dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dadanya terus berdebar-debar dengan sangat cepat seakan-akan menimbulkan efek suara yang terdengar badum… badum… badum…

“Jika kau keluar sekarang ! Mungkin aku akan mengampunimu bocah !”

Dasar pembohong ! Gak akan ada bandit yang benar-benar akan melakukan hal seperti itu sialan !

“…”

Menyanggah ucapan Rey dalam pikirannya, ekspresi muka Rio semakin lama terlihat semakin panik. Keringat yang pada awalnya sudah berhenti mengalir dari keningnya, sekali lagi membasahi tubuhnya. diremas rumput kering yang berada disekitarnya dengan sekuat tenaga selagi berusaha menekan rasa takutnya.

Sial ! Cepat pergi dari tempat itu, bandit sialan !

[Suara Ranting Pohon Kering Terinjak Dari Arah Sema-Semak]

“Ap—?!”

“!”

Tanpa Rio sadari, ia meremas ranting kering yang berada didekat tangan kirinya. Disaat ia mengeluarkan suara karena kaget, ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suaranya tidak terdengar oleh bandit tersebut.

Menyadari kesalahan fatalnya, Rio mulai mencari suatu cara untuk mengalihkan konsentrasi Rey. Diraba olehnya permukaan tanah secara perlahan.

Apa ini ?! Batu ? Ah ! Mungkin dengan ini !

[Suara Gerakan Batu Dari Arah Kanan Rey]

“!”

Disaat Rio melihat bahwa mata Rey sedang melihat kearah kiri, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk melemparkan batu berdiameter sekitar 4 hingga 8 cm kearah pohon dimana baju dalam berwarna hitam dengan lengan panjang dan sweater berwarna biru milik Rio berada.

“…”

Pergi dari tempat itu dan segera cek tempat yang gua lempar dengan batu tadi, otot sialan !

Menggernyitkan giginya karena kesal dengan Rey yang tidak kunjung berpindah tempat, Rio mencari batu sekali lagi. Disaat ia sudah mendapatkan batu dengan ukuran yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sekali lagi ia melemparkan batu tersebut kearah kiri Rey.

[Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Kiri Rey]

“!!”

Selesai melemparkan batu tersebut hingga mengenai batang pohon, Rio segera melirik kearah Rey melalui celah yang berada disekitar semak-semak tempatnya berada. Berbeda dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu, kali ini ekspresi dari muka Rey terlihat kebingungan. Namun, seperti yang diharapkan dari seorang bandit yang sudah berpengalaman, ia tidak kehilangan ketenangannya.

Cepat bergerak dari tempat itu, sialan ! Kalau begini gua gak bisa kabur !

“Kenapa malah diam begitu sih ?!”

Semakin kesal dengan Rey yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, tanpa sadar Rio mulai menggumamkan ketidaksabarannya. Namun, tentu saja dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.

Semoga dengan ini, lu mau bergerak !

Mendapatkan batu dari sebelah kirinya, sekali lagi Rio melemparkan batu tersebut kearah pohon yang berada dibelakang Rey. Tentu saja Rey tidak menyadari tindakan Rio dan langsung menunjukkan raut muka kebingungan.

[Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Tenggara Rey]

“!!!”

Melihat ekspresi Rey yang secara tiba-tiba menjadi kaku, Rio menyadari sesuatu yang cukup penting. Walaupun terdengar penting, sebenarnya Rio saja yang tidak menyadari jika—

—Tunggu ! Bukankah ini sama saja dengan berhasil ?! Maksud gua… bandit itu bodoh ! Bukannya sejak tadi seharusnya bandit itu telah menyadari keberadaan gua ! Kalau bukan bodoh berarti apa ?! Selain itu… walaupun berbeda dengan rencana yang gua inginkan, sepertinya rencana ini… cukup untuk menghabiskan waktu !

“Dengan ini… gua bisa mengulur waktu !”

Mengatakan kalimat tersebut dengan suara yang sangat pelan, Rio mengepalkan tangannya dengan kuat. Senyum liciknya yang sempat hilang beberapa saat lalu kini mulai terlihat kembali dari raut mukanya.

***

[3rd Person Point of View – ??? As Center Point]

“Haaaa~”

“Masih jauh bukan ?”

“Oi, semvak ! Lu, udah berapa kali lu ngomong kayak gitu, hah ? Kalau lu ngomong gitu terus, ane yang dengernya juga jadi capek tau ! Haaaa~ tuh kan… ane tambah lemes…”

“Iya, tapikan—”

“Cong ! Mas Jat juga capek tahu ! Jika kau mengeluh seperti itu terus yang ada malah bikin tambah capek ! Apa kau dengar ?!”

“Hiiii~”

Jauh di kedalaman hutan [Skyp] bagian Selatan, terdengar suara beberapa orang yang sedang mengeluh.

Seorang pemuda yang memakai jaket menghembuskan napasnya beberapa kali Karena rasa Lelah. Pemuda yang berbicara menggunakan logat dari daerahnya dan juga memakai jaket berwarna putih, celana panjang berwarna coklat, dan juga sandal jepit berwarna hijau dibagian talinya serta warna putih dibagian bawah telapak kaki lelaki itu dengan tulisan “Selow” sebagai brandnya, sudah terlihat sangat kelelahan. Jaketnya yang basah, mukanya yang pucat, dan juga bibirnya yang pecah-pecah adalah bukti bahwa ia telah berjalan cukup jauh tanpa beristirahat sedikitpun.

Tepat dibelakang lelaki itu, seorang lelaki yang seluruh tubuhnya dibalut oleh kain putih dengan beberapa ikatan yang mengelilingi bagian tubuhnya terus mengeluh dan menanyakan pertanyaan yang sama setiap 5 hingga 10 menit sekali. Siapapun yang mendengar pertanyaan yang sama secara berulang akan merasa kesal saat berada dengan dengannya.

Dan satu-satunya yang menghentikkan pertanyaan dari lelaki yang dibalut kain putih itu serta memberikan tatapan dingin kepadanya adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang dengan baju putih… mungkin lebih tepatnya kain putih panjang yang bahkan menutupi seluruh tubuh dari bagian leher hingga kakinya. Wanita itu sejak beberapa saat lalu hanya memperhatikan pemuda dengan jaket berwarna putih selagi ia mengikutinya dari samping kanan pemuda tersebut.

“Tch ! Dasar Nenek tua… lu sih enak bisa terbang… nah gua ! Bisanya cuma lompat-lompat doang kayak kodok, capek tau ! Capek ! Lompat dari bawah jurang sampe sini tuh… lu kira gua pasukan Romawi yang perang cuma bawa 300 pasukan apa hah ?!”

Menggumamkan hal tersebut dengan nada yang sangat kecil, lelaki yang dibalut dengan kain putih itu, mengeluh kepada wanita yang sejak tadi hanya melayang mengikuti pemuda yang ia panggil dengan sebutan “Mas Jat” itu.

“Hiii~”

“Mas Jat, spertinya mereka berdua sudah kembali…”

Selagi berbicara dengan pemuda disampingnya setelah melemparkan tatapan dingin kepada lelaki yang menggerutu kepadanya beberapa saat lalu, wanita itu mengarahkan tangan kanannya yang tertutupi oleh kain putih kearah kanan dari pemuda tersebut.

Melihat kearah yang ditunjukkan oleh wanita disampingnya itu, 2 orang anak kecil yang kekurangan rambut dan memiliki tinggi badan kurang dari 140cm itu mendekat kearah pemuda itu—

“Mas Jat—”

“—Kami sudah menemukan jalan keluar dari tempat ini !”

“!”

Mendengar ucapan dari kedua anak kecil yang terlihat kembar itu, raut muka pemuda yang sejak beberapa saat lalu dipanggil dengan sebutan “Mas Jat” itupun akhirnya berubah menjadi raut muka senang. Sedikit tapi pasti, air mata dapat terlihat keluar dari kedua matanya. Senyuman mulai terlihat dari wajahnya.

“Akhirnya ane bisa keluar dari tempat kamvret ini ! Sudah 3 hari ane kesasar disini, akhirnya…”

Authors Note :

Waktunya kemunculan karakter baru :D

Sunday, November 13, 2016

[Nusantara] Chapter 20 – Rencana Mengulur Waktu



Chapter 20 – Rencana Mengulur Waktu


[3rd Person Point of View – Rey As Center Point]

Kenapa ?! Kenapa ?! Tunggu ! Tapi… kenapa ?! Eh ? Tapi… eeeeeeeeeeeee~h ?!

            Kebingungan dengan apa yang ia lihat, Rey mulai kehilangan ketenangannya. Bukan karena ancaman atau kekuatan yang melebihi kemampuannya melainkan karena rencana yang dibuat oleh Rio.

            Sesungguhnya saat ini Rey hanya bisa membuka mulut dan matanya lebar-lebar hingga batas maksimalnya. Berapa kalipun ia berusaha untuk memutar otaknya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan oleh Rio. Lupakan masalah baju dan celana yang berada dibalik pohon, tapi bukankah sempak atau celana dalam itu sudah berada diluar pilihan. Setidaknya itulah yang membuatnya kebingungan.

            “Apa yang sebenarnya diincar oleh bocah sialan itu ?!”

            Rey sekali lagi mengamati keadaan disekelilingnya. Meningkatkan kewaspadaannya hingga batas maksimal. Matanya saat ini menatap tajam kepada ketiga pohon yang berada disekitarnya. Matanya saat ini bagaikan seekor elang yang telah mengunci mangsanya. Setiap gerakan yang terjadi disekitar wilayah yang ia perhatikan dapat ia lihat dan sadari dengan jelas.

            Jumlah rumput yang melambai. Retakan tanah kecil yang seakan-akan dapat menarik siapapun yang melihatnya. Gesekan antara angin dan dedaunan diketiga ranting pohon. Bahkan hewan-hewan yang berjalan melintasi akar pohon yang menjulang kearah langit. Tidak ada satupun gerakan yang terlewat oleh mata Rey. Semuanya terekam jelas olehnya.

Dimana kau sebenarnya bocah sialan ! Saat kau keluar kupastikan disaat itulah hidupmu tamat, bocah sialan !

Bersamaan dengan ucapannya, saat ini senyuman telah melebur dari wajahnya dan yang terlihat hanyalah tatapan kosong dipenuhi oleh hawa membunuh. Saat ini Rey sangat serius untuk memburu Rio.

***

[3rd Person Point of View – Rio As Center Point]

            [Beberapa Menit yang Lalu]

“Pedang… sudah jelas untuk serangan jarak dekat dan kalau dibilang gua bisa gunakan ini senjata, sudah jelas bisa. Walaupun… hanya asal mengayunkannya”

            Selagi Rio berusaha menganalisis berbagai macam barang yang ia punya saat ini, mungkin lebih tepatnya hanyalah barang jarahan dari bandit yang ia pukul sebelum menemukan anak perempuan dengan nama panjang itu, Rio sedang kehabisan akal mengenai bagaimana cara agar ia dapat mengulur waktu hingga proses skill reset selesai. Melihat kearah samping kanannya, Nusa sepertinya sedang fokus dengan perintah yang Rio berikan sehingga ia tidak mungkin mengganggunya saat ini.

“Sekarang busur dan anak panah… bagaimana cara gua menggunakannya ? Sejujurnya ini pertama kali gua memegang busur dan anak panah yang asli”

            Seandainya ini Darts mungkin lebih mudah karena gua udah pernah coba…

            Saat ini Rio sedang berlari kecil untuk mencari tempat persembunyian yang tepat, namun ia tidak kunjung menemukannya. Memang benar hutan ini rindang namun ia hanya dapat menemukan sedikit semak-semak diwilayah hutan ini.

            “hmm ?”

Tunggu ! Semak-semak… sebuah keadaan untuk mengulur waktu… adegan dari film… keadaan klise… ranting kering… pemikiran penjahat… bukankah ini !

            Menyadari sesuatu, Rio mengeluarkan senyuman liciknya. Senyuman yang lebih mencirikan seorang penjahat dibandingkan dengan penjahat itu sendiri. Sebuah senyuman yang mengandung… rencana yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

“Tapi untuk membuat hal ini berhasil, gua harus benar-benar berpikir sebaliknya dari apa yang akan dipikirkan oleh si otot sialan itu…”

Sesuatu yang dapat membuatnya kebingungan selama beberapa saat agar ia melupakan sesuatu yang krusial… tunggu ! Sesuatu yang krusial itu sebenarnya sesuatu yang bagaimana ?

Memikirkan hal ini, Rio menjadi bingung sendiri karenanya. Mencari sebuah petunjuk agar ia bisa keluar dari situasi ini. Situasi yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai karena ia harus menggunakan otaknya. Rio sendiri mengerti kalau ia bukanlah tipe orang yang senang untuk memikirkan terlalu banyak hal karena hanya akan membuat kepalanya bertambah pusing saja.

Haaaa~ sepertinya kerjaan gua bertambah lagi… sial !

Selagi menghembuskan napas, ia mulai kembali memikirkan mengenai hal “Sesuatu yang krusial”. Ia sendiri sebenarnya tidak terlalu paham dengan apa yang secara tiba-tiba melintas dibenaknya itu. Jika ia pikirkan sekali lagi, konsep dari “Sesuatu yang krusial” itu sebenarnya luas. Tidak hanya akan berhenti pada satu atau 2 konsep saja. Bahkan ada kemungkinan lebih dari 10 definisi jika ia mencarinya di kamus besar Bahasa Indonesia.

Tapi jika melihat dari keadaan gua saat ini, kemungkinan sesuatu tersebut adalah hal yang bisa membuat seseorang kehilangan ketenangannya… terlebih lagi pada situasi seperti saat ini dimana kedua belah pihak tidak memahami kemampuan satu sama lain.

“Haaa~ sepertinya gua harus melupakan soal “Keadaan yang krusial” telebih dahulu agar tidak berpikiran sempit”

Sekali lagi ia mengatur apa yang harus dipikirkannya saat ini, Rio mulai mencoba untuk memulai kembali menganalisa senjata yang ia punya.

Walaupun dalam keadaan genting seperti ini, Rio bukanlah orang yang bodoh yang akan kehilangan ketenangannya dan menyerang tanpa berpikir terlebih dahulu. Jika harus dikategorikan, mungkin ia termasuk orang yang terlalu berhati-hati dan waspada dengan keadaan disekitarnya.

“Pisau lebih baik gua taruh di saku celana… lebih baik jangan karena akan sulit untuk mengeluarkannya kalau gua terjatuh karena suatu hal. Sebenarnya gua mau taruh ini di kaos kaki namun, ini bukanlah sebuah film… jadi ada kemungkinan kalau kaki gua akan tertusuk pisau itu sendiri”

Sial ! Padahal gua mau mencoba hal itu setidaknya satu kali saja…

Setelah memikirkan berbagai macam kondisi, akhirnya ia memilih untuk menaruhnya ditempat sabuk secara horizontal.

Tapi sejujurnya menggunakan celana bahan ditempat seperti ini merepotkan… apa lebih baik gua lepas aja celana bahannya… lagian gua masih pakai celana basket ini sih…

Setelah memikirkan hal itu, akhirnya Rio memilih untuk melepaskan celana bahannya dan menaruhnya didekat pohon. Disaat ia akan kembali kesemak-semak, ia melupakan bola kain yang masih menggantung di tempat sabuk yang berada dicelananya.

Hmm… tapi kalau dilihat dari sudut ini, celana gua cukup terlihat mencurigakan ya…

Setelah ia mengambil pisau dan bola kain dari tempat sabuk celana bahannya, ia berhenti sesaat dan melihat kembali kearah pohon dimana celananya berada.

Tunggu ! I-ini kan ?! Tapi apakah mungkin taktik seperti ini akan berhasil ? Mmmm… mungkin jika lawan gua bandit amatiran rencana ini akan gagal, namun…

“Sepertinya gua harus menaruh sedikit kepercayaan dengan si otot sialan itu…”

Menggelengkan kepalanya selagi memikirkan ide tersebut, Rio akhirnya mulai menemukan sebuah titik terang. Tidak berlama-lama, Rio mulai melepas sweater biru dan kemeja yang ia kenakan serta menaruhnya dibalik pohon yang berada disebelah kirinya sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri.

“Namun untuk memberikan kesan lebih real…”

Menaruh ibu jari dibawah dagunya, Rio mulai memikirkan untuk menyusun baju dan celananya seolah-olah seseorang sedang terduduk disana. Dan untuk menambahkan kesan keaslian, ia menaruh sebilah pedang yang ia temukan disamping celana bahan miliknya dan pisau ditempat baju dan sweater-nya berada.

Dengan ini, bandit itu akan berpikir jika salah satu diantara keduanya adalah asli. Bagaimanapun, tidak ada orang yang cukup bodoh yang akan melepaskan senjata jarak dekat pada pertarungan jarak dekat. Telebih lagi satu kesalahan akan mempengaruhi hasil akhir dari pertarungan hidup dan mati ini. Baginya saat ini, situasi ini adalah situasi yang sangat krusial.

Tunggu sebentar ?! Apakah benar inilah “Situasi krusial” yang gua maksud ?! Entah kenapa sepertinya ada yang kurang dengan situasi ini… tapi sebenarnya itu apa ?! Apa yang kurang ?!

Sekali lagi ia memikirkan mengenai definisi dari “Situasi yang krusial” itu sendiri. Namun berapa kalipun ia mencoba untuk memikirkannya, hasilnya tetap sama yaitu… nihil.

“Sebenarnya apa yang akan membuat seseorang menaikkan tingkat kewaspadaannya disaat keadaan genting seperti ini ?! Dan tentu saja keadaan seperti apa yang akan memberikan orang tersebut jangkauan penglihatan yang sempit dan terbatas ?!”

Selagi menggigit ibu jarinya, Rio telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk memikirkan rencana dadakannya saat ini. pada akhirnya, tujuan utama Rio adalah mengulur waktu hingga proses reset skill selesai.

Seandainya gua yang terjebak disituasi seperti ini, hal apa yang paling membuat gua tidak habis pikir ? hmmm~

Selagi memejamkan matanya sesaat, Rio mencoba membayangkan situasi seandainya dirinyalah yang berada pada situasi seperti ini. untuk sesaat ia melihat sebuah hutan yang asri dan indah dengan wanita cantik berlari-lari disekitar hutan menggunakan gaun berwarna putih dengan rambut panjang… tentu saja dalam imajinasinya. Mungkin karena hal inilah, tanpa sepengetahuannya kedua ujung mulut Rio naik cukup tinggi dan iapun jadi tersenyum lebar.

Tunggu dulu ! Kenapa gua jadi ngebayangin wanita impian gua sih ?! Maaa~ tapi kalau gua liat pemandangan seperti itu tidak dapat dipungkiri kalau gua langsung kebingungan… habis cantik sih… ehe… ehehehe~

“*Ehem*… haaa~ fuuu~ ayo Rio serius, jangan bercanda terus ! Bisa bahaya nantinya…”

Setelah membersihkan tenggorokannya, sekali lagi ia mencoba membayangkan situasi yang akan membuatnya kehabisan kata-kata namun pada akhirnya, hasilnya tetap sama. Apa yang ia lihat adalah bayangan seperti itu. Bahkan parahnya lagi, pada percobaan yang kesekian kalinya, ia melihat wanita impiannya itu menggunakan baju renang dengan one set baju renang berwarna putih bagaikan seorang malaikat. Dilihat darimanapun, pikirannya sudah diluar jalur.

Hmm ? Ah ! Benar juga !

Menyadari hal tersebut, Rio akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari. Sesuatu yang akan membuat seseorang tidak habis pikir dengan keadaan genting saat ini dan membuatnya kebingungan sehingga akan melupakan hal kecil dan hanya terfokus pada targetnya saja. Keadaan dimana seseorang memiliki pandangan paling sempit namun disaat yang bersamaan… paling berbahaya.

Membuka celana basket dan melepas celana dalamnya, Rio akhirnya menaruh celana dalam dibalik pohon yang menghadap kearah jam 2 dari arah semak-semak berada. Setelah selesai menyusun celana dalam tersebut, Rio memastikan bahwa bandit tersebut tidak akan menyadari keberadaan trump card yang sudah Rio pasang saat ini. tidak lupa, setelah itu ia menaruh sebuah bola kain disamping celana dalamnya agar memberikan kesan realitas yang berlebih. Dan satu lagi yang menjadi ciri kewaspadaan Rio adalah setiap ia memasang rencananya, ia selalu memilih jalan memutar sehingga bandit itu hanya akan melihat sebuah jejak kaki yang mengarah kearah semak-semak. Dengan begini hal terakhir yang harus dilakukannya adalah bersembunyi sedikit lebih jauh dari “Circle Plan” yang sudah ia buat. Setidaknya seperti itulah ia menamakan rencananya saat ini. Sebelum ia memastikan kearapihan dari setiap rencananya, Rio tidak lupa mengenakan celananya basket berwarna birunya kembali.

“Hmm ? Ap—Oi ! Reosen ! Bangun !”

Gawat ! Sebelum gua sadari si otot sialan sudah sampai ditempat ini !

Sebelum Rio menyadarinya, ia mendengar suara bandit tersebut sehingga membuatnya kaget dan secara reflek bersembunyi disemak-semak yang berada didekatnya. Secara perlahan tapi pasti, bandit tersebut mulai mendekati semak-semak dimana Rio berada.

“Keluar kau bocah sialan ! aku tahu kau berada disemak-semak !”

“…”

Gawaaaaat ! Kenapa malah gua yang kejebak sama rencana gua sendiri ?!

Mendengar suara bandit tersebut, keringat dingin mengalir dari sekujur tubuh Rio. Saat ini ia hanya mengenakan baju panjang yang menjadi baju dalamnya. Dengan kata lain sebelum ia tiba disini ia mengenakan 3 lapis baju dan juga 3 lapis celana. Dan saat ini apa yang ia kenakan seluruhnya adalah baju dalam panjang berwarna hitam dan juga celana basket berwarna biru.

“Jika kau keluar sekarang ! Mungkin aku akan mengampunimu, Bocah !”

“…”

Jangankan buat keluar ! Kalau begini sih jadinya benar-benar taruhan ! Waktunya lama banget sih jalannya !

—Selagi memikirkan hal tersebut, Riopun akhirnya terjebak karena kecerobohannya sendiri dan saat ini ia berusaha untuk keluar dari rencananya sendiri. Dan tentu saja, dibelakangnya bandit tersebut, Rey mengawasi setiap gerakan dengan tatapan yang siap memburu mangsanya

Sunday, November 6, 2016

[Nusantara] Chapter 19 – Confusion


Chapter 19 – Confusion

            [3rd Person Point of View]

[Suara Pedang Yang Diayunkan Kencang Secara Vertikal]

            “!”

            “Urgh ! Bo…cah sialan !”

Hampir saja ?! Gawat kalau begini terus jangankan 12 menit, 3 menit aja gua gak yakin…

Sesaat pedang yang diayunkan bandit tersebut akan mengenai dirinya, Rio memiliih untuk menendang kelemahan dari semua para lelaki didunia, yaitu dua bola emas yang menggantung diantara selangkangan pria tersebut. bandit yang tidak menduga jika Rio akan menyerangnya dibagian tersebut jatuh tersungkur selagi badannya gemetar kesakitan dan juga bercampur rasa ngilu. Merintih kesakitan, bandit tersebut membuka mulutnya lebar-lebar selagi menatap penuh rasa amarah terhadapan anak laki-laki yang berada dihadapannya saat ini, Rio Reynaldi.

Menyadari keadaannya saat ini, Rio mulai mencoba untuk memutar otaknya kembali selagi berlari menjauhi tempat dimana bandit itu tersungkur dengan posisi bertekuk lutut selagi memegangi selangkangannya.

Sekarang gua harus bagaimana ? Menurut perkiraan gua sih, kayaknya gua harus bertahan selama 9 hingga 10 menit lagi…

Selagi mengamati keadaan disekitarnya, Rio mulai mencoba menyusun rencana untuk mengulur waktu. Sebenarnya, ia bisa saja melarikan diri dengan meninggalkan anak perempuan tersebut. Namun, ia tidak akan puas jika belum menghajar bandit yang membuat sweater-nya robek.

Sebelum ia menyadarinya, saat ini ia berada didekat salah satu anak buah bandit yang ia pukul dengan cara memukul layaknya seorang pemain baseball. Melihat bandit tersebut terbaring selagi hilang kesadarannya, Rio mulai menggeledah pakaiannya layaknya seorang pencuri professional.

Pedang… busur panah… 4 buah anak panah… pisau… hmmm ? Apa ini ? Bola kain… dan tali ? Terlebih lagi ada 2 buah… sudahlah ambil saja dulu semuanya…

Melihat barang yang ia dapatkan, saat ini Rio memilih untuk mengambil semuanya tanpa memilah barang tersebut. pedang ia pegang dengan tangan kirinya. Pisau yang telah berkarat tersebut ia taruh disaku kiri celananya. Bola kain berwarna hitam dengan tali sepanjang 30 cm ia gantungkan dengan ikat pita dicelananya dimana tempat sabuk berada. Busur dan anak panah ia gantungkan dipundaknya.

“Hmmm ? Sekarang bagaimana caranya gua mengulur waktu selama 10 menit ?”

***

[3rd Person Point of View – Rey As Center Point]

“Tch ! Kemana bocah sialan itu pergi ?!”

Merasa kesal dengan tindakan Rio yang menendang harta karun berharganya, Rey—ketua bandit yang saat ini masih bertekuk lutut selagi memegangi selangkangannya perlahan-lahan mulai berdiri. Diambil pedang kesayangan miliknya, [Magic Sword – Phyro Elemental] yang tertancap ditanah. Melihat keadaan disekelilingnya, Rey mulai mencari jejak bocah sialan, Rio.

Hmm… ah ! Kearah sana, kah !

Melihat daun yang hancur terinjak ditanah dan juga tapak langkah kaki yang cukup tipis namun terlihat baru, Rey yakin bahwa Rio menuju kearah tersebut dan mulai mengikuti jejak kaki tersebut selagi berlari. Tidak lupa pedang tersebut ia genggam dengan tangan kirinya untuk berjaga-jaga. Walaupun terasa lama, sebenarnya waktu yang dilalui oleh Rey semenjak kepergian Rio barulah sekitar 2 hingga 3 menit yang lalu.

“Hmm ? Ap—Oi ! Reosen ! Bangun !”

Tch ! Bahkan bocah sialan itu telah berhasil mengalahkan Reosen,kah… sepertinya aku terlalu meremehkan anak sialan itu…

Melihat tubuh Reosen yang terbaring lemas dengan bola mata terlihat berwarna putih total serta darah yang mengalir keluar dari hidungnya namun perutnya masih bergerak naik turun, Rey memastikan bahwa Reosen hanya kehilangan kesadarannya saja. Selagi ia melihat keadaan Reosen ia menyadari bahwa perlengkapan Reosen telah dirampas darinya.

Bocah yang berlaku seperti bandit…

Selagi menghembuskan napas, Rey segera mengamati keadaan disekitarnya. Sekali lagi ia melihat jejak langkah kaki ditanah menuju kearah sebuah semak-semak. Melihat hal ini Rey menaikkan tingkat kewaspadaannya.

Tch ! Trik seperti itu tidak akan berhasil ! Apa bocah sialan itu berpikir bahwa aku akan termakan oleh perangkapnya ?! Jangan bercanda ! Walaupun jejak kakinya mengarah kesemak-semak, namun aku tahu kalau sebenarnya ia tidak berada ditempat itu. Ditambah lagi, dia pasti menungguku untuk menuju kearah semak-semak tersebut dan melancarkan serangan dadakan. Bocah itu terlalu meremehkanku rupanya… Kuhahahaha !

Selagi mengamati wilayah semak-semak yang berada dihadapannya, Rey mengarahkan tatapannya kearah sekelilingnya tanpa menurunkan kewaspadaannya.

[Suara Gerakan Disemak-Semak Yang Berada Dihadapannya]

Hohou~ sepertinya dia menyiapkan trik seperti itu juga, kalau begitu biar kulayani bocah sialan itu dan disaat dia akan menyerangku… akan kuakhiri dia !

“Keluar kau bocah sialan ! Aku tahu kau berada disemak-semak !”

“…”

Menunggu jawaban dari Rio, Rey bersandiwara selagi tersenyum dengan lebar. Menunggu kesempatan untuk menyerang Rio disaat Rio mengira jika ia telah menurunkan kewaspadaannya.

“Jika kau keluar sekarang ! Mungkin aku akan mengampunimu bocah !”

“…”

Sekali lagi kesunyian menghampiri wilayah dimana Rey berada. Tidak sedikitpun terlihat kalau Rio akan menjawab pertanyaannya. Melihat keadaan ini, urat muncul diwajah Rey karena kesal. Kehabisan kesabarannya, Rey mulai memutuskan untuk mengambil ancang-ancang dan berpura-pura untuk menyerang kearah semak-semak tersebut.

[Suara Ranting Pohon Kering Terinjak Dari Arah Sema-Semak]

Tch ! Bahkan bocah itu sudah mempersiapkan jebakan seperti itu juga…

Mendengar suara tersebut, Rey mulai meubah penilaiannya tentang Rio. Ia tidak mengira jika Rio dapat membuat jebakan senyata ini.

[Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Kanan Rey]

Ah ! Akhirnya dia mencoba membuat sebuah pergerakan ! Sebaiknya kuabaikan terlebih dahulu untuk memancingnya keluar…

Mendengar suara gerakan dari balik pohon tepat disebelah kanannya sejauh 10 meter, Rey mulai menargetkan wilayah pohon tersebut. ia yakin jika Rio bersembunyi dibalik pohon tersebut. Jika ia perhatikan lagi, ia dapat melihat sebuah lengan baju berwarna hitam dan baju luar (sweater) berwarna biru yang terlihat disamping pohon tersebut. disaat ia akan menyerang kearah pohon tersebut…

[Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Kiri Rey]

Ap—?! Bahkan ia sudah mempersiapkan jebakan itu juga ? Diantara kedua sisiku… tch ! boleh juga pemikiran bocah sialan itu ! Kali ini seperti ujung celana yang ia kenakan… Sisi mana yang benar ?!

Kebingungan dengan keadaannya saat ini, Rey merasa bahwa saat ini ia tengah berdansa diatas telapak tangan Rio. Diamatinya kedua wilayah tersebut. dibalik pohon disebelah kanan, ia melihat sebuah baju berwarna biru dengan bahan yang belum pernah ia lihat sama sekali. Dan disisi kirinya sejauh kurang lebih 13 meter, Rey melihat kain celana yang dipakai oleh Rio.

Sial Pilihan ini lama-lama dapat membunuhku !

Rey mulai gundah dan gelisah karena pilihan yang muncul dihadapannya saat ini. Jika ia memilih untuk pergi kearah kanan, ada kemungkinan Rio akan menyerangnya dari arah kiri. Dan hal itu juga berlaku sebaliknya. Sehebat apapun senjata yang Rey kenakan, jika ia lengah hal itu tidak akan berguna baginya.

Sepertinya aku harus memilih kearah kanan. Seandainya pilihanku salah, aku hanya harus mengaktifkan kemampuan [Magic Sword – Phyro Elemental] dan membakar wilayah ini. Namun jika aku melakukan itu, nyawa Reosen dapat terancam bahaya karenanya… mungkin itu harus kujadikan pilihan terakhir…

Disaat ia akan memilih arah kanan dan mengambil ancang-ancang untuk berlari menuju kearah kanan—

            [Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Tenggara Rey]

Sial ! Benar juga ! Ada juga kemungkinan jika ia akan menyerangku dari belakang ! Sial !

Disaat ia mengalihkan arah pandangannya, Rey melihat sesuatu yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Sesuatu yang membuatnya berpikir… Serius nih ?!

Kenapa ?! Kenapa ?! Tunggu ! Tapi… kenapa ?!

“KENAPA ADA SEMPAK DISANA ?!”

—Rey melihat sebuah sempak berwarna putih menyembul keluar dari balik pohon dan membuatnya kehabisan kata-kata oleh pemandangan yang ia lihat saat ini.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close