Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, February 19, 2017

[Nusantara] Chapter 34 - Rio Vs Kruzgar VII


Chapter 34 – Rio Vs Kruzgar VII

            [3rd Person Point of View]

            “Oi, Nusa!”

            [Ada apa Tuan?]

            “Jelaskan dengan Singkat sekarang juga! Apa bisa gua [Absorb] sisa api yang ada di kawah sekitar sini?!”

            [Tidak!]

 “…”

[]

Singkat Banget Sialan! Jelasin kenapa?

Ditengah debu yang saat ini sedang mengepul menutupi wilayah disekitar kawah yang tercipta akibat ledakan dahsyat yang terjadi beberapa saat lalu, seorang anak lelaki sedang berkonsultasi kepada sebuah buku berwarna biru dongker yang melayang disamping kiri kepalanya.

Walaupun apa yang ditanyakan oleh lelaki itu dan apa yang dijawab oleh buku itu tidak ada yang salah namun anak lelaki menunjukkan raut wajah ketidakpuasannya atas jawaban yang diberikan oleh buku tersebut.

“Jelasin, Nusa~!”

[A-ah iya! Bukan maksud saya Tuan tidak bisa menggunakan [Absorb]. Namun, saat Tuan akan menggunakan kemampuan tersebut, Tuan harus berkonsentrasi penuh karena jika tidak energi yang diserap oleh Tuan akan meledak didalam telapak tangan Tuan dan akan berakibat fatal]

“Tapi bukannya dengan kemampuan bertahan yang gua dapet dari [Skill Up] ini cukup buat menahan serangannya?”

[Tuan tidak sepenuhnya salah namun, disaat Tuan akan menggunakan kemampuan itu, telapak tangan Tuan akan terlepas dari efek [Skill Up] tersebut Tuan. Dengan kata lain, telapak tangan Tuan akan menjadi kelemahan terbesar bagi Tuan]

Mendengar hal itu, Rio hanya bisa mengerutkan alisnya karena rencana yang ia pikirkan beberapa saat yang lalu tidak bisa ia gunakan dan jika dipaksakan dapat membahayakan dirinya.

Selagi mereka berdua berdebat, Rio memperhatikan wilayah disekelilingnya.

Panas.

Itulah yang ia rasakan sejak beberapa saat lalu. hawa panas yang membuat Rio berkeringat sejak tadi membuat baju kaosnya basah.

Sial! Kalau begini terus gimana caranya gua bisa selamat dari tempat ini? Gak mungkin juga gua tiba-tiba minta maaf sehabis meledek bandit sialan itu, lagian gua sendiri gak sudi sih

Selagi ia menyeka keringat dikeningnya, Rio memperhatikan debu disekitarnya mulai menghilang tertiup angin. Dikuatkan lututnya untuk berdiri dan disaat yang bersamaan dengan itu,

[Tuan, Saya punya rencana!]

“Hmm?”

Nusa memecah keheningan diantara mereka berdua. Tidak lama setelah Rio mendengarkan rencana yang diusulkan oleh Nusa, Rio segera berlari mengikuti arah angin bertiup dan segera bersembunyi di daerah hutan.

Apa yakin ini berhasil?

Walaupun ia sedikit ragu, Rio tetap berusaha untuk mempercayai Nusa. Selagi ia bersembunyi disemak-semak, diperhatikannya beberapa batu yang ia ambil dari kawah.

“Kuhahaha!”

Selagi ia bersembunyi, didengarnya teriakkan keras dari ujung kawah tempat ia berada beberapa saat yang lalu. Tanpa perlu membuktikan dengan matanya, Rio sudah mengetahui kalau suara ketawa yang menurutnya menjijikkan itu adalah milik Bandit sialan, Rey.

Cih! Berlagak seolah-olah dia sudah menang!

[Tuan Sekarang!]

Mendengar aba-aba dari Nusa, Rio segera mengarahkan telapak tangan kanannya kearah sampingnya lalu,

[Absorb!]

Ia menggunakan kemampuan gratisan atau [Free Skill] miliknya tanpa mengalihkan pandangannya dari Rey sedikitpun. Kemampuan yang ia gunakan saat ini adalah kemampuan dengan efek yang paling Rio pahami karena ini adalah kemampuan yang ia pakai saat pertama kali tiba ditempat ini oleh karena itu dia sangat mempercayai kemampuannya.

Selagi ia merasakan hawa panas dari telapak tangan kanannya, Rio berusaha untuk menahannya. Digernyitkan giginya agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Angin mulai berhembus kearah Rio secara perlahan-lahan. Namun karena ia bersembunyi dengan mengikuti arah angin Rey tidak menyadari keberadaannya terlebih lagi jejak kaki miliknya ikut menghilang tertiup angin.

“Kuh… sayang sekali, bahkan mayatnya pun sudah tidak tersisa lagi”

Muka lu gak bersisa! Tunggu aja sebentar lagi, giliran gua yang akan menyerang lu!

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Rio di hawa yang panas ini. kakinya gemetar karena kelelahan yang mulai ia rasakan setelah berjalan, berlari, dan melakukan semua hal yang hampir tidak mungkin ia lakukan sebelum ia diculik ketempat ini.

Sesaat Rio akan berdiri, ia terkejut oleh raut muka Rey yang mulai bersiaga kembali seakan-akan menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Rio.

“Oi! Sepertinya Bandit sialan itu udah sadar tentang rencana kita!”

Ucap Rio pelan dengan nada berbisik kepada Nusa. Namun disisi lain Nusa hanya menjawab dengan singkat.

[Tenang Tuan, Dilihat dari reaksinya, ia belum mengetahui letak dimana Tuan berada]

Sok tahu lu kayak detektif!

Setidaknya itulah yang disanggah oleh Rio didalam pikirannya. Namun setelah ia perhatikan gerakan Rey, Rio menyadari bahwa apa yang dikatakan Nusa kepadanya dalah hal yang benar.

“Sial! Dimana bocah itu berada saat ini?”

Oi oi oi! Dia mau siap ngebakar hutan lagi tuh dari gerak-geriknya!

Mendengar teriakkan dari Rey membuat Rio tersentak kaget. Bersamaan dengan hal itu, Nusa memberikan aba-abanya.

[Tuan! Lepaskan kemampuan Tuan dan kita akan melaju ketahap berikutnya!]

“O-oh!”

Mendengar ucapan Nusa membuat Rio kembali kepada kenyataan dan segera menutup kembali kemampuan [Absorb] miliknya. Kali ini ia memfokuskan kepada telapak tangan kirinya yang sejak tadi memegang batu kerikil sebanyak beberapa buah. Diopernya batu kerikil itu ketangan kanannya, Rio segera bersiap untuk melemparkan keseluruh batu itu kepada Rey.

“Haaa~!”

[Sekarang!]

Dikumpulkan seluruh tenaga ditangan kanannya, Sesaat sebelum Rio melepaskan semua batu kerikil dari tangan kanannya sesuai aba-aba dari Nusa—

[Resize]

[Copy]

—Rio segera mengucapkan kedua kemampuan [Free Skill] miliknya.

[Resize] adalah kemampuan Rio untuk mengubah ukuran bentuk suatu benda sesuai keinginannya dan saat ini Rio mengubah ukuran keseluruhan batu yang dilemparnya menjadi berdiameter sekitar 7 meter.

Setelah itu ia menggunakan kemampuan [Copy] sesaat semua batu baru akan berubah dan sebelum meninggalkan telapak tangan kanannya. Hal ini dimaksudkan agar Rio dapat menggandakan kembali batu tersebut langsung pada ukurannya saat ini dengan kecepatan yang sama tanpa perlu melemparnya berkali-kali.

Singkatnya kombinasi yang ia gunakan sesuai petunjuk Nusa sangatlah efisien.

“Nusa! Bukannya batu yang dilempar itu memiliki massa yang sama walaupun setelah ditambahkan [Resize]? Berarti saat berubah ukuran tidak akan ada pegaruh dengan massanya, ya kan?”, Setidaknya itulah apa yang ditanyakan oleh Rio saat pertama kali mendengar  rencana dari Nusa. Namun Nusa dengan segera menghilangkan kebingungan Rio,

[Memang benar Tuan, namun jika Tuan melemparnya dengan memfokuskan tenaga Tuan disatu bagian tubuh maka apa yang terjadi saat tubuh Tuan mendapatkan penambahan dari [Skill Up]?]

Tentu saja jawabannya sangatlah mudah untuk Rio pahami,

Kekuatan batu tersebut bagaikan koin seberat 50 gram yang dilempar dari gedung setinggi lebih dari 200 lantai, itupun jika ada didunia asal gua!

Dengan kata lain, koin yang Rio umpamakan akan dapat membunuh seorang manusia karena adanya gravitasi yang menyokong percepatan dari koin tersebut. singkatnya massanya akan bertambah seiring bertambahnya kekuatan yang Rio gunakan untuk melempar batu tersebut.

Sesaat Rey selesai mengaktifkan kemampuan [Firo Assets] miliknya, ia segera terpental jauh setelah terkena oleh lemparan batu raksasa Rio dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Tidak berhenti disitu,

[Paste]

Ia aktifkan kemampuan [Free Skill] lain yang ia miliki yaitu [Paste], dengan kata lain kemampuan yang digunakan untuk merealisasikan benda yang telah ia tandai menggunakan [Copy] untuk digandakan.

Tidak sekali ataupun dua kali ia mengaktifkan kemampuan ini namun, ia mengaktifkannya berkali-kali hingga mulutnya berbusa. Tatapan mata Rio saat ini bagaikan seseorang yang telah kecanduan musik dengan genre heavy metal. Matanya melotot dan kedua ujung mulutnya terangkat dengan sangat tinggi. Membuatnya tersenyum bagaikan seorang penjahat kelas kakap.

Disaat Rio mulai kesulitan mengucapkan [Paste] didalam hatinya, kini dihadapannya terdapat berpuluh-puluh lapisan batu yang segera melaju pesat kearah Rey bagaikan sebuah cheat dalam game yang muncul secara bertubi-tubi tanpa henti. Melesat dengan cepat dan kuat menghancurkan seluruh ekosistem hutan yang dilewatinya.

[Bagaimana Tuan, rencana saya?]

“…”

Disaat Nusa bertanya kepada Rio, ia tidak mendapatkan balasan apapun darinya. Sekitar satu menit kemudian, Rio tertawa terbahak-bahak dengan sangat kencang.

“AHAHAHAHAHA”

[Tu… an?]

Bagaikan seorang yang kecanduan narkoba, ia tertawa tanpa henti. Suara tawanya mulai menggema kesekitarnya. Setelah sekitar beberapa saat Rio terdiam secara tiba-tiba sehingga membuat Nusa khawatir jika otak Rio menjadi miring karenanya. Namun saat ia melihat kearah matanya, Nusa menyadari bahwa saat ini Rio tersenyum lebar hingga pupil matanya mengecil. Bagaikan seekor serigala yang bersiap menerkam mangsanya.

[Tu-Tuan?]

“…”

Tanpa sepatah katapun, Rio segera mengarahkan tangan kanannya kearah langit. Dibukanya lebar-lebar telapak tangannya, lalu—

[Create]

—Ia pun segera mengaktifkan kemampuan untuk membuat sesuatu yang diinginkannya menggunakan [Mana] yang ia miliki.  

Frey (Ledakan) à Phyro (Api) à Sript (Spiral) à Trof (Padat) à Srack (Tepat) = Helvanya Phyro Explosion

Mendengar ucapan Rio, Nusa sontak kaget dan kehabisan akal dengan apa yang akan Rio lakukan selanjutnya setelah menciptakan kemampuan yang sama oleh apa yang diciptakan Rey beberapa saat lalu.

Kurang dari beberapa menit, diatas kepala Rio tercipta sebuah tabung api yang menyala terang. Tabung api yang dikelilingi oleh lidah api yang terkonsentrasi disekitar tabung tersebut membuat kemampuan [Helvanya] yang digunakan Rio jauh melebihi Rey. Setidaknya itulah yang Nusa rasakan.

[Resize]

Sebelum tabung tersebut mulai membentuk spiral, Rio kembali menggunakan kemampuan [Resize] untuk merubah ukurannya menjadi sangat besar bahkan lebih besar dari yang Rey gunakan beberapa saat lalu.

Selagi Rio tersenyum dengan sangat lebar, ia kembali menggunakan satu kemampuannya lagi. Kemampuannya kali ini membuat Nusa hingga kehabisan kata-kata dan mulai terlihat panik karena halaman depannya mulai terlihat seakan-akan basah setelah tersiram air yang mengalir.

[Copy]

Selesai mengucapkan hal tersebut, Rio mengarahkan pandangannya lurus kedepan dan,

“Aha!”

Dilepaskannya [Helvanya] selagi tersenyum puas. Walaupun ia tidak melihat siapapun dihadapannya selain jalur lurus yang tercipta oleh serangannya beberapa saat lalu yang menghancurkan pepohonan yang berada dihadapannya, Rio layaknya sebuah senapan mesin—

[Paste]

—Mengaktifkan kemampuan ini berkali-kali seperti apa yang ia lakukan beberapa saat lalu menggunakan kerikil yang sudah diperbesar. Namun kali ini yang ia gandakan adalah [Helvanya Phyro Explosion], atau kemampuan peledak berskala besar.

“AHAHAHAHAHAHAHA”, diiringi oleh suara tawanya yang terdengar bagaikan orang yang sudah tidak waras. [Helvanya] dilepaskan berkali-kali oleh Rio hanya untuk menuju kesatu target yaitu… Rey.

Sunday, February 12, 2017

[Nusantara] Chapter 33 - Rio Vs Kruzgar VI


Chapter 33 – Rio Vs Kruzgar VI

            [3rd Person Point of View]

            Suara ledakan besar terdengar dari arah Timur hutan. Suara ledakan yang sangat besar ini membuat hewan yang berada disekitar hutan [Skyp] berlari ketakutan ke luar hutan.

            “Kuhahaha!”

            Ditengah keheningan akibat ledakan yang terjadi beberapa saat yang lalu, Suara tawa seorang lelaki terdengar sangat keras menggema hampir keseluruh area hutan bagian Timur.

            Didepan tempat ia berdiri, sebuah cekungan besar tercipta akibat ledakan besar yang terjadi beberapa saat lalu. didalam cekungan itu terlihat sebuah aliran magma kecil yang tercipta akibat batu yang telah melebur akibat suhu panas yang sangat tinggi.

            Sepertinya kali ini riwayat bocah itu sudah benar-benar tamat

            Setidaknya hal itulah yang terlintas dipikiran lelaki dengan pakaian berwarna hijau itu, Rey.

            Cekungan besar yang berada dihadapannya itu adalah hasil dari kemampuan yang ia kerahkan untuk menghabisi anak remaja dengan rambut berwarna ungu, Rio.

            “Kuh… sayang sekali, bahkan mayatnya pun sudah tidak tersisa lagi”

            Hmm? Tunggu sebentar… mayatnya… sudah tidak bersisa lagi? Sial! Hal itu tidak mungkin… dilihat dari kemampuan bertahannya itu, seharusnya ia masih meninggalkan kerangka tubuhnya!

            Menyadari hal yang ganjil dihadapannya, Rey mulai bersiaga kembali. Baginya yang sudah melihat kemampuan bertahan Rio membuat dirinya yakin jika ia berhasil selamat dari serangannya.

            Dialihkan matanya kearah sekitarnya beberapa kali namun ia masih tidak dapat menemukan keberadaan dimana Rio berada saat ini.

            “Sial! Dimana bocah itu berada saat ini?”

            Selagi ia meningkatkan kewaspadaannya, Rey mulai bersiap untuk menggunakan kemampuan [Firo Assets] sekali lagi untuk meningkatkan perlindungannya. Ia melakukan hal ini karena mengingat senyum yang ditunjukkan oleh Rio disaat ledakan pertama dari kemampuan [Phyro Explosion].

            Sial! Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana bocah itu pergi? Jangan bilang ia melarikan diri?!

            Geram dengan tingkah Rio, Rey bersiap untuk mengerjarnya namun,

            “Ack!”

            Sebelum ia meninggalkan tempatnya berada, sebuah batu besar berukuran 4 hingga 8 kali lebih besar menghantam tubuhnya sehingga membuatnya terpental sangat jauh. Tidak berhenti disitu, beberapa batu besar dengan ukuran yang sama kembali menerjang tubuhnya. Satu… dua… tiga… empat… lima kali batu dengan ukuran yang sama mengenainya secara beruntun.

            “Ugh!”

            Sial! Sebenarnya apa yang terjadi?! Dari mana batu ini datang?!

            Kebingungan dengan serangan yang mengenainya secara tiba-tiba, Rey segera berusaha utuk membenarkan posisinya. Namun, karena serangan dari arah kiri Rey secara beruntun mengenai tubuhnya membuat ia kehilangan keseimbangan dan terus terpental semakin lama semakin jauh dan juga semakin cepat.

            Secara perlahan kemampuan [Firo Assets] yang saat ini ia gunakan berkurang secara cepat karena menahan serangan batu besar secara beruntun.

            Tunggu sebentar?! Kenapa [Firo Assets] terkikis begitu cepat?!

            Disaat ia sedang kebingungan karena kemampuan yang seharusnya bertahan hingga beberapa puluh menit kedepan menghilang begitu cepat, Rey mulai kehabisan akal dengan apa yang sebenarnya terjadi. Disaat ia mulai dapat menyeimbangkan tubuhnya kembali, ia segera menebas batu besar yang akan mengenai tubuhnya lagi.

            Ditebas olehnya satu persatu batu yang menuju kearahnya. Berkali-kali ia menebas batu yang mengarah kepadanya namun apa yang ia dapat hanyalah rasa lelah ditubuhnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa batu tersebut akan berhenti menyerangnya.

            Sebenarnya seberapa banyak [Mana] yang dimiliki oleh bocah itu hingga dapat membuat batu besar sebanyak ini?!

            Batu yang ditebas Rey hingga saat ini sudah mencapai puluhan. Bukannya ia tidak ingin menghindarinya dengan cara melompat kekiri, kekanan, maupun keatas namun batu yang menuju kearahnya menutupi seluruh arah tersebut. Lebih tepatnya total batu yang menuju kearahnya adalah 6 buah batu besar dengan ukuran yang sama dengan apa yang ia tebas saat ini.

            Sial! Kalau begini terus aku akan mati karena kelelahan terlebih dahulu!

            Disaat ia mulai kelelahan, kemampuan bertahannya, [Firo Assets] menghilang seutuhnya. Menyadari hal ini Rey mulai merasa sangat kelelahan dan kesabarannya mulai menghilang secara perlahan-lahan. Bukannya ia tidak mau untuk mengaktifkan kemampuannya lagi namun ia memang tidak bisa karena [Mana] yang dimilikinya sudah mencapai batasnya.

            “Cih!”

            Kalau begini terus, aku bisa mati!

            Disaat Rey mulai berpikir mengenai hal ini, serangan batu besar semakin lama semakin cepat. Sebelum ia menyadarinya.

            Sebuah ledakan besar terjadi tepat dihadapannya.

            Ledakan besar yang terjadi akibat sebuah bola api yang menerjang kearahnya mengenai serpihan batu hasil tebasannya sehingga membuat dirinya berhasil menghindari serangan langsung dari bola api itu. Namun tidak berhenti disitu,

            “Ap—?!”

            Jangan Bercanda! Kalau satu aku masih bisa menahannya dengan pedang [Magic Sword – Phyro Elemental] tapi kalau disengajakan meledak sebelum bisa kutebas sama saja itu kekalahanku sialan!

            Seperti apa yang ia pikirkan sejumlah bola api melesat kearahnya secara bersamaan. Lebih dari 5 bola api mengarah kepadanya dan bersamaan dengan hal itu serangan dari batu besar itupun berhenti sepenuhnya.

            Seperti apa yang telah Rey perkirakan, bola api itu meledak tepat sebelum mengenai tebasan pedangnya. Dengan kata lain tujuan bola api itu adalah menyiksa Rey secara perlahan-lahan.

            Berkali-kali bola api itu mengarah kepadanya secara beruntun menggantikan serangan dari batu besar yang berhasil ia tebas beberapa saat lalu. Setiap kali bola api itu akan mengenai ujung pedangnya, bola-bola api itu seakan-akan bergerak dengan kemauannya sendiri dan menabrakkan dirinya satu sama lain sehingga meledak sebelum tertebas oleh Rey.

            Ba-bagaimana bisa [Fire Ball] memiliki kemampuan ledakan sebesar ini?! Tidak mungkin?! Aku belum pernah melihat hal ini sebelumnya?! Jangan bilang dia itu… Revancy?

            “Jangan Bercanda!”

            Disaat ia meneriakkan hal itu, tepat diatas kepalanya ia melihat sebuah bola api besar berkumpul menjadi satu seakan-akan bergabung dan berubah bentuk menjadi sebuah tabung kecil. Setelah seluruh api berkumpul menjadi satu, hal selanjutnya yang terjadi membuat Rey tercengan karenanya.

            “Ja-jangan bercanda! Serius?!”

            Ba-bagaimana bisa?! Tapi bukankah… tunggu jika ia memang seorang Revancy maka hal ini mungkin saja terjadi!

            Dihadapan Rey tabung itu berubah bentuk sekali lagi dan kedua ujungnya berputar berlawanan arah layaknya baju yang sedang diperas. Kemampuan yang berada dihadapannya saat ini adalah hal yang ia kenal dengan sangat baik, kemampuan itu adalah,

            “[Helvanya Phyro Explosion]”

Bagaimana bisa?!

Hanya satu kata itu yang bisa dikeluarkan oleh Rey. Selagi ia kelelahan untuk berdiri, serangan dari bola-bola api kecil dihadapannya telah berhenti sejak beberapa saat yang lalu. baju yang ia kenakan saat ini sudah compang-camping karena terkena gelombang ledakan bola-bola api itu. Tubuhnya yang kini telah dipenuhi oleh luka membuatnya sulit untuk bernapas. Kakinya sudah mulai bergetar karena kehilangan hampir seluruh tenaganya. Dan yang tersisa darinya saat ini hanyalah sebuah kata-kata semua yang keluar dari mulutnya,

“Iblis terkutuk!”

Setelah ia mengucapkan hal itu, dipejamkan matanya secara perlahan selagi dirinya terjatuh diatas permukaan tanah dengan beberapa batang pohon yang telah hancur disekitarnya.

Spiral api yang terpantul dimatanya beberapa saat lalu mulai berputar dan menuju kearahnya dengan sangat kencang.

Jadi inilah akhir riwayatku? Kalah ditangan seorang bocah? Benar-benar memalukan….


Beberapa saat kemudian sebuah ledakan besar yang menandingi ledakan sebelumnya terdengar kembali dihutan [Skyp] bagian Timur.

Sunday, February 5, 2017

[Nusantara] Chapter 32 - Rio Vs Kruzgar V


Chapter 32 – Rio Vs KruzgarV

[1st Person Point of View – Rio As Center Point]

Entah apa yang sebenarnya gua katakan beberapa saat lalu, gua sendiri tidak mengerti mengapa gua berani untuk mengatakan hal seperti itu. Seumur hidup gua, ini adalah pertama kalinya gua memprovokasi seseorang.

Kelar hidup gua kalau begini terus

Setidaknya hanya itu yang bisa gua pikirkan untuk saat ini. selagi air keringat membasahi seluruh tubuh ini, gua berharap jika bandit itu tidak menyadari kalau sebenarnya gua sedang panik.

Memang benar tubuh gua saat ini sangat kebal. Tapi tetap saja jika sebuah ledakan terjadi secara tiba-tiba di depan mata gua, secara refleks gua tetep memejamkan mata. Jujur saja hal itu sangat menakutkan.

Seketika gua membuka mata, bandit sialan itu tersenyum lebar tanpa alasan yang jelas. Dilihat dari manapun, senyumnya sangat menjijikan. Tapi disatu sisi, senyum bandit itu lebih dari cukup untuk membuat gua terprovokasi.

Panas.

Hanya satu kata itu yang bisa gua pikirkan saat ini. sangat panas hingga gua mau membuka seluruh baju gua dan memilih untuk bertelanjang dada. Namun seketika gua melakukan hal itu, kemungkinan besar baju gua akan terbakar seketika jika gua telat memberikan [Magic Barier] beberapa detik saja.

Merepotkan.

Hanya itulah yang bisa gua rasakan saat ini. semua yang gua alami sejak kemarin, seluruhnya sangat merepotkan. Kalau dipikir-pikir lagi kenapa gua gak langsung lari aja sehabis gua merebut tas gua? Jawabannya sudah jelas. Itu karena dia menyerang gua lebih dulu.

Hmm? Apa ini? Mengapa apinya berkumpul didaerah dada semua?

Melihat pergerakan api disekeliling gua tidak wajar membuat gua sedikit kebingungan. Semua lidah api yang tersebar akibat ledakan dahsyat dari serangan bandit itu mulai terkumpul kembali disatu titik ditubuh gua. Tempat lidah api itu berkumpul tidak lain dan tidak bukan adalah dibagian dada kiriku. Tepatnya adalah didaerah jantung.

“Oi, Nusa?! Apa yang sebenarnya terjadi?!”

[Sepertinya serangan yang dilancarkan olehnya beberapa saat lalu hanyalah sebuah permulaan untuk serangan sebenarnya, Tuan]

“Serius lu?!”

[Serius Tuan. Namun Tuan tenang saja, karena saya yakin Tuan pasti bisa menahannya… Mungkin]

Buku rongsokan! “Mungkin” muka lu! Jangan memberikan jawaban ambigu disituasi seperti ini kenapa?!

Secara perlahan-lahan lidah api tersebut bergumpal dan seakan-akan mengendap menjadi sebuah lingkaran tipis layaknya sebuah bor.

Selagi gua berharap kepada keberuntungan, Lidah api tersebut semakin lama semakin terlihat padat. Hanya dengan melihatnya gua dapat mengira kalau kali ini serangannya akan lebih kuat. Selain itu jika gua harus membayangkan dada gua akan berlubang karenanya membuat perasaanku sedikit tidak nyaman.

Disaat gua sedang gelisah, bandit itu mengatakan sesuatu selagi memperlihatkan giginya.

“—Kekalahanmu, Bocah!”

Kekalahan? Jangan bercanda! Ini sudah bukan masalah menang atau kalah! Ini masalah Hidup dan Mati, Bandit Sialan!

Selagi gua terus mempertahankan sikap gua dihadapan bandit sialan itu, mungkin karena terpacu oleh adrenalin, gua sendiri tidak mengerti apa yang gua katakan kepadanya.

“Hee~ begitu, kah ?!”

“Hee~ begitu, kah ?!” Apanya?! Sebenarnya gua ngomong apa sih ini?! Mati gua kalau begini terus ceritanya!

Selagi gua berusaha keras berharap agar gua baik-baik saja, Bandit dihadapan gua mulai merapalkan sesuatu.

Oh Api yang menyelimuti lembah tak berujung dipadang Helvanya… bawalah petaka hilangkan anugerah… tunjukkanlah kemarahanmu…

Mantra.

Mungkin itulah ucapan yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia ucapkan dengan lantang.

Saat gua menyadarinya, hawa panas terasa sangat pekat dari arah dada kiri gua.

Sangat panas hingga membuat gua berkeringat hingga membasahi baju yang gua kenakan saat ini. disaat gua mengarahkan pandangan kearah dada kiri dimana hawa panas itu berada, api tersebut telah sepenuhnya berubah menjadi bentuk spiral.

Selagi gua gerah karena hawa panas ini, bandit itu melanjutkan ucapannya selagi tersenyum,

“Kaha! Rasakanlah wujud sesungguhnya dari seranganku ini—”

[Helvanya Phyro Explosion]

A-apa ini?! Spiral Apinya… berputar? Apa benar baik-baik saja?!

Ditengah kebingungan gua akan keadaan saat ini,

[Tenang saja Tuan, Untuk saat ini sepertinya masih akan baik-baik saja]

Oi! Ini buku bilang “untuk saat ini”, berarti masih ada kemungkinan kalau ini gak akan baik-baik saja kan ya? Seriusan gua mau pulang kalau gini terus ceritanya.

“—Inilah akhir dari keangkuhanmu, Bocah!”

Ditengah situasi genting ini, Bandit sialan itu mendeklarasikan kemenangannya.

Melihatnya mengucapkan hal itu selagi tersenyum membuat gua semakin kesal.

“Sial kenapa apinya gak bisa hilang?!”

Berkali-kali gua berusaha untuk memadamkan api itu namun, tidak sedikitpun usaha gua berhasil. Ditambah lagi, Spiral api dihadapan gua saat ini berputar semakin cepat dan semakin panas. Ukurannya pun semakin lama semakin membesar.

Apa benar Baik-baik saja?!

Sekali lagi gua mempertanyakan hal tersebut kepada diri gua sendiri. Tentu saja gua tidak mendapatkan jawaban yang gua inginkan.

“…”

Sekilas gua melihat kearah bandit itu. Seakan-akan ia mengucapkan sesuatu kepada gua namun tidak sedikitpun bisa masuk ketelinga gua karena kebisingan yang diciptakan oleh spiral api ini.

Semakin lama tubuh gua semakin terdorong secara cepat menuju kearah daratan. Awan dihadapan gua mendadak menjadi bersih karena terhempas oleh hempasan angin panas yang sangat dahsyat.

Daratan?!

Sesaat gua memikirkan hal tersebut, Suara keras terjadi disekitar tempat gua terdorong oleh spiral api ini. Seperti sebelumnya tidak sedikitpun rasa sakit yang dirasakan. Jika diperhatikan, wilayah disekitar tubuh gua hancur dan membentuk sebuah cekungan yang sangat besar dan dalam.

“Kah! Jika bukan karena [Skill Up] udah pasti gua mati, Sialan!”

[Tuan!]

Hmm?!

Senyap.

Sesaat tombak spiral api dihadapan gua selesai berputar, lidah api mulai berubah dan berpencar menjadi setipis kabut. Kabut itu secara perlahan-lahan mulai menyelimuti tubuh gua.

Apa ini?! Kabut?!

Uap panas terdengar berdesis dari sekeliling tempat gua berada. Tidak lama setelah seluruh kabut api itu menyelimuti seluruh permukaan disekeliling gua, sebuah ledakan dahsyat sekali lagi terjadi disekitar gua. Tidak salah lagi, Bandit sialan itu serius untuk melenyapkan gua.

Kalau begitu, jawaban gua cuma satu,

“Saatnya serangan balasan, Bandit Sialan!”

Kali ini pasti—

“—Gua Bunuh lu!”


Setidaknya sumpah itulah yang bisa gua ucapkan saat ini.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close