Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, December 4, 2016

[Nusantara] Chapter 23 – Mas Pocong



Chapter 23 – Mas Pocong


[3rd Person Point of View – Mas Jat As Center Point]

“Mas Jat ! Sepertinya… [Magic User] yang menghancurkan tempat ini adalah seorang pengguna bertipe [Enviro]”

“Aaah, tapi jika apa yang Mas Poc katakan benar”

Sebenarnya apa alasan ia menghancurkan hutan ini ?

Saat ini Mas Jat sedang berlari kecil selagi menghindari akar pohon yang terus berusaha mengikat kakinya. Disamping Mas Jat, seorang lelaki dengan kain putih diseluruh tubuhnya menghindari seluruh serangan dari akar pohon dengan cara melompat dengan sangat lincah sehingga tidak satupun akar pohon yang berhasil menyentuh dirinya.

“Tapi Mas Jat… Sampai kapan ane harus melompat menghindari akar pohon ini terus ? Capek tahu melompat terus…”

“Mas Poc itu Pocong, kan ?! Pocong buat apa bilang kalo lompat itu capek ?! Lagian Pocong bisanya juga cuma lompat saja, kan ?!”

“Tunggu dulu, Ma Jat ! Siapa bilang Pocong bisanya cuma lompat ?! Kami melompat bukan Karena paksaan tapi Karena memang lagi jadi Trend Center saja… Makanya banyak Pocong yang melompat !”

“Serius tuh ?!”

“Nn ! Serius”

Jadi selama ini ane ditipu ?! Ane kira Pocong memang bisanya Cuma lompat doang !

Mendengar perkataan dari Mas Pocong atau yang biasa disingkat dengan sebutan Mas Poc membuat jiwa muda Mas Jat terguncang. Pada dasarnya, Mas Jat itu hanya tubuhnya saja yang dewasa namun hatinya masih sepolos anak Tk… mungkin.

“Kami juga bisa terbang kalo mau… Beberapa juga ada yang lebih memilih untuk berjalan”

“Serius Mas Poc ?!”

“Nn ! Serius Mas Jat”

Kamvret !! Ane bener bener ditipu ! Apa-apaan sama perkataan “Kami juga bisa terbang kalo mau”, bukannya mendingan terbang ?! Lagian Trend Center itu apa
?! Dunia Setan tuh punya Trend Center juga ?!

Mendengar pengakuan dari Mas Poc secara tak terduga membuat Mas Jat bertekuk lutut dan segera memukul tanah dengan tangan kanannya selagi menggigit bibir bagian bawahnya. Siapapun yang melihat keadaan dan tingkah lakunya hanya dapat berpikir bahwa ia sungguh kekanak-kanakan.

Tunggu dulu ! Sehebat apapun Pocong pasti ada batasnya… Benar juga pasti ada batasnya ! Tidak mungkin hantu bertipe pocong yang tubuhnya terikat dan dibalut dengan kain putih dapat lebih hebat dari itu ! Selain itu… Mas Poc bisa apa ?! Ane belum pernah liat dia melakukan sesuatu sendirian ?! Tadi juga… Tidak tahu bagaimana caranya tapi ia sepertinya berhasil memotong akar pohon… Ah paling Cuma kebetulan ! Pasti Cuma kebetulan !

“Hmm… Pasti itu !”

Selagi memikirkan hal tersebut, Mas Jat mengatakan hal tersebut dengan suara pelan selagi menganggukkan kepalanya. Setelah ia terlepas dari rasa kagetnya Karena fakta mengejutkan tersebut, Mas Jat segera berdiri selagi memberikan tatapan kepada Mas Pocong seakan-akan ingin mengatakan Hmmm… Jadi hanya segitu saja kemampuanmu hah ?!. Tentu saja Mas Poc yang melihat Mas Jat menatapnya seperti itu menjadi kesal tanpa alasan yang jelas. Sebuah retakan kecil layaknya urat terlihat dari muka yang hanya tersisa sedikit daging dan tulang tersebut.

“Aaah ! Satu lagi Mas Jat”

“Apa~?”

Menanggapi panggilan dari Pocong, Mas Jat menjawab dengan nada yang dapat dibilang menjijikan. Nada yang seakan-akan terlihat sedang bernyanyi namun membuat mereka yang mendengarnya secara refleks ingin menghajarnya.

“Jika sudah sampai tingkat tertentu…”

“tingkat tertentu~ apa ?”

“Kami juga bisa [Teleport] loh !”

“…”

[Suara Petir Menyambar Entah Darimana Datangnya]

Sesaat mendengar perkataan dari Pocong, Mas Jat terdiam seketika. Seakan-akan ia mendengar suara petir yang sangat besar sehingga membuat jiwanya tergucang. Ekspresi menyebalkan yang ia tunjukkan beberapa saat lalu seakan-akan menghilang tanpa jejak yang jelas. Senyumnya berubah menjadi kaku. Walaupun matanya tidak terlihat dengan jelas karena ia menghadap kedepan, tapi dari tingkah lakunya dapat disimpulkan jika matanya kini menatap kosong seakan-akan ia sudah lari dari kenyataan. Mungkin terdengar agak sedikit berlebihan namun… Begitulah keadaan Mas Jat saat ini.

“Hebat kan Mas Jat ! Selain itu…”

            “…t…”

“Bahkan… Jika Mas Jat memperhatikannya, dibeberapa Film berkategori horor dimana Pocong jadi tokoh utamanya, Mas Jat dapat melihat adegan dimana Pocong dapat muncul tiba-tiba dan bahkan menghilang secara tiba-tiba, ya kan ?”

“…port…”

“Walaupun ane sendiri juga gak tau kenapa manusia bisa mengetahui kemampuan yang hanya dimiliki beberapa Pocong top didunia hantu, tapi contohnya memang seperti itu Mas Jat !”

            “…[Teleport]…”

            “Mas… Jat ?”

            Mas Pocong yang tidak peka dengan keadaan dari Mas Jat yang sejak tadi terdiam, terus berbicara layaknya sebuah senapan mesin yang terus menembakan 200 peluru dengan kecepatan tinggi tanpa berhenti sedikitpun hingga pelurunya habis ataupun Overheat itu tidak mendapatkan sedikitpun jawaban dari Mas Jat.

            Disisi lain, Mas Jat hanya bergumam dengan suara kecil yang bahkan tidak dapat didengar oleh Pocong. Sangat kecil namun apa yang ia katakana sejak tadi hanyalah mengulang-ulang satu kata…”[Teleport]”.

            Kemampuan yang menjadi roman para lelaki diseluruh dunia. Kemampuan yang tidak semua orang dapat menggunakannya. Kemampuan yang digolongkan kedalam kategori [Banned Ancient Magic]. Kemampuan yang bahkan dapat menggulingkan sebuah negara dan bahkan dapat menyebabkan perpecahan antar negara hanya untuk mendapatkan pengguna kemampuan tersebut.

            Dan dari semua orang… Dia… Ras dia… Pocong… Bisa Menggunakannya ?!

            “Haha… Hahahaha… Sudah jelas itu tidak mungkin, kan ?!”

“Mas Jat ?! Sejujurnya saya tidak mengerti mengapa Mas Jat tiba-tiba murung tapi, do-don’t mind…”

Mendengar Pocong yang berusaha menghiburnya, hanya membuat Mas Jat tambah terpuruk. Hal ini membuat Mas Jat hanya bisa tersenyum pahit.

[10 Menit Kemudian]

“Haaaaaa~ fuuuu~ Sip”

Lupakan masalah sepele itu, sekarang ada hal yang lebih penting

Setelah menarik napas panjang, Mas Jat yang sejak tadi sudah berada diluar jangkauan dari kemampuan [Enviro – Schrin (Bind)] mulai memperhatikan daerah disekitarnya yang secara tiba-tiba menjadi sunyi. Sikap Mas Jat sama sekali tidak berubah sejak pertama kali ia melihat keadaan hutan [Skyp] bagian Timur yang telah hancur berantakan. Walaupun terlihat panik diluar namun, didalam ia sebenarnya sangatlah tenang. Hal ini sudah cukup dibuktikan dengan sifat santai yang ia perlihatkan sejak tadi. Selain itu, walau ia sempat kaget Karena fakta mengejutkan dari Pocong, senyumnya tidak menghilang sedikitpun dari mukanya.

“Mas Poc !”

“Hmmm…”

“Sepertinya, kita sudah terkepung”

“Mas Jat…”

“Hmmm ?”

“Pft…! Mas Jat baru sadar”

“Grrrrr…”

Kamvret… Mas Poc kayaknya mau ketawa puas banget ini ya ?!

Seperti apa yang Mas Poc konfirmasi, saat ini disekeliling Mas Jat dan Mas pocong terdapat 9 bandit yang sedang mengitari mereka. Mereka semua dilihat dari manapun sudah bersiap untuk menyerang Mas Jat dan juga Mas Poc dari segala arah. Jika dilihat dari bekas memar yang berada disekujur tubuh mereka—

“Sepertinya… mereka juga korban, ya ?”

Terlebih lagi… korban yang berusaha mencari korban lainnya, kah ? Haaaa~ Kenapa selalu ada misi tambahan disaat ane sedang menjalankan misi dari [Guild], sih ?


Sunday, November 27, 2016

[Nusantara] Chapter 22 – Forest Condition



Chapter 22 – Forest Condition


[3rd Person Point of View – ??? As Center Point]

“Naaa~ apakah kondisi hutan ini memang seperti ini ya ?”

“Seingatku sih… tidak, Mas Jat”

“Haha… Hahaha… benar juga, lagipula ini kan baru 3 hari… Nah, ini baru 3 hari kan ya ? benar, kan ?! Gak ada unsur intrinsik kayak jatuh kejurang terus tiba-tiba terjadi time skip begitukan, ya ?”

Setelah keluar dari tempat dimana pemuda dengan panggilan “Mas Jat” itu tersasar, tidak lama berselang sekitar 2 hingga 3 jam, mereka berlimapun akhirnya tiba dihutan [Skyp] bagian Timur dengan dipandu oleh kedua anak kecil yang hanya memakai celana pendek… atau mungkin lebih tepatnya “Celana Boxer”.

Disaat Mas Jat melihat kondisi hutan bagian Timur yang terlihat hancur Karena suatu sebab yang tidak ia ketahui, membuatnya tidak yakin dengan apa yang ia lihat. Oleh Karena itu ia berusaha memastikannya dengan bertanya kepada seorang wanita disebelahnya. Namun, apa yang dikatakan oleh wanita itu bukanlah sebuah sanggahan melainkan jawaban yang hanya membuat Mas Jat bertambah pusing karenanya.

Ia tidak habis pikir sebenarnya apa yang terjadi selama 3 hari ia tersasar. Pasalnya 3 hari yang lalu saat ia melewati wilayah ini, ia tidak melihat adanya tanda-tanda kehancuran sedikitpun didaerah ini.

“Mas Jat, sebenarnya sekitar 6 hingga 7 jam yang lalu saat kami berdua sedang mencari jalan keluar—”

“—Kami tidak melihat adanya tanda-tanda hutan akan hancur seperti ini justru sebaliknya, Mas Jat… Hutan ini masih sangat rindang”

“Serius nih ?”

“Nn…”

Melihat kedua anak kecil itu menangguk menanggapi pertanyaannya, Mas Jat hanya bisa memegang kepalanya dengan tangan kiri selagi menenggakkan kepalanya kearah langit biru dengan gemerlap cahaya merah, biru, hijau, kuning, dan oranye secara bergantian.

Kalau begini ceritanya, bagaimana cara memberikan laporan ke [Guild]… Haaa~ mana mungkin ane bilang “Master ! Hutan [Skyp] bagian Timur sudah hancur lebur ketika saya tersesat dibagian [Crept] hutan [Skyp], [Krein Skyp] *Tehe”

[Crept], yang dikatakan oleh Mas Jat sendiri adalah sebuah wilayah diseluruh bagian [Pangea] yang memiliki karakteristik tertentu. Ada yang menghasilkan ilusi, ada yang bahkan dapat menghidupkan orang yang sudah tiada, bahkan ada juga yang menyebarkan gas berupa racun. Selain itu, [Krein Skyp] yang dikatakan oleh Mas Jat adalah wilayah dibagian Selatan hutan [Skyp] yang berbentuk labirin dan selalu berubah bentuk secara tiba-tiba dan dapat digolongkan sebagai [Crept] dengan peringkat “H”.

“Kacau dah !”

Selagi ia menggelengkan kepanya, Mas Jat menggerutu dengan suara yang sangat pelan sehingga hanya ia sendiri yang dapat mendengarnya. Menghembuskan napasnya berkali-kali, ia mulai mengamati keadaan hutan secara perlahan.

“Mbak Kun, ane mau minta tolong, coba cek wilayah disekitar sini dari atas…”

“Siap, Mas Jat !”

Mendengar permintaan Mas Jat, perempuan yang dipanggilnya dengan julukkan “Mbak Kun” itu tersenyum dan segera pergi menyusuri hutan dari atas setelah memberikan jawaban dengan nada bersemangat kepada Mas Jat.

“[The Tuyuls], kalian coba cari apa yang sebenarnya menyebabkan wilayah ini jadi seperti ini”

“Oke”

“Si-siap”

Kedua anak kecil yang dipanggil dengan sebutan [The Tuyuls] segera melaksanakan perintah dari Mas Jat dan segera mencari dari arah atas pepohonan.

“Haaa~”

“Mas Jat ?”

“Hmm ?”

“Kalo ane ? Ane harus ngapain ?”

“Mas Poc mah udah diem aja sana dipojokkan”

“Jahat !”

Mengabaikan kalimat terakhir dari lelaki yang dibalut oleh kain putih disekujur tubuhnya, Mas Poc, Mas Jat segera berjalan mengelilingi wilayah bagian Timur hutan.

Sebenarnya apa yang terjadi ? Tanah di wilayah ini hancur parah seperti ini… Selain itu juga, jika diperhatikan sepertinya ini akibat… Badai ?

“Tapi… Ane belum pernah dengar jika diwilayah hutan ini mengalami badai”

Selagi ia memeriksa wilayah disekitarnya, Mas Jat memegang beberapa ranting yang telah terpisah dengan batang pohon dimana ia seharusnya berada. Dipegangnya secara perlahan ranting pohon tersebut. Namun, seperti yang telah ia duga, ia tidak menemukan tanda bahwa ranting tersebut terkena air hujan.

“Mas Jat !”

“…”

Tapi… Jika bukan Karena badai lalu apa ? Apakah mungkin… [Magic User] ?

Mengabaikan ucapan dari Mas Poc, Mas Jat berusaha menganalisa setiap kemungkinan yang dapat ia pikirkan.

Diperhatikannya sekali lagi wilayah hutan yang telah hancur ini, namun satu-satunya kesimpulan yang dapat ia pikirkan selain badai hanya satu—

“[Magic User]”

Menggumamkan kalimat tersebut dengan suara yang sangat kecil, Mas Jat mengalihkan pandangannya kearah depan dan segera berjalan dengan langkah yang cukup cepat.

“Mas Jat !”

“…”

Tapi… Untuk apa ? Untuk apa seorang [Magic User] menggunakan kemampuannya ditempat seperti ini ? Kalau sampai hutan ini hancur, bagaimana bisa ane dapat makanan gra— melaporkan hal ini ke [Guild]…

Tenggelam dalam pemikirannya, Mas Jat sekali lagi mengabaikan panggilan dari lelaki yang ia panggil dengan sebutan Mas Poc tersebut.

Menaruh tangan kanan didagunya, Mas Jat mulai berpikir dengan serius. Ia memikirkan mengenai alasan apa yang membuat seorang [Magic User] menggunakan kemampuannya ditempat seperti ini. Selain itu, semua orang di wilayah [Kekaisaran Mangaka Sinanoide] telah mengetahui jika siapapun yang berani menghancurkan hutan [Skyp] maka hukuman yang mereka terima akan sangat berat. Bagaimanapun juga ada yang mengatakan jika hutan ini adalah salah satu tempat yang berhasil menyelamatkan kekaisaran saat terjadi kelaparan masal Karena sebuah wabah penyakit yang menyebabkan seluruh pangan terkontaminasi dan siapapun yang memakan makanan tersebut akan kehilangan nyawanya dalam hitungan kurang dari 2 minggu.

Negara lain ? Tunggu ! Jika dipikirkan lebih jauh, untuk apa mereka mencari masalah dengan Kekaisaran ? Dilihat darimanapun, jika mereka mencari masalah dengan Kekaisaran, sama saja mereka mencari masalah dengan ke-11 negara lainnya… Bagaimanapun, Kekaisaran adalah wilayah netral…

“Atau mungkin… Invasi ? ”

Berjalan dengan langkah yang cepat, Mas Jat terus berpikir selagi matanya terus memperhatikan wilayah disekelilingnya. Baginya, menyerang Kekaisaran adalah sebuah tindakan bodoh. Siapapun pasti mengetahuinya, ditempat seperti ini dimana kekuatan sihir berada akan sangat sulit mempertahankan situasi netral jika tanpa adanya kekuatan yang sangat hebat untuk menghentikan invasi dari negara yang ingin mengambil sumber daya negara tersebut. Setidaknya sekuat itulah pertahanan yang dimiliki oleh Kekaisaran ini.

“Mas Jat !!”

“…”

Tapi jika, ini sebuah invasi, negara bodoh mana yang benar-benar berpikir bahwa mereka dapat mengalahkan Kekaisaran ?

“Mas Jat !!!”

“Berisik ?!”

Mendengar panggilan Mas Poc yang semakin lama semakin menyebalkan, membuat urat dikening Mas Jat muncul. Suara Mas Jat pun tanpa ia sadari meningkat.

“Apaan sih Mas Poc ?!”

“Itu ! Didepan Mas Jat !”

“Apaan Sih—Bukankah itu ?”

Dihadapan Mas Jat, beberapa akar pohon tiba-tiba menjulur keluar dari tanah lalu mendekatinya dan berusaha mengikat kakinya. Akar berwarna coklat sebesar bola basket yang mencoba untuk mengikat atau lebih tepatnya menjulur lalu melingkari kaki Mas Jat secara paksa berkali-kali digagalkan oleh Mas Poc. Entah cara apa yang digunakannya Mas Jat pun tidak memperhatikannya.

“Asal Mas Jat tahu saja, memotong akar ini satu persatu itu susah”

“Mas Poc, Bagus !”

“Ane gak tau apa yang bagus kata Mas Jat, tapi yang penting… Oke !”

Mengangkat ibu jari tangan kanannya kearah Mas Poc, Mas Jat pun tersenyum. Senyuman yang seakan-akan membuat siapapun yang melihatnya merasa tenang. Senyuman yang menunjukkan jika ia telah menemukan apa yang ia cari selama ini.

“Sepertinya… Apa yang ane cari ada disekitar sini !”

Sunday, November 20, 2016

[Nusantara] Chapter 21 – Gamble



Chapter 21 – Gamble

            [3rd Person Point of View – Rio As Center Point]

Gawat ! Gawat ! Gawat ! Mati gua kalau begini ceritanya !

            “…”    

Ditengah wilayah hutan yang hanya diiringi oleh lantunan suara hewan yang menyerupai jangkrik serta gesekan merdu dari setiap dedaunan yang diajak untuk menari oleh sang angin, suasana saat ini bagaikan sebuah harmoni yang dapat menenangkan hati seseorang yang sedang mencari ketenangan. Setidaknya itulah kesan yang akan diterima oleh seseorang jika mereka hanya kebetulan melewati suasana hutan yang seperti ini. Namun, hal ini tidak dirasakan oleh Rio yang saat ini sedang mempertaruhkan nyawanya bersembunyi dibalik semak-semak yang berada disekitar wilayah hutan tempatnya berada, [Skyp].

Keringat dingin telah membasahi sekujur tubuh Rio sejak beberapa saat yang lalu. tubuhnya gemetar karena bandit yang mengincar nyawanya berada tepat dibelakang semak-semak tempat ia bersembunyi saat ini. Seandainya Rio tidak meminta untuk melakukan reset skill, mungkin ia tidak akan berada pada kondisi seperti ini. Kondisi dimana bernapas saja, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.

[Suara Gerakan Disemak-Semak Yang Berada Dihadapannya]

Gawat ! Tanpa sadar gua malah bersandar ! Sial ! Tolong… jangan sadar ! Jangan sadar !

Menyadari kesalahannya, Rio menutup matanya selagi berharap agar bandit itu tidak menyadarinya. Berulang kali ia mengucapkan kalimat tersebut jauh didalam hatinya.

“Keluar kau bocah sialan ! Aku tahu kau berada disemak-semak !”

“…”

Ap—!

Mendengar ucapan Rey, sekali lagi muka Rio menjadi kaku. Tanpa sadar ia menahan napasnya dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dadanya terus berdebar-debar dengan sangat cepat seakan-akan menimbulkan efek suara yang terdengar badum… badum… badum…

“Jika kau keluar sekarang ! Mungkin aku akan mengampunimu bocah !”

Dasar pembohong ! Gak akan ada bandit yang benar-benar akan melakukan hal seperti itu sialan !

“…”

Menyanggah ucapan Rey dalam pikirannya, ekspresi muka Rio semakin lama terlihat semakin panik. Keringat yang pada awalnya sudah berhenti mengalir dari keningnya, sekali lagi membasahi tubuhnya. diremas rumput kering yang berada disekitarnya dengan sekuat tenaga selagi berusaha menekan rasa takutnya.

Sial ! Cepat pergi dari tempat itu, bandit sialan !

[Suara Ranting Pohon Kering Terinjak Dari Arah Sema-Semak]

“Ap—?!”

“!”

Tanpa Rio sadari, ia meremas ranting kering yang berada didekat tangan kirinya. Disaat ia mengeluarkan suara karena kaget, ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suaranya tidak terdengar oleh bandit tersebut.

Menyadari kesalahan fatalnya, Rio mulai mencari suatu cara untuk mengalihkan konsentrasi Rey. Diraba olehnya permukaan tanah secara perlahan.

Apa ini ?! Batu ? Ah ! Mungkin dengan ini !

[Suara Gerakan Batu Dari Arah Kanan Rey]

“!”

Disaat Rio melihat bahwa mata Rey sedang melihat kearah kiri, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk melemparkan batu berdiameter sekitar 4 hingga 8 cm kearah pohon dimana baju dalam berwarna hitam dengan lengan panjang dan sweater berwarna biru milik Rio berada.

“…”

Pergi dari tempat itu dan segera cek tempat yang gua lempar dengan batu tadi, otot sialan !

Menggernyitkan giginya karena kesal dengan Rey yang tidak kunjung berpindah tempat, Rio mencari batu sekali lagi. Disaat ia sudah mendapatkan batu dengan ukuran yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, sekali lagi ia melemparkan batu tersebut kearah kiri Rey.

[Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Kiri Rey]

“!!”

Selesai melemparkan batu tersebut hingga mengenai batang pohon, Rio segera melirik kearah Rey melalui celah yang berada disekitar semak-semak tempatnya berada. Berbeda dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu, kali ini ekspresi dari muka Rey terlihat kebingungan. Namun, seperti yang diharapkan dari seorang bandit yang sudah berpengalaman, ia tidak kehilangan ketenangannya.

Cepat bergerak dari tempat itu, sialan ! Kalau begini gua gak bisa kabur !

“Kenapa malah diam begitu sih ?!”

Semakin kesal dengan Rey yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, tanpa sadar Rio mulai menggumamkan ketidaksabarannya. Namun, tentu saja dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.

Semoga dengan ini, lu mau bergerak !

Mendapatkan batu dari sebelah kirinya, sekali lagi Rio melemparkan batu tersebut kearah pohon yang berada dibelakang Rey. Tentu saja Rey tidak menyadari tindakan Rio dan langsung menunjukkan raut muka kebingungan.

[Suara Gerakan Sesuatu Dari Arah Tenggara Rey]

“!!!”

Melihat ekspresi Rey yang secara tiba-tiba menjadi kaku, Rio menyadari sesuatu yang cukup penting. Walaupun terdengar penting, sebenarnya Rio saja yang tidak menyadari jika—

—Tunggu ! Bukankah ini sama saja dengan berhasil ?! Maksud gua… bandit itu bodoh ! Bukannya sejak tadi seharusnya bandit itu telah menyadari keberadaan gua ! Kalau bukan bodoh berarti apa ?! Selain itu… walaupun berbeda dengan rencana yang gua inginkan, sepertinya rencana ini… cukup untuk menghabiskan waktu !

“Dengan ini… gua bisa mengulur waktu !”

Mengatakan kalimat tersebut dengan suara yang sangat pelan, Rio mengepalkan tangannya dengan kuat. Senyum liciknya yang sempat hilang beberapa saat lalu kini mulai terlihat kembali dari raut mukanya.

***

[3rd Person Point of View – ??? As Center Point]

“Haaaa~”

“Masih jauh bukan ?”

“Oi, semvak ! Lu, udah berapa kali lu ngomong kayak gitu, hah ? Kalau lu ngomong gitu terus, ane yang dengernya juga jadi capek tau ! Haaaa~ tuh kan… ane tambah lemes…”

“Iya, tapikan—”

“Cong ! Mas Jat juga capek tahu ! Jika kau mengeluh seperti itu terus yang ada malah bikin tambah capek ! Apa kau dengar ?!”

“Hiiii~”

Jauh di kedalaman hutan [Skyp] bagian Selatan, terdengar suara beberapa orang yang sedang mengeluh.

Seorang pemuda yang memakai jaket menghembuskan napasnya beberapa kali Karena rasa Lelah. Pemuda yang berbicara menggunakan logat dari daerahnya dan juga memakai jaket berwarna putih, celana panjang berwarna coklat, dan juga sandal jepit berwarna hijau dibagian talinya serta warna putih dibagian bawah telapak kaki lelaki itu dengan tulisan “Selow” sebagai brandnya, sudah terlihat sangat kelelahan. Jaketnya yang basah, mukanya yang pucat, dan juga bibirnya yang pecah-pecah adalah bukti bahwa ia telah berjalan cukup jauh tanpa beristirahat sedikitpun.

Tepat dibelakang lelaki itu, seorang lelaki yang seluruh tubuhnya dibalut oleh kain putih dengan beberapa ikatan yang mengelilingi bagian tubuhnya terus mengeluh dan menanyakan pertanyaan yang sama setiap 5 hingga 10 menit sekali. Siapapun yang mendengar pertanyaan yang sama secara berulang akan merasa kesal saat berada dengan dengannya.

Dan satu-satunya yang menghentikkan pertanyaan dari lelaki yang dibalut kain putih itu serta memberikan tatapan dingin kepadanya adalah seorang wanita dengan rambut hitam panjang dengan baju putih… mungkin lebih tepatnya kain putih panjang yang bahkan menutupi seluruh tubuh dari bagian leher hingga kakinya. Wanita itu sejak beberapa saat lalu hanya memperhatikan pemuda dengan jaket berwarna putih selagi ia mengikutinya dari samping kanan pemuda tersebut.

“Tch ! Dasar Nenek tua… lu sih enak bisa terbang… nah gua ! Bisanya cuma lompat-lompat doang kayak kodok, capek tau ! Capek ! Lompat dari bawah jurang sampe sini tuh… lu kira gua pasukan Romawi yang perang cuma bawa 300 pasukan apa hah ?!”

Menggumamkan hal tersebut dengan nada yang sangat kecil, lelaki yang dibalut dengan kain putih itu, mengeluh kepada wanita yang sejak tadi hanya melayang mengikuti pemuda yang ia panggil dengan sebutan “Mas Jat” itu.

“Hiii~”

“Mas Jat, spertinya mereka berdua sudah kembali…”

Selagi berbicara dengan pemuda disampingnya setelah melemparkan tatapan dingin kepada lelaki yang menggerutu kepadanya beberapa saat lalu, wanita itu mengarahkan tangan kanannya yang tertutupi oleh kain putih kearah kanan dari pemuda tersebut.

Melihat kearah yang ditunjukkan oleh wanita disampingnya itu, 2 orang anak kecil yang kekurangan rambut dan memiliki tinggi badan kurang dari 140cm itu mendekat kearah pemuda itu—

“Mas Jat—”

“—Kami sudah menemukan jalan keluar dari tempat ini !”

“!”

Mendengar ucapan dari kedua anak kecil yang terlihat kembar itu, raut muka pemuda yang sejak beberapa saat lalu dipanggil dengan sebutan “Mas Jat” itupun akhirnya berubah menjadi raut muka senang. Sedikit tapi pasti, air mata dapat terlihat keluar dari kedua matanya. Senyuman mulai terlihat dari wajahnya.

“Akhirnya ane bisa keluar dari tempat kamvret ini ! Sudah 3 hari ane kesasar disini, akhirnya…”

Authors Note :

Waktunya kemunculan karakter baru :D

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close