Story Writter - Link

Link is one of Our Storry Writter in this Project. Link's Specialty in Fantasy Story. Check

Illustrator - RFTaurus

RFTaurus is one of our Illustrator in this project. Currently RFTaurus's partner is Link for [Nusantara] project. Check

Web Novel - Nusantara

Nusantara adalah kisah mengenai petualangan Rio (19 tahun) untuk mengubah sejarah suatu negara setelah ia mengalami pertemuan dengan sebuah buku bernama Nusa. Update : 1 chapter/week. Check

Sunday, February 12, 2017

[Nusantara] Chapter 33 - Rio Vs Kruzgar VI


Chapter 33 – Rio Vs Kruzgar VI

            [3rd Person Point of View]

            Suara ledakan besar terdengar dari arah Timur hutan. Suara ledakan yang sangat besar ini membuat hewan yang berada disekitar hutan [Skyp] berlari ketakutan ke luar hutan.

            “Kuhahaha!”

            Ditengah keheningan akibat ledakan yang terjadi beberapa saat yang lalu, Suara tawa seorang lelaki terdengar sangat keras menggema hampir keseluruh area hutan bagian Timur.

            Didepan tempat ia berdiri, sebuah cekungan besar tercipta akibat ledakan besar yang terjadi beberapa saat lalu. didalam cekungan itu terlihat sebuah aliran magma kecil yang tercipta akibat batu yang telah melebur akibat suhu panas yang sangat tinggi.

            Sepertinya kali ini riwayat bocah itu sudah benar-benar tamat

            Setidaknya hal itulah yang terlintas dipikiran lelaki dengan pakaian berwarna hijau itu, Rey.

            Cekungan besar yang berada dihadapannya itu adalah hasil dari kemampuan yang ia kerahkan untuk menghabisi anak remaja dengan rambut berwarna ungu, Rio.

            “Kuh… sayang sekali, bahkan mayatnya pun sudah tidak tersisa lagi”

            Hmm? Tunggu sebentar… mayatnya… sudah tidak bersisa lagi? Sial! Hal itu tidak mungkin… dilihat dari kemampuan bertahannya itu, seharusnya ia masih meninggalkan kerangka tubuhnya!

            Menyadari hal yang ganjil dihadapannya, Rey mulai bersiaga kembali. Baginya yang sudah melihat kemampuan bertahan Rio membuat dirinya yakin jika ia berhasil selamat dari serangannya.

            Dialihkan matanya kearah sekitarnya beberapa kali namun ia masih tidak dapat menemukan keberadaan dimana Rio berada saat ini.

            “Sial! Dimana bocah itu berada saat ini?”

            Selagi ia meningkatkan kewaspadaannya, Rey mulai bersiap untuk menggunakan kemampuan [Firo Assets] sekali lagi untuk meningkatkan perlindungannya. Ia melakukan hal ini karena mengingat senyum yang ditunjukkan oleh Rio disaat ledakan pertama dari kemampuan [Phyro Explosion].

            Sial! Sebenarnya apa yang terjadi? Kemana bocah itu pergi? Jangan bilang ia melarikan diri?!

            Geram dengan tingkah Rio, Rey bersiap untuk mengerjarnya namun,

            “Ack!”

            Sebelum ia meninggalkan tempatnya berada, sebuah batu besar berukuran 4 hingga 8 kali lebih besar menghantam tubuhnya sehingga membuatnya terpental sangat jauh. Tidak berhenti disitu, beberapa batu besar dengan ukuran yang sama kembali menerjang tubuhnya. Satu… dua… tiga… empat… lima kali batu dengan ukuran yang sama mengenainya secara beruntun.

            “Ugh!”

            Sial! Sebenarnya apa yang terjadi?! Dari mana batu ini datang?!

            Kebingungan dengan serangan yang mengenainya secara tiba-tiba, Rey segera berusaha utuk membenarkan posisinya. Namun, karena serangan dari arah kiri Rey secara beruntun mengenai tubuhnya membuat ia kehilangan keseimbangan dan terus terpental semakin lama semakin jauh dan juga semakin cepat.

            Secara perlahan kemampuan [Firo Assets] yang saat ini ia gunakan berkurang secara cepat karena menahan serangan batu besar secara beruntun.

            Tunggu sebentar?! Kenapa [Firo Assets] terkikis begitu cepat?!

            Disaat ia sedang kebingungan karena kemampuan yang seharusnya bertahan hingga beberapa puluh menit kedepan menghilang begitu cepat, Rey mulai kehabisan akal dengan apa yang sebenarnya terjadi. Disaat ia mulai dapat menyeimbangkan tubuhnya kembali, ia segera menebas batu besar yang akan mengenai tubuhnya lagi.

            Ditebas olehnya satu persatu batu yang menuju kearahnya. Berkali-kali ia menebas batu yang mengarah kepadanya namun apa yang ia dapat hanyalah rasa lelah ditubuhnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa batu tersebut akan berhenti menyerangnya.

            Sebenarnya seberapa banyak [Mana] yang dimiliki oleh bocah itu hingga dapat membuat batu besar sebanyak ini?!

            Batu yang ditebas Rey hingga saat ini sudah mencapai puluhan. Bukannya ia tidak ingin menghindarinya dengan cara melompat kekiri, kekanan, maupun keatas namun batu yang menuju kearahnya menutupi seluruh arah tersebut. Lebih tepatnya total batu yang menuju kearahnya adalah 6 buah batu besar dengan ukuran yang sama dengan apa yang ia tebas saat ini.

            Sial! Kalau begini terus aku akan mati karena kelelahan terlebih dahulu!

            Disaat ia mulai kelelahan, kemampuan bertahannya, [Firo Assets] menghilang seutuhnya. Menyadari hal ini Rey mulai merasa sangat kelelahan dan kesabarannya mulai menghilang secara perlahan-lahan. Bukannya ia tidak mau untuk mengaktifkan kemampuannya lagi namun ia memang tidak bisa karena [Mana] yang dimilikinya sudah mencapai batasnya.

            “Cih!”

            Kalau begini terus, aku bisa mati!

            Disaat Rey mulai berpikir mengenai hal ini, serangan batu besar semakin lama semakin cepat. Sebelum ia menyadarinya.

            Sebuah ledakan besar terjadi tepat dihadapannya.

            Ledakan besar yang terjadi akibat sebuah bola api yang menerjang kearahnya mengenai serpihan batu hasil tebasannya sehingga membuat dirinya berhasil menghindari serangan langsung dari bola api itu. Namun tidak berhenti disitu,

            “Ap—?!”

            Jangan Bercanda! Kalau satu aku masih bisa menahannya dengan pedang [Magic Sword – Phyro Elemental] tapi kalau disengajakan meledak sebelum bisa kutebas sama saja itu kekalahanku sialan!

            Seperti apa yang ia pikirkan sejumlah bola api melesat kearahnya secara bersamaan. Lebih dari 5 bola api mengarah kepadanya dan bersamaan dengan hal itu serangan dari batu besar itupun berhenti sepenuhnya.

            Seperti apa yang telah Rey perkirakan, bola api itu meledak tepat sebelum mengenai tebasan pedangnya. Dengan kata lain tujuan bola api itu adalah menyiksa Rey secara perlahan-lahan.

            Berkali-kali bola api itu mengarah kepadanya secara beruntun menggantikan serangan dari batu besar yang berhasil ia tebas beberapa saat lalu. Setiap kali bola api itu akan mengenai ujung pedangnya, bola-bola api itu seakan-akan bergerak dengan kemauannya sendiri dan menabrakkan dirinya satu sama lain sehingga meledak sebelum tertebas oleh Rey.

            Ba-bagaimana bisa [Fire Ball] memiliki kemampuan ledakan sebesar ini?! Tidak mungkin?! Aku belum pernah melihat hal ini sebelumnya?! Jangan bilang dia itu… Revancy?

            “Jangan Bercanda!”

            Disaat ia meneriakkan hal itu, tepat diatas kepalanya ia melihat sebuah bola api besar berkumpul menjadi satu seakan-akan bergabung dan berubah bentuk menjadi sebuah tabung kecil. Setelah seluruh api berkumpul menjadi satu, hal selanjutnya yang terjadi membuat Rey tercengan karenanya.

            “Ja-jangan bercanda! Serius?!”

            Ba-bagaimana bisa?! Tapi bukankah… tunggu jika ia memang seorang Revancy maka hal ini mungkin saja terjadi!

            Dihadapan Rey tabung itu berubah bentuk sekali lagi dan kedua ujungnya berputar berlawanan arah layaknya baju yang sedang diperas. Kemampuan yang berada dihadapannya saat ini adalah hal yang ia kenal dengan sangat baik, kemampuan itu adalah,

            “[Helvanya Phyro Explosion]”

Bagaimana bisa?!

Hanya satu kata itu yang bisa dikeluarkan oleh Rey. Selagi ia kelelahan untuk berdiri, serangan dari bola-bola api kecil dihadapannya telah berhenti sejak beberapa saat yang lalu. baju yang ia kenakan saat ini sudah compang-camping karena terkena gelombang ledakan bola-bola api itu. Tubuhnya yang kini telah dipenuhi oleh luka membuatnya sulit untuk bernapas. Kakinya sudah mulai bergetar karena kehilangan hampir seluruh tenaganya. Dan yang tersisa darinya saat ini hanyalah sebuah kata-kata semua yang keluar dari mulutnya,

“Iblis terkutuk!”

Setelah ia mengucapkan hal itu, dipejamkan matanya secara perlahan selagi dirinya terjatuh diatas permukaan tanah dengan beberapa batang pohon yang telah hancur disekitarnya.

Spiral api yang terpantul dimatanya beberapa saat lalu mulai berputar dan menuju kearahnya dengan sangat kencang.

Jadi inilah akhir riwayatku? Kalah ditangan seorang bocah? Benar-benar memalukan….


Beberapa saat kemudian sebuah ledakan besar yang menandingi ledakan sebelumnya terdengar kembali dihutan [Skyp] bagian Timur.

Sunday, February 5, 2017

[Nusantara] Chapter 32 - Rio Vs Kruzgar V


Chapter 32 – Rio Vs KruzgarV

[1st Person Point of View – Rio As Center Point]

Entah apa yang sebenarnya gua katakan beberapa saat lalu, gua sendiri tidak mengerti mengapa gua berani untuk mengatakan hal seperti itu. Seumur hidup gua, ini adalah pertama kalinya gua memprovokasi seseorang.

Kelar hidup gua kalau begini terus

Setidaknya hanya itu yang bisa gua pikirkan untuk saat ini. selagi air keringat membasahi seluruh tubuh ini, gua berharap jika bandit itu tidak menyadari kalau sebenarnya gua sedang panik.

Memang benar tubuh gua saat ini sangat kebal. Tapi tetap saja jika sebuah ledakan terjadi secara tiba-tiba di depan mata gua, secara refleks gua tetep memejamkan mata. Jujur saja hal itu sangat menakutkan.

Seketika gua membuka mata, bandit sialan itu tersenyum lebar tanpa alasan yang jelas. Dilihat dari manapun, senyumnya sangat menjijikan. Tapi disatu sisi, senyum bandit itu lebih dari cukup untuk membuat gua terprovokasi.

Panas.

Hanya satu kata itu yang bisa gua pikirkan saat ini. sangat panas hingga gua mau membuka seluruh baju gua dan memilih untuk bertelanjang dada. Namun seketika gua melakukan hal itu, kemungkinan besar baju gua akan terbakar seketika jika gua telat memberikan [Magic Barier] beberapa detik saja.

Merepotkan.

Hanya itulah yang bisa gua rasakan saat ini. semua yang gua alami sejak kemarin, seluruhnya sangat merepotkan. Kalau dipikir-pikir lagi kenapa gua gak langsung lari aja sehabis gua merebut tas gua? Jawabannya sudah jelas. Itu karena dia menyerang gua lebih dulu.

Hmm? Apa ini? Mengapa apinya berkumpul didaerah dada semua?

Melihat pergerakan api disekeliling gua tidak wajar membuat gua sedikit kebingungan. Semua lidah api yang tersebar akibat ledakan dahsyat dari serangan bandit itu mulai terkumpul kembali disatu titik ditubuh gua. Tempat lidah api itu berkumpul tidak lain dan tidak bukan adalah dibagian dada kiriku. Tepatnya adalah didaerah jantung.

“Oi, Nusa?! Apa yang sebenarnya terjadi?!”

[Sepertinya serangan yang dilancarkan olehnya beberapa saat lalu hanyalah sebuah permulaan untuk serangan sebenarnya, Tuan]

“Serius lu?!”

[Serius Tuan. Namun Tuan tenang saja, karena saya yakin Tuan pasti bisa menahannya… Mungkin]

Buku rongsokan! “Mungkin” muka lu! Jangan memberikan jawaban ambigu disituasi seperti ini kenapa?!

Secara perlahan-lahan lidah api tersebut bergumpal dan seakan-akan mengendap menjadi sebuah lingkaran tipis layaknya sebuah bor.

Selagi gua berharap kepada keberuntungan, Lidah api tersebut semakin lama semakin terlihat padat. Hanya dengan melihatnya gua dapat mengira kalau kali ini serangannya akan lebih kuat. Selain itu jika gua harus membayangkan dada gua akan berlubang karenanya membuat perasaanku sedikit tidak nyaman.

Disaat gua sedang gelisah, bandit itu mengatakan sesuatu selagi memperlihatkan giginya.

“—Kekalahanmu, Bocah!”

Kekalahan? Jangan bercanda! Ini sudah bukan masalah menang atau kalah! Ini masalah Hidup dan Mati, Bandit Sialan!

Selagi gua terus mempertahankan sikap gua dihadapan bandit sialan itu, mungkin karena terpacu oleh adrenalin, gua sendiri tidak mengerti apa yang gua katakan kepadanya.

“Hee~ begitu, kah ?!”

“Hee~ begitu, kah ?!” Apanya?! Sebenarnya gua ngomong apa sih ini?! Mati gua kalau begini terus ceritanya!

Selagi gua berusaha keras berharap agar gua baik-baik saja, Bandit dihadapan gua mulai merapalkan sesuatu.

Oh Api yang menyelimuti lembah tak berujung dipadang Helvanya… bawalah petaka hilangkan anugerah… tunjukkanlah kemarahanmu…

Mantra.

Mungkin itulah ucapan yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang ia ucapkan dengan lantang.

Saat gua menyadarinya, hawa panas terasa sangat pekat dari arah dada kiri gua.

Sangat panas hingga membuat gua berkeringat hingga membasahi baju yang gua kenakan saat ini. disaat gua mengarahkan pandangan kearah dada kiri dimana hawa panas itu berada, api tersebut telah sepenuhnya berubah menjadi bentuk spiral.

Selagi gua gerah karena hawa panas ini, bandit itu melanjutkan ucapannya selagi tersenyum,

“Kaha! Rasakanlah wujud sesungguhnya dari seranganku ini—”

[Helvanya Phyro Explosion]

A-apa ini?! Spiral Apinya… berputar? Apa benar baik-baik saja?!

Ditengah kebingungan gua akan keadaan saat ini,

[Tenang saja Tuan, Untuk saat ini sepertinya masih akan baik-baik saja]

Oi! Ini buku bilang “untuk saat ini”, berarti masih ada kemungkinan kalau ini gak akan baik-baik saja kan ya? Seriusan gua mau pulang kalau gini terus ceritanya.

“—Inilah akhir dari keangkuhanmu, Bocah!”

Ditengah situasi genting ini, Bandit sialan itu mendeklarasikan kemenangannya.

Melihatnya mengucapkan hal itu selagi tersenyum membuat gua semakin kesal.

“Sial kenapa apinya gak bisa hilang?!”

Berkali-kali gua berusaha untuk memadamkan api itu namun, tidak sedikitpun usaha gua berhasil. Ditambah lagi, Spiral api dihadapan gua saat ini berputar semakin cepat dan semakin panas. Ukurannya pun semakin lama semakin membesar.

Apa benar Baik-baik saja?!

Sekali lagi gua mempertanyakan hal tersebut kepada diri gua sendiri. Tentu saja gua tidak mendapatkan jawaban yang gua inginkan.

“…”

Sekilas gua melihat kearah bandit itu. Seakan-akan ia mengucapkan sesuatu kepada gua namun tidak sedikitpun bisa masuk ketelinga gua karena kebisingan yang diciptakan oleh spiral api ini.

Semakin lama tubuh gua semakin terdorong secara cepat menuju kearah daratan. Awan dihadapan gua mendadak menjadi bersih karena terhempas oleh hempasan angin panas yang sangat dahsyat.

Daratan?!

Sesaat gua memikirkan hal tersebut, Suara keras terjadi disekitar tempat gua terdorong oleh spiral api ini. Seperti sebelumnya tidak sedikitpun rasa sakit yang dirasakan. Jika diperhatikan, wilayah disekitar tubuh gua hancur dan membentuk sebuah cekungan yang sangat besar dan dalam.

“Kah! Jika bukan karena [Skill Up] udah pasti gua mati, Sialan!”

[Tuan!]

Hmm?!

Senyap.

Sesaat tombak spiral api dihadapan gua selesai berputar, lidah api mulai berubah dan berpencar menjadi setipis kabut. Kabut itu secara perlahan-lahan mulai menyelimuti tubuh gua.

Apa ini?! Kabut?!

Uap panas terdengar berdesis dari sekeliling tempat gua berada. Tidak lama setelah seluruh kabut api itu menyelimuti seluruh permukaan disekeliling gua, sebuah ledakan dahsyat sekali lagi terjadi disekitar gua. Tidak salah lagi, Bandit sialan itu serius untuk melenyapkan gua.

Kalau begitu, jawaban gua cuma satu,

“Saatnya serangan balasan, Bandit Sialan!”

Kali ini pasti—

“—Gua Bunuh lu!”


Setidaknya sumpah itulah yang bisa gua ucapkan saat ini.

Sunday, January 29, 2017

[Nusantara] Chapter 31 - Rio Vs Kruzgar IV



Chapter 31 – Rio Vs Kruzgar IV

[1st Person Point of View – Rio As Center Point]

Sejujurnya gua sendiri gak yakin apa yang akan terjadi jika gua harus menahan serangan api yang ia lakukan beberapa saat yang lalu.

Sangat Panas.

Setidaknya hanya kedua kata itulah yang mewakili apa yang gua pikirkan sesaat menerima serangan tersebut secara langsung.

Selain itu, jika bukan karena kemampuan Skill Up yang dialokasikan seluruhnya kepada Pertahanan, entah apa yang akan terjadi kepada badan gua. Mungkin gua akan mendapat luka bakar. Keadaan yang terparah adalah tubuh gua hangus tak tersisa. Mungkin.

 “Saaa~ mari mulai babak kedua, Bandit Sialan! Kali ini biar gua yang bikin lu lari ketakutan!”

Walaupun gua berusaha untuk memprovokasi bandit sialan itu, dibagian hati gua yang terdalam, gua ingin segera pergi dari hutan sialan ini. Entah apa yang akan terjadi sama gua seandainya bandit itu benar-benar serius untuk membunuh gua. Tunggu dulu, mungkin sejak pertama dia menyerang gua dengan pedang apinya itu, dia sudah berniat untuk membunuh gua. Kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya untuk apa juga gua memprovokasi dia?

Jangan bilang… sebenarnya gua itu bodoh? Nggak, nggak mungkin, haha… nggak mungkin gua bodoh… iya kan?

Lupakan soal itu, apa dia sudah gila? Membakar hutan dengan santainya seperti itu. Oi oi oi bandit sialan! Diluar sana… lebih tepatnya didunia gua berasal, banyak orang yang mencari udara sejuk dari hutan, sedangkan disini lu… lu dengan santainya membakar hutan… jangan bercanda, Sialan! Kalau kayak gitu terus, gua juga bisa-bisa kena pasal tentang illegal logging tau gak sih!

            Hmm? Tanahnya bergetar? A-ada apa ini? Gempa? Ha… haaah?!

            Tu-tunggu dulu! Apa mata gua gak salah lihat nih? Itu orang nginjek tanah aja, tanahnya yang hancur, lu kira lu Lulung apa oi!

            Jangan bilang, itu orang mau langsung menuju kearah gua apa? Jangan bercanda! Ta-tahan dulu! Gua gak yakin kalo gua masih bisa selamat dari serangan itu orang.

            [Tuan tenang saja, percaya dengan kemampuan bertahan Tuan]

            Ini buku sialan, dari tadi lu kemana aja! Giliran gua kesusahan lu gak ada, sial!

            Gua alihkan kedua bola mata ini secepat yang gua bisa namun, gua gak bisa menemukan si buku sialan dengan suara om-om genit—Nusa dimanapun. Sial, tidak ada waktu lagi buat gua mencari letak Nusa, yang harus gua pikirkan sekarang adalah gimana caranya agar gua bisa menghindari serangan dari bandit sialan itu.

            “Ap—!”

            Sial, apa-apaan dengan gerakannya itu, gak ada waktu buat gua menghindari serangan seperti itu. Terlebih lagi,

            Pedang! Oi oi oi! Lu serius gua bisa menahan pedang?! Maksud gua dengan tangan kosong?

            Sesaat pedang itu akan mengenai tubuh gua, secara spontan gua memejamkan mata gua selagi berharap agar serangannya itu meleset. Gua sendiri gak terlalu yakin apa yang sebenarnya terjadi disekitar gua namun, setidaknya gua bisa merasakan jika tangan, kaki, perut, dada, bahkan leher gua disentuh oleh sesuatu dan itu terasa sangat… geli.

            Jangan bilang pedang yang dipegangnya adalah mainan?! Tapi lebih baik gua membuka mata gua secara perlahan-lahan.

            Selagi gua membuka kelopak mata gua secara perlahan-lahan, gua bisa mendengar suara batang pohon seakan-akan terkena sesuatu yang kuat. Tidak hanya itu, gua merasakan angin semilir dan sejuk menerpa tubuh gua sejak beberapa saat yang lalu.

            “Apa segitu saja kemampuanmu, Bocah!”

            Haaah?! Ini orang ngomong apa?! “Apa segitu saja kemampuanmu”? Jangan bercanda! Harusnya gua yang ngomong gitu!

            Ini orang mikir gak sih?! Yang tadi itu lu sebut dengan “Serangan”?! Bahkan Cuma kerasa geli-geli doang buat gua.

“…”

Gi-gimana ini?! mukanya udah bangga banget lagi! Apa gua harus pura-pura kesakitan gitu?! Nggak, gak mau gua pura-pura kesakitan. Lagi pula, buat apa juga gua mikir kayak begitu?

“Sangat mengecewakan!”

Muka lu Semvak ”Sangat Mengecewakan”!

Emangnya lu pikir lu siapa, hah?! Seenaknya bilang kayak gitu! Lagi pula, serangannya tadi juga apa-apaan coba?! Geli doang yang kerasa!

“Benar sekali! Sangat mengecewakan… apa cuma segitu saja kemampuanmu, Bandit Sialan?!”

Hehem~ ba-bagaimana? Gua jamin lu kesel kan gua balikin ucapan lu seutuhnya.

Sejujurnya, saat ini keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuh gua. Kaki gua juga sudah gemetar sejak beberapa saat yang lalu. terlebih lagi, gua mau kencing.

Tu-tunggu sebentar, apa-apaan dengan tatapannya itu. Oi oi oi! Gua masih normal loh. Gua paham gua jomblo tapi tetap saja gua gak akan tertarik sama lu, Bandit Sialan!

Selagi gua memperhatikan gerak-gerik dari bandit didepan gua, suara angin berhembus melewati sela-sela pepohonan yang telah hancur terdengar sangat halus di telinga gua.

[Tuan! Jika Tuan membutuhkan sesuatu dari saya, Tuan cukup berbicara saja dengan suara pelan]

“Berisik lu! Sekarang lu dimana sialan?!”

Sejujurnya gua sangat kesal terhadap buku sialan ini, bukannya membantu, dia malah bersembunyi ditempat yang aman sendirian.

[Saat ini saya berada 10 meter diatas Tuan]

Hah?! Diatas? Ah!

Sesaat setelah gua melirikkan mata kearah atas, disana gua melihat sebuah buku berwarna biru kusam sedang melayang dengan tenangnya disekitar pepohonan.

Sial! Enak sekali dia bersantai ditempat seperti itu. Ah iya benar juga,

“Oi, sebenarnya seberapa kuat pertahanan yang lu kasih ke gua?”

[Menurut dugaan saya, itu cukup untuk menahan 3 buah ledakan nuklir Tuan]

Oi! Jangan seenaknya mengatakan hal tersebut jika hanya sebuah dugaan!

Tapi 3 buah nuklir, kah? Kok gua berasa jadi kecoa ya? Haaa~ lupakan soal itu, sekarang gua harus gimana nih? Itu bandit juga cuma ngeliatin gua terus dari tadi, jangan bilang dia hobi kearah situ lagi?!

Tapi jika diperhatikan lagi, hebat juga ya baju daleman gua bahkan gak robek sama sekali. Apa mungkin senjatanya itu beneran mainan ya?

“Bocah! Kukira kau sudah mati?!”

            “Jangan Bercanda, Sialan! Harusnya gua yang bilang begitu!”

            Lu pikir, lu doang yang mengira kalau gua sudah mati hah?! Gua juga sempet berpikiran hal yang sama, Sialan!

Tanahnya… bergetar lagi? Oi oi oi! Jangan bilang sekali lagi dia mau meluncur kearah gua?!

Hilang?!

Bukan, bukan menghilang hanya saja, terlalu cepat buat mata gua melihat pergerakannya! Tapi dilihat dari arah tebasannya,

Dia mengarah kaki kanan gua?!

Sesaat gua berpikir mengenai hal tersebut, bandit sialan itu telah melewati tubuh gua dan tentu saja untuk kesekian kalinya gua tebasan pedangnya dan kali ini dengan mata terbuka lebar. Namun satu hal yang dapat kupastikan,

Tebasan pedangnya… cuma geli-geli doang. Gak kerasa sakit sama sekali?!

“Naa~ Bandit sialan! Apa lu yakin kemampuan lu cuma segitu? Tolong serang gua dengan lebih serius lagi kenapa, Hah?!”

“Ap—?!”

Kaget! Mukanya keliatan kaget tuh hahaha… rasain!

“Kuhahahahaha… Menarik! Menarik sekali bocah!”

“Menarik, menarik saja dari tadi, berisik sialan!”

Ini orang otaknya masih waras gak sih? Capek gua dengernya, berisik!

Ah gawat, gua mau nguap lagi. Kalo itu orang liat gua nguap, otaknya bisa-bisa tambah miring.

“Baiklah kalau itu maumu, Sialan! Mungkin aku akan melayanimu dengan serius!”

Tuh kan! Gua bilang juga apa?! Ini orang otaknya emang udah geser kali ya?!

“Heee~ terus gua harus bilang ‘Wow!’, gitu?!”

“Bocah!”

Dari tadi itu orang bilang “bocah… bocah…” aja, kalo dari pandangan gua sih kayaknya yang bocah itu dia! Gak sadar kali ya?!

Uwah?! Gawat, entah kenapa kayaknya dia beneran serius dah ini?! urat diototnya aja sampai keluar semua begitu. Ditambah lagi, senyum-senyum gak jelas gitu, wah kacau, otaknya miring beneran ini mah!

“Ha!”

Sekali lagi, bandit sialan itu meluncur kearah gua. Kali ini kecepatannya bukanlah sebuah hal yang dapat dianggap enteng. Gua sendiri bahkan sudah tidak dapat mengikuti gerakannya lagi. Namun satu hal yang pasti, dia menuju langsung kearah gua.

“Haaaa~!”

“…”

Ap—? Oi! Jangan bercanda! Serangannya memang Cuma terasa geli namun… kenapa gua bisa melihat tanahnya seakan-akan bergerak sangat cepat melewati gua?! Seakan-akan… gua lah yang terpental dengan kecepatan tinggi?

Gua sendiri bahkan tidak dapat mendengar suara dari pohon yang hancur setelah terkena punggung gua. Tidak salah lagi, gua memang terpental akibat serangannya.

Setelah gua mengerti apa yang sebenarnya terjadi, gua melihat sebuah lingkaran sihir kecil berwarna merah menyala terbentuk tepat dihadapannya dan lidah api seakan-akan melahap tubuh dari bandit sialan itu.

“Ada apa dengan lingkaran sihir itu?!”

[Ah, itu adalah mantera [Firo Assets] Tuan]

Ini buku, ngomong tiba-tiba mulu!

“Lu bantu gua kenapa?! Ditambah lagi, ngapain lu ngikutin gua yang kepental hah?!”

[Ah! Soal itu, karena jika saya terpisah sejauh 1 kilometer dari Tuan, maka Tuan akan mati]

Dia bilang “Ah!”, jangan bercanda! Beritahu itu dari awal kenapa! Jangan anggap enteng nyawa orang oi!

“Sebenernya itu buat apa?”

[Tuan tenang saja, itu hanyalah sebuah mantera bertipe [Support], dengan kata lain tidak aka nada pengaruhnya dengan Tuan]

“Serius lu?”

[Serius]

Kenapa setiap dia bilang serius, gua merasakan sesuatu kalo dia itu lagi nipu gua? Gua harap itu cuma perasaan gua aja

Selagi gua berdebat mengenai hal yang tidak penting, entah mengapa gua kehilangan pandangan dari bandit sialan itu. Mungkin karena gua sudah terpental cukup jauh jadi gua gak bisa melihat bayangannya lagi. Baguslah kalau begitu, gua bisa pergi dari hutan ini.

Hmm? Tunggu sebentar, sebenarnya untuk apa gua kehutan ini dan melawan bandit-bandit sialan itu? Bukannya itu semua untuk mengambil kembali tas gua?! Sekarang tasnya ada dimana? Tasnya kan ada di deket jaket gua… kenapa gua sampe lupa! Mana sekarang gua cuma pake celana basket tanpa sempak lagi. Dingin!

Selagi gua terkejut akan kebodohan gua, gua merasakan sesuatu dari balik punggung gua. Sebelum gua sempat untuk memastikannya, gua saat ini telah terpental keudara setelah sesuatu mengenai punggung gua.

Ti-tinggi amat?! Si-siapa saja, tolong gua!

“Argh!”

Dia lagi?! Seriusan?

            “Haaa~!”

Oi oi oi! Sekarang dia mau menusuk dada gua pakai pedang mainan?! Seriusan nih! Otaknya udah miring kali ya? Lagi-lagi senyum! Ini orang bikin gua ngeri, seriusan takut gua dalam berbagai macam hal, gua takut!

Selagi bulu kuduk gua merinding melihat senyuman bandit sialan itu, entah apa yang terjadi namun, sejumlah api mulai berkumpul diujung pedang mainannya. Dan sesaat api itu sudah semakin pekat, ia meneriakkan….

[Phyro Explosion]

Entahlah apa yang ia teriakkan namun disekeliling gua mendadak menjadi sangat bising. Namun disatu sisi, gua tidak dapat menutup telinga karena tekanan angin yang sangat kuat menerpa seluruh tubuh gua, gua juga tidak begitu yakin. Satu hal yang pasti, udara disekitar gua jadi sangat panas. Panas sekali.

Tak lama setelah kebisingan itu menghilang selama beberapa detik, sebuah ledakan besar terjadi tepat didepan dada gua. Jujur saja gua sangat terkejut melihat hal tersebut. bagaikan saat lu sedang menaiki sebuah roller coaster yang pada awalnya lu merasa takut namun seketika kecepatannya bertambah, lu akan tersenyum tanpa lu sadari. Setidaknya itulah yang terjadi kepada gua saat ini. tersenyum tanpa alasan yang jelas.

Selain itu, udara disekitar gua saat ini sangat panas. Seriusan, bandit sialan itu paham betul untuk membuat orang berkeringat.

“Sudah kubilang… Apa hanya segini kemampuanmu—“

Tanpa kusadari, aku mengatakan hal tersebut. mengatakannya selagi menahan perasaanku yang bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang kurasakan. Senang, marah, bingung, semuanya bercampur menjadi satu. Namun, entah untuk alasan apa, aku tetap memilih untuk tersenyum lebar dihadapannya—

”—Bandit Sialan!”

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
 
close
   
close